Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 007


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Disha yang mulai bisa bersikap biasa lagi, harus kembali dikejutkan dengan pesan yang baru saja ia terima dari Iyan.


Iyan : Hei, Sweety ... Jangan lupa janji kita hari ini, ya! I love you.


Disha mengernyitkan keningnya. Belum pernah satu kali pun, Iyan memanggilnya 'Sweety'. Hal itu membuat Disha berpikir lagi. Ya, berpikir tentang siapa yang Iyan panggil dengan sebutan 'Sweety'.


Setelah memasukkan ponselnya ke tas, Disha kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu menyiapkan keperluan untuk kuliah hari ini. Ia tak mau ambil pusing dengan pesan dari Iyan, yang entah itu salah kirim atau memang sengaja mengubah panggilan untuknya.


"Bu, aku berangkat dulu ya! Hari ini, ada kelas di jam sepuluh. Mungkin nanti siang atau jelang sore, aku pulang." Disha mencium punggung tangan dan memeluk ibunya.


"Iya, Nduk. Nggak usah khawatirkan Ibu."


Setelah saling melepas pelukan, terdengar suara klakson dari luar rumah. Keduanya pun kompak menoleh ke arah pintu, yang sedang terbuka.


"Kamu dijemput Iyan, Nduk?"


"Nggak, Bu. Malahan, aku belum bilang kalau hari ini ada jam kuliah." Disha sedikit kesal, karena sedang tak ingin bertemu dengan Iyan.


Maryam tersenyum melihat ekspresi Disha. "Nduk, jangan terlalu diperlihatkan rasa kesalmu. Tersenyumlah, Nduk!" Maryam mengelus pipi Disha.


Disha pun akhirnya tersenyum. Ia berjalan ke luar untuk menemui Iyan. Maryam ikut berjalan di sampingnya.


"Pagi, Bu ... Dek."


"Pagi, Nak Iyan. Baru kelihatan lagi, dari mana saja kamu, Nak?"


Setelah menyalami Maryam, Iyan menjawab, "Emm ... Soal itu, tanyakan pada Disha saja, Bu."


Maryam langsung menoleh pada putrinya. "Kenapa, Nduk?"


Disha pun menjadi sedikit gugup. Namun, ia tetap menjawab pertanyaan ibunya. "Nggak apa-apa kok, Bu. Sudah ya, Bu.. aku berangkat dulu. Assalamualaikum ... Ayo, Mas Iyan!" Disha berjalan menuju mobil Iyan, tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Kita berangkat sekarang, Dek?" tanya Iyan setelah keduanya sudah ada di dalam mobil.


"Hmm ...!"


Mendapat jawaban seperti itu, Iyan hanya bisa membuang napas lesu. Ia tahu, pujaan hatinya tengah kesal. Jadi, Iyan memilih untuk diam, tanpa mengajaknya bicara lagi.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Disha ingin menanyakan sesuatu pada Iyan. Tapi, ia masih merasa kesal pada Iyan, kala mengingat pesan tadi pagi.


"Mas, aku mau tanya sesuatu. Tolong jawablah dengan jujur!" ucap Disha, tanpa menoleh sedikitpun pada Iyan. Tatapannya tertuju ke depan.


Iyan menoleh sekilas, lalu fokus menyetir kembali. "Tanya apa, Sayangku?"


"Siapa yang kamu panggil 'Sweety', Mas? Apakah itu Sisca?" Disha, masih dengan tatapannya yang lurus ke depan, namun tersungging senyum miring dari bibirnya.


"Aku bukan anak kecil atau remaja polos yang mudah dibodohi, Mas!" sambung Disha.


Iyan melirik Disha. "M-mak-maksud kamu apa, Dek?" Iyan menjadi gugup dan memelankan laju mobilnya. Lalu, ia pun memilih untuk menepi terlebih dahulu.


"Ada apa, Dek? kamu ini kenapa?" Iyan mencoba bertanya dengan nada selembut mungkin.


"Kok pagi-pagi sudah cemberut sih? senyum dong...!" Iyan menangkup wajah Disha. Hal itu membuat mereka berdua saling tatap. Kemudian, Iyan menarik kedua sudut bibir Disha dengan dua jari telunjuknya.


Disha lalu menepis tangan Iyan. "Nggak usah pura-pura manis, Mas!" Disha memperlihatkan ponselnya yang sudah membuka aplikasi warna hijau tersebut.


Tertulis di sana, nama Iyan beserta isi chat yang menurut Disha, itu bukan pesan untuknya. "Mas, salah kirim, hmm?" Disha memiringkan kepalanya, seraya menatap tajam Iyan.


Iyan masih bersikap tenang dengan membalas tatapan Disha dan menjawab, "Nggak salah kirim, Dek. Memang pesan itu buat kamu."


"I-itu.. 'kan kita ada janji, Dek. Kita mau ke—" jawab Iyan sambil mengusap tengkuknya. Kalimatnya terjeda, karena Disha memotongnya.


"Ke mana? Kapan juga kita chattingan, Mas?" Disha makin menyudutkan Iyan.


"Mas Iyan 'kan nggak pernah kasih kabar semenjak kita pulang dari toko buku waktu itu."


Iyan memainkan jarinya yang sudah menempel di kemudi mobil lagi. "Bukannya Mas nggak mau kasih kabar, Dek. Tapi, kamu sendiri juga nggak pernah tanya kabar Mas 'kan, Dek?"


Disha menggelengkan kepalanya pelan dan berdecak. "Sudah aku duga. Ya sudah, Mas. Terima kasih untuk sandiwara pagi ini!"


Iyan pun memilih untuk tak menjawab dan kembali melajukan mobil. Di antarnya Disha sampai ke universitas, tempat sang pujaan hati menempuh pendidikan. Tanpa berkata apa-apa, Iyan tetap melakukan hal istimewa untuk Disha, yaitu membukakan pintu mobil.


Namun, Disha sudah lebih dulu membuka pintu mobil. "Makasih, Mas. Aku bisa buka sendiri!" Disha memasang wajah datar dan ketus.


Mendapat perlakuan seperti itu, Iyan pun sempat ingin marah. Namun, ia berusaha untuk meredamnya. "Hmm ... Ya sudah, Dek. Mas langsung balik ya? Kamu baik-baik kuliahnya!"

__ADS_1


Perkataan Iyan, hanya dijawab dengan anggukan pelan beberapa kali oleh Disha. Kemudian, Iyan berbalik dan masuk ke mobil lagi. Setelah itu, barulah Iyan melesat pergi, meninggalkan Disha yang masih berdiri mematung di halaman kampus.


Tanpa Disha sadari.. dari seberang tempatnya berdiri, ada seorang pria misterius yang selalu memotret dan mengabarkan kondisi Disha pada tuannya.


***


"Assalamualaikum, Bu." Disha menghampiri Maryam yang tengah duduk di teras rumah, sembari mengupas ubi.


"Waalaikumsalam, Nduk. Kirain akan pulang sore. Eh, malah pulangnya lebih cepat. Hehehe."


Disha lalu duduk di samping Maryam. "Jam kuliahnya selesai lebih cepat, Bu." Disha meletakkan tas yang ia bawa, ke pangkuannya. "Ibu mau buat kolak ubi?"


"Ah.. enggak, Nduk. Ini, mau dibuat bola ubi goreng saja. Kamu suka nggak?"


"Apapun yang Ibu buat, aku selalu suka, Bu!" Disha memeluk ibunya sebentar. Lalu, ia bangkit dan masuk ke kamarnya.


Disha merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar dan memikirkan tentang pertengkaran kecil tadi pagi dengan Iyan. Ada rasa sedikit menyesal, tapi juga banyak kekesalan yang terpendam.


Disha membuang napas lelah. "Kenapa makin ke sini, hubunganku dengan mas Iyan jadi rumiy ya? Apakah bisa sampai ke pelaminan?" Disha bermonolog, sembari memukul pelan dahinya dengan punggung tangan.


Disha duduk dan mengambil ponsel yang masih tersimpan di dalam tasnya. Ada satu pesan gambar masuk di whatsapp. Pesan dari nomor tak dikenal, membuat Disha mengernyitkan kening. Lekas, Disha membuka pesan gambar itu dan terkejut dibuatnya. Bagaimana tidak?


Di foto itu, terlihat jelas wajah pujaan hatinya, Iyan. Duduk berdua bersama seorang gadis di sebuah cafe. Wajah dari gadis yang bersama Iyan tak terlihat, karena membelakangi kamera. Disha mengamati dengan teliti foto kiriman itu.


"Ini ... Ini di cafe milik Dio 'kan? Aku masih ingat dengan bagian dalam cafe itu." Disha makin memperbesar gambarnya, karena ingin melihat dengan jelas siapa gadis yang tengah bersama Iyan.


"Sisca?!" pekik Disha sembari menutup mulut setelahnya.


"Ada apa, Nduk? Kok kayak teriak barusan?" Maryam bertanya setelah mengetuk pintu kamar Disha.


Disha yang kaget, lantas meletakkan ponsel ke atas nakas dan berjalan menuju pintu. "Tidak ada apa-apa, Bu. Maaf ya.. Ibu jadi ikutan kaget," sesal Disha.


"Benarkah tidak ada apa-apa, Nduk?"


Disha mengangguk, meyakinkan ibunya bahwa ia baik-baik saja. Lalu, Maryam meninggalkan kamar Disha dan kembali ke dapur. Sedangkan Disha, senyumnya hilang setelah Maryam sudah berada di dapur.


"Jadi begini cara main kalian? lihatlah nanti, apa yang akan aku lakukan!" kukuh Disha, dengan sorot mata tajam. Tak lupa, ia membalas pesan dari si pengirim foto itu.

__ADS_1


Disha : Maaf sebelumnya, anda siapa?


Pesan yang Disha kirim langsung dibaca, namun belum ada balasan. Hingga saat malam tiba ....


__ADS_2