Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 029


__ADS_3

Setelah melalui masa persidangan hampir dua bulan lamanya, akhirnya jatuh putusan hakim pada terdakwa; Iyan dan Sisca. Kedua terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun, dan membayar denda senilai 20 juta rupiah.


Aslan yang turut menemani keluarga Disha dalam persidangan tersebut, merasa lega. Disha memeluk Maryam, merasa bahagia dengan keputusan hakim, yang memberinya keadilan. Sedangkan Hamzah dan Riyani, menatap haru pada Disha.


Lalu, Hamzah, Disha dan Maryam saling berpelukan. Tak hentinya mereka bertiga mungucap syukur dan terima kasih pada Tuhan dan juga Aslan.


"Jangan seperti itu, Bu. Aku hanya membantu sedikit. Selebihnya, Tuhan yang membantu," ucap Aslan, sungkan.


Maryam mengusap lengan Aslan dan berkata "Kamu benar, Nak. Tapi, kamu juga sudah sangat membantu dan berjasa untuk Ibu dan anak-anak Ibu. Terima kasih, Nak ... semoga —"


"Sudah, Bu. Ini sudah yang ke berapa kalinya Ibu mengucapkan terima kasih?" potong Aslan.


Maryam tersenyum. Dalam hati, ia bermonolog, "Semoga ... kamu bisa menjadi sosok yang bisa melindungi Disha, Nak Aslan." Mata Maryam mengembun, seiring dengan harapnya dalam diam itu.


Saat terdakwa akan dibawa kembali ke tahanan, Disha sempat meminta waktu sebentar untuk berbicara pada Iyan dan Sisca. Ia hanya mendapat waktu dua menit.


"Kalian berdua, terima kasih sudah mengajari aku rasa sakit ...! dari situ, aku bisa menjadi wanita lebih kuat lagi. Semoga, jika kelak kalian bebas, tak ada lagi Disha selanjutnya," ucap Disha, saat sudah berdiri di hadapan Iyan dan Sisca. Matanya menatap tajam Iyan dan Sisca bergantian.


"Kamu —" Sisca hendak menjawab Disha.


"Sudah lah, Sisca ...!" bentak Iyan, memotong ucapan Sisca. Intonasinya pelan, tetapi penuh penekanan.


Mendapat bentakan dari Iyan, Sisca menunduk malu dan sedikit kesal. Lalu, keduanya pun kembali berjalan keluar ruang sidang. Iyan menatap Disha sekilas, dengan sorot mata sendu.


Disha tak mempedulikannya. Ia langsung memalingkan wajah, saat Iyan menatapnya. Lalu, Iyan dan Sisca mulai hilang dari pandangan. "Selamat menikmati hukuman mu, Iyan. Maaf ... jika caraku membalas perbuatanmu itu, dianggap keterlaluan," monolog Disha dalam hati.


Mata Disha berkaca-kaca, karena masih tersisa sedikit rasa pada Iyan. Aslan yang menyadari hal itu, hanya bisa menatap nanar Disha. Tapi, ia bertekad dalam hatinya, untuk bisa menyembuhkan luka Disha.


"Bu, Mas, Mba ... Mas Aslan, kita pulang sekarang, yuk!" ucap Disha, menatap keempat orang tersebut bergantian.


Maryam dan tiga orang tersebut pun mengangguk setuju. Lalu, semuanya keluar, dan pulang. Sepanjang perjalanan, Disha lebih banyak melamun.


Aslan yang sedang menyetir, sesekali melihat Disha dari spion atas dashboard. Ia ditemani Hamzah, yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Disha, bersama Ibu dan kakak iparnya.

__ADS_1


"Nduk, apa kamu baik-baik saja?" Maryam merapatkan duduknya, lebih dekat dengan Disha.


"Iya, Dek. Kamu kok ya dari tadi melamun terus. Ada apakah gerangan, hm?" timpal Riyani.


Disha yang duduk di antara Maryam dan Riyani, hanya menggeleng pelan, lalu tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Bu ... Mba. Hanya teringat sesuatu," jawab Disha, menatap dua orang di sampingnya bergantian.


Riyani menatap Ibu mertuanya itu, dengan sorot penuh tanya. Maryam yang seolah paham dengan tatapan sang menantu, hanya menggeleng sambil mengedikkan bahunya, pelan. Lalu, Riyani pun manggut-manggut.


Disha memilih untuk diam kembali. Dalam pikirannya saat ini, tengah berputar memori bersama Iyan. Iyan, yang dulu memperlakukannya seperti seorang ratu. Iyan, yang dulu selalu bisa memahami kesedihan Disha, selain Ibu dan kakaknya.


Namun, setelah memori itu sampai pada saat menangkap basah permainan api antara Iyan dan Sisca, hati Disha kembali tersayat, sakit. Beberapa kali, Disha menarik napas dalam, dan menahan tangisnya. Saat membuang napas, Disha merasa sedikit lega, seakan hal-hal yang membuatnya melamun tadi, ikut pergi.


***


Sesampainya di rumah, Disha langsung berlari menuju kamarnya. Hamzah ingin mengejar, tetapi ditahan oleh Ibu dan istrinya. "Kenapa ... Bu, Dek?" Hamzah terheran.


"Nang ... saat ini, adikmu lebih butuh menyendiri dulu. Biarkan dia seperti itu. Dia tidak menjalani kebersamaan dengan Iyan dalam waktu singkat," ungkap Maryam.


"Ibu benar, Mas. Aku memang tak tahu apa-apa soal ini. Tapi, untuk sekarang biarkan Disha sendiri dulu!" imbuh Riyani.


Lalu, ia juga menyalami Hamzah, dan menangkupkan tangan pada Riyani. Setelahnya, Aslan berjalan menuju mobil, dan segera pulang. Ia juga sudah tak tahan melihat Disha, yang masih terbayang dengan masa lalu.


Saat akan menyalakan mobil, ponsel Aslan berdering. Terlihat nama di layar "Mama". Aslan berdecak, merasa malas menerima telepon dari mamanya. Ia sangat yakin, yang akan dibahas oleh mamanya, adalah soal kedatangan Elma.


Lalu, ia membiarkan ponselnya, hingga berhenti berdering. "Hah ...! akhirnya berhenti berdering juga. Pasti setelah ini, akan ada pesan dari Mama," gumam Aslan. Kemudian, Aslan kembali menyalakan mobilnya, dan melesat pulang.


Ponsel Aslan kembali berdering beberapa kali. Tapi, Aslan hanya membiarkannya saja. Masih dari orang yang sama, yaitu; mamanya.


Karena ponselnya terus saja berdering, akhirnya Aslan memutuskan untuk menepikan mobil dan mengangkat telepon dari mamanya.


"Halo, ma ...!" Aslan mendengarkan semua yang dikatakan mamanya, dengan raut agak masam.


Setelah sedikit lama bertelepon ... "Tidak, ma. Nanti, Aslan akan jelaskan di rumah," ucap Aslan, mengakhiri percakapan.

__ADS_1


***


Disha masih berada di kamarnya. Tidak menangis, tidak juga marah. Ia hanya sedang teringat dengan masa lalunya bersama Iyan.


Lalu, ia menumpahkan semua yang sedang ia rasakan saat ini, dengan menulisnya di notes ponsel. Sesekali, ia tersenyum sendiri, mengingat saat-saat yang ia lalui bersama Iyan.


"Apakah, akan ada seseorang yang bisa menyembuhkan luka ini? setelah cinta tulus ku dikhianati, hanya mas Hamzah yang aku percaya." Disha bermonolog, dengan tatapan sedih.


Diusapnya foto yang ada di atas nakas. Fotonya bersama Hamzah, saat masih kecil, hingga dewasa. Hamzah selalu tersenyum, merangkul Disha.


Suara ketukan pintu, membuyarkan pikiran Disha. Disha lalu bangkit dari ranjang, dan membuka pintu. "Ibu, ada apa?" Disha merangkul lengan Maryam, membawa ibunya masuk ke kamar.


"Nduk ... kamu sedang apa? kenapa sejak saat kita pulang dari persidangan, kamu mengurung diri di kamar?" Maryam khawatir. Ia kini, sudah duduk di atas ranjang bersama Disha.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya ingin sendiri. Mmm ... mas Hamzah dan mba Riyani di mana, Bu?" Disha celingukan, mencari keberadaan Hamzah dan Riyanti.


"Mereka sedang ke toko. Ibu tadinya akan pergi dengan mereka berdua. Tapi, Ibu tidak tenang meninggalkan kamu sendiri, Nduk ...!" ungkap Maryam, sedih.


"Ah, Ibu ini. Aku bukan anak kecil lagi, Bu. Hehehe."


"Bagi Ibu ...."


"Kamu tetap anak kecil yang harus diawasi," ucap Maryam dan Disha, kompak.


Keduanya pun tertawa. "Kamu ini, Nduk Nduk ...!"


Disha terkekeh, melihat reaksi ibunya. "Aku sudah hafal dengan semua yang Ibu katakan, kalau aku sedang sedih, marah atau ... ya, pokoknya aku tau. Hehehe," ucap Disha, yang kemudian memeluk ibunya.


Saat tengah saling berpelukan, ponsel Disha berdering. Maryam melepas pelukan, dan menyuruh Disha untuk mengangkat telepon.


"Nanti setelah bertelepon, jangan lupa makan, Nduk ...!"


"Siap, Ibu!"

__ADS_1


Setelah Maryam pergi, Disha langsung mengangkat telepon.


"Halo, mas Aslan ... ada apa?"


__ADS_2