Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 018


__ADS_3

Lalu, Sisca menangis, dan mulai mengingatkan tentang bagaimana awal mula kedekatan mereka, pada Iyan.


"Mas ...!" lirih Sisca, dengan sudut matanya yang mulai basah.


"Kamu sudah ingat sekarang, Mas? Mas Iyan juga sudah membujukku, untuk menyerahkan mahkota berharga milikku! jangan lupakan itu!" protes Sisca, dengan suara meninggi.


Untungnya, tidak ada orang, selain mereka berdua. Sisca mulai menangis pelan. Hingga akhirnya, Iyan melonggarkan cengkramannya, hingga benar-benar terlepas dari pipi Sisca.


Raut wajah Iyan, terlihat menyesal. "Maafkan aku, Sayang. Aku terlalu emosi," ucap Iyan, yang kemudian memeluk Sisca.


Sisca membalas pelukan Iyan. Wajah Sisca begitu bahagia, berbeda dengan Iyan. Iyan menyeringai licik, karena ia hanya berusaha untuk mengalah pada Sisca.


'Dasar bod*h! aku tidak akan mungkin luluh padamu dengan mudah, Sisca. Aku masih ingin mendapatkan Clara Felisha ...!' monolog Iyan dalam hati, dengan raut licik.


***


Di tengah perjalanan pulang, Aslan menelepon salah satu bodyguard yang sedang berjaga-jaga di restoran tadi, untuk segera datang menemuinya. Aslan merasa kepalanya semakin pusing, dan membuatnya harus menepikan mobil.


Setelah beberapa menit menunggu, sang bodyguard pun tiba di lokasi Aslan. Kemudian, tanpa menunggu perintah dari majikannya, sang bodyguard tahu, apa yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Aslan sudah duduk di samping bodyguard-nya. Ia masih memijat pelan kepalanya. "Pak Toni, kepala saya rasanya pusing sekali," keluh Aslan.


Toni menoleh sekilas pada majikannya. "Iya, Tuan. Tadi, Pak Iyan sempat memberi perintah pada pelayan restoran, untuk menaburkan sesuatu ke dalam minuman Tuan dan Nona Clara."


"Begitu rupanya? Pak Toni sudah dapatkan bukti-bukti kejahatannya?"


"Siap ... sudah dapat, Tuan!" jawab Toni, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Pak Toni ...!"


"Tidak perlu berterima kasih, Tuan. Oh iya, Tuan ... Nona Clara, apa dia terlalu banyak meneguk minuman yang terhidang tadi?"


"Iya, hampir habis satu gelas, Pak Toni. Sebaiknya, kita segera bawa dia pulang. Nanti, biar saya yang menjelaskan kejadiannya pada bu Maryam," ucap Aslan, dengan melihat sekilas ke belakang.


***


Sesampainya di rumah, Maryam langsung menyuruh Hamzah, untuk menggendong Clara ke kamar. Hamzah dan Maryam sama-sama ingin tahu, dengan apa yang terjadi pada Clara.


Maryam ke dapur, mengambilkan segelas su*u untuk Aslan. Setelah membawa Clara ke dalam kamar, dan menidurkannya, Hamzah langsung menuju ke ruang tamu. Di sana, Maryam dan Aslan sudah lebih dulu mengobrol.

__ADS_1


"Bagaimana kejadian awalnya, Aslan?" tanya Hamzah, dengan raut penasaran.


"Jadi ... begini, Mas Hamzah, Bu Maryam ...."


Aslan menceritakan kronologi kejadian, mulai dari awal masuk restoran, perdebatan kecil dengan Sisca, hingga akhirnya pulang dengan keadaan kepala yang terasa pusing dan berat, setelah meneguk minuman yang sudah tersaji, bersama makanan lain.


"Clara meminum jus, hampir habis satu gelas, Bu, Mas. Jadi, mungkin besok pagi, dia akan merasa mendingan. Kalau saya, kebetulan jus yang saya minum, hanya sedikit," ungkap Aslan.


"Tunggu! jadi, kamu biarkan adikku minum jus yang sudah jelas, ada obat biusnya?" tanya Hamzah, sedikit mendesak.


"Benar, Mas Hamzah. Saya terpaksa lakukan itu, agar Iyan tidak curiga. Maafkan saya, sekali lagi," sesal Aslan, dengan menangkupkan kedua tangannya.


Hamzah tertawa melihat reaksi Aslan. "Aslan, aku hanya bergurau. Bahkan, pak Toni selalu memberi kabar padaku, saat kamu sudah sampai di restoran itu."


Maryam yang tadinya tegang pun, ikut tertawa setelah mendengar penjelasan Hamzah. "Owalah ... Nang! Ibu kira, kamu mau meluapkan emosi pada Nak Aslan ku ini," ucap Maryam, sambil menatap lembut Aslan.


"Yang anaknya Ibu itu, aku atau Aslan sih, Bu?"


"Hah?" jawab Maryam, sambil melakukan gerakan berpura-pura tak mendengar.

__ADS_1


Lalu, ketiganya tertawa kompak.


"Tuan Muda ...!" Toni mendatangi Aslan, dengan wajah terburu-buru.


__ADS_2