
"Kita ke rumah Disha nanti malam, itu keputusan Papa!"
Aslan dan Disha saling tatap, bingung. Lalu, Aslan berkata, "T-tapi, Pa —"
"Ssst ...! Niat baik, harus segera dilakukan. Sekarang, Papa dan Mama akan bersiap dulu," potong Bima, tak ingin mendapat penolakan dan alasan lagi.
"Disha ... kamu tidak apa-apa, jika malam ini kedua orang tua ku, berkunjung ke rumah mu?" Aslan memasang wajah bersalah.
Disha merasa kasihan Aslan. "Tidak apa-apa, Mas Aslan. Nanti, aku kabari Ibu dan mas Hamzah, juga mba Riyani."
"Terima kasih, Disha ...!" ucap Aslan, sembari tersenyum dan mengusap punggung tangan Disha.
Rita tak suka dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Lalu, ia bangkit dan pergi menuju lantai atas. Rita ke kamar, untuk bersiap, sesuai dengan perkataan Bima.
Bima yang masih duduk bersama Aslan dan Disha, mencoba untuk lebih meng-akrabkan diri, dengan Disha. Sesekali, Disha menatap kagum pada Bima, karena teringat dengan sosok mendiang ayahnya.
Aslan meminta ijin untuk keluar bersama Disha, sebentar. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Disha. Bima pun meninggalkan Aslan dan Disha, untuk menyusul Rita.
Aslan dengan wajah gugup, bertanya, "Disha, sebenarnya ini salah paham. Aku hanya ingi menghindari perjodohan dengan Elma. Tapi, sekarang jadi begini." Aslan menyugar rambutnya, merasa bingung.
"Aku juga bingung, Mas. Bagaimana kalau nanti, orang tua Mas Aslan meminta kita untuk menikah? Aku belum siap untuk menikah. Tentu Mas Aslan tahu, apa alasannya." Disha tertunduk lesu, setelah berucap.
"Maafkan aku, Disha. Maafkan aku ...."
Disha diam, tak menyahut. Hal itu membuat Aslan menjadi semakin tak enak hati. Lalu, terlintas ide dalam pikirannya. "Disha, bagaimana kalau kita nikah kontrak?" kata Aslan, berbisik.
Mata Disha membulat sempurna, dan langsung menoleh tak percaya pada Aslan. "Apa maksudnya, Mas?"
"Tenang, Disha. Begini, biar aku jelaskan ...."
Disha mendengar penjelasan Aslan. Sesekali, ia manggut-manggut. Bahkan, sampai membulatkan mata.
"Jadi, bagaimana? Apa kamu setuju?" Aslan bertanya dengan wajah penuh harap.
Disha berpikir sejenak. "Kalau soal itu, akan saya pikirkan dulu, Pak Aslan. Eh, maksudnya —"
"Hahaha. Disha, kamu ini memang lucu sekali ...!" potong Aslan, tak tahan melihat tingkah Disha.
Pipi Disha merona, malu. Ia menunduk dan kembali berkata, "Emm ... soal nikah kontraknya, akan aku pikirkan lagi nanti, Pak Aslan. Eh, Mas Aslan ...!" Disha menepuk jidat, di akhir kalimatnya.
Aslan terkekeh pelan. "Baiklah, Disha. Yang penting, malam ini tolong ijinkan kedua orang tua ku bertemu dengan keluarga kamu. Sekarang, telepon lah, Ibu atau kakakmu, ya!"
__ADS_1
Disha mengangguk, tersenyum. Lalu, ia mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam tas. Lekas, ia mencari nama Ibu nya di kontak, dan menelepon.
Karena telepon tak kunjung dijawab, Disha memutuskan untuk menelepon kakaknya, Hamzah. Namun, lagi-lagi Disha harus berusaha. Karena, Hamzah tidak menjawab telepon darinya.
Pilihan terakhir, ia menelepon Riyani. Dengan harap-harap cemas, ia menunggu teleponnya dijawab. Dan kemudian ....
"Halo, mba Riyani, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, dek."
"Mba, apa Ibu dan mas Hamzah ada di rumah?"
"Ada, dek. Cuma, mereka sedang sibuk menanam bibit baru di halaman belakang. Ada apa?"
"Begitu? Pantas saja, telepon dari ku, tak ada yang menjawab. Oh iya, begini mba Riyani ...."
"Oke, dek. Mba, akan sampaikan ini ke Ibu dan mas Hamzah. Nanti jangan lupa berkabar ya, dek ...!"
"Siap, mba. Ya sudah, assalamu'alaikum."
"Sip! Wa'alaikumsalam."
***
Lekas, Riyani membalas,
Riyani : Oke, dek. Ini aku, mas Hamzah dan Ibu, sudah siapkan semuanya. Hati-hati di jalan, ya!
Setelahnya, ia langsung kembali melanjutkan aktivitasnya. Riyani bersama Maryam, menyiapkan beberapa camilan. Kebetulan, hari ini ART di rumah Maryam tengah libur. Jadi, Maryam dan sang menantu yang terjun langsung ke dapur.
Hamzah berjalan menuju pimtu utama, setelah mendengar suara bel yang di pencet dari luar. Setelah pintu terbuka, terlihat Aslan dan Disha, bersama kedua orang tua Aslan.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya," sambut Hamzah, dengan badan setengah membungkuk. Lalu, ia mendekati Bima dan Rita, untuk menjabat tangan keduanya.
Bima menerima uluran tangan Hamzah dengan tersenyum dan berkata, "Panggil saja, Pak Bima."
Hamzah mengangguk dan membalas senyuman. "Baik, Pak Bima!"
Rita yang tadinya memasang wajah ketus, langsung berubah menjadi ramah. Karena, Bima memberinya tatapan yang seolah memperingati dirinya.
Kemudian, Maryam keluar bersama Riyani. Orang tua Aslan dan keluarga Disha, saling berjabat tangan dan berbalas senyuman. Tak lama setelahnya, semuanya masuk ke rumah.
__ADS_1
Aslan dan Disha yang masuk terakhir, sempat mengobrol sebentar sebelum sampai di ruang tamu. Disha sempat khawatir, kalau orang tua Aslan akan mengomentari tempat tinggalnya saat ini, yang mana rumah itu adalah pemberian Aslan.
Namun, Aslan berhasil meyakinkan Disha, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena, hanya ia dan Toni saja yang tahu, perihal rumah yang ditempati keluarga Disha.
"Terima kasih, sudah menerima kedatangan kami, Bu Maryam. Saya dan istri, beserta putra saya, datang ke mari dengan niat baik. Semoga saja, niat baik kami ini, bisa diterima juga," kata Bima, memulai pembahasan.
Maryam bingung mendengar perkataan Bima. Alisnya yang bertaut, membuat Bima menjelaskan lebih detail, maksud kedatangannya.
"Begini, Bu Maryam. Anak Ibu, Disha, tengah menjalin hubungan dengan anak kami, Aslan."
"Apa?!" pekik Maryam, Hamzah dan Riyani, bersamaan.
Disha menatap Aslan, kesal. Kesal, karena semua serba mendadak. Tapi, ia juga tak tega jika harus mempermalukan Aslan, dengan cara menyangkal pernyataan Bima.
"I-ibu ... sebenarnya, aku dan Tuan Aslan, m-maksudnya —"
"Saya dan Disha, sudah beberapa bulan ini menjalin hubungan. Dan ada niat menikah dalam waktu dekat," potong Aslan, yang tak tahan melihat kegugupan Disha.
Maryam, Hamzah dan Riyani, membulatkan mata, tak percaya. Hal itu membuat Bima tertawa. Tapi, tidak dengan Rita. Rita tetap saja memasang wajah datarnya.
"Jadi, kalian juga belum tahu soal ini? Hahaha. Kami berdua pun, baru tahu tadi sore," ujar Bima, sembari tertawa.
"Wah, ternyata kita sama-sama tidak tahu ya, Pak?" Maryam tersenyum kikuk.
"Benar sekali, Bu. Kami ingin, Aslan dan Disha menikah dalam beberapa hari lagi. Bagaimana? Apa Ibu setuju?" ucap Bima, tanpa berbasa-basi.
Maryam semakin terkejut dibuatnya. Bagaimana tidak? Ia belum lama menikahkan Hamzah. Dan sekarang, ia harus menikahkan Disha.
"Apa tidak terlalu cepat, Pak? Kami bahkan benar-benar baru tahu, soal hubungan Disha dan Nak Aslan."
Bima pun berpikir sejenak, sambil manggut-manggut. "Ya ... Ibu benar juga. Kalau begitu, bagaimana kalau bertunangan terlebih dulu?"
Maryam menatap Hamzah, meminta persetujuan dari anak pertamanya itu. Lalu, Hamzah pun mengangguk pelan. "Baiklah, Pak Bima. Kalau begitu, kita tanya pendapat Disha dan Nak Aslan juga."
"Ah, iya. Ibu benar sekali," sahut Bima, penuh semangat. "Mama, setuju 'kan, kalau anak kita bertunangan dulu? Tidak apa-apa ya, punya menantunya di tunda dulu. Hehehe," sambung Bima, menatap Rita.
Rita hanya mengangguk dengan senyum yang terpaksa ia sunggingkan. "Mama ikut keputusan Papa."
"Sip! Kalian berdua, bagaimana? Bertunangan terlebih dulu, bukan ide yang buruk 'kan?" Bima menatap Aslan dan Disha bergantian.
Aslan dan Disha yang berdiri di dekat orang tua masing-masing, hanya bisa saling melempar pandangan. Keduanya tak langsung menjawab, hingga akhirnya ....
__ADS_1
"Siapa yang akan bertunangan?"