
"Halo, Tuan Muda ...!" sapa seseorang dari seberang.
"Maaf, saya permisi sebentar. Ada telepon penting," ucap Aslan, seraya bangkit dan pergi ke samping restoran yang kebetulan, dekat dengan tempatnya duduk tadi.
"Ehm ...! Clara, eh, boleh 'kan, aku panggilnya Clara saja?" tanya Sisca.
Clara mengangguk. "Tentu saja boleh, Bu Sisca," jawab Clara datar, dengan tatapan tak suka.
"Hahaha. Begitu saja marah, Bu Clara. Apa kamu sebegitu inginnya dipanggil Ibu Clara, karena sudah berhasil diajak makan malam oleh atasan sendiri, hmm?" Sisca memberikan senyum meremehkan di akhir kalimat.
"Saya sering melihat sekretaris yang seperti kamu ini, Clara. Hanya ingin memanfaatkan kebaikan dari atasan, agar bisa menjadi Nyonya besar," sambung Sisca.
"Maksud Bu Sisca apa?" balas Clara, masih dengan eskpresi datarnya.
"Ya ampun, masa begitu saja tidak paha—" ucapan Sisca dipotong oleh Iyan.
"Cukup, Sisca! Kamu tidak sopan ...!" sergah Iyan, yang mulai emosi dengan tingkah Sisca. Matanya menatap tajam pada Sisca, dan membuat nyali Sisca semakin menciut.
"Maaf, ada apa ini? Clara ... ada apa?" tanya Aslan, setelah kembali dari bertelepon. Ia heran, karena baru saja pergi sebentar, sudah terlihat suasana yang sedikit tegang.
Sisca lalu berdiri, dan menjawab pertanyaan Aslan. "Aku hanya bilang ke Clara, kalau—" lagi, ucapan Sisca terpotong. Kali ini, Clara yang memotong ucapannya.
__ADS_1
"Katanya, saya terlalu terobsesi untuk bisa menjadi Nyonya besar, Pak Aslan." Clara menatap Sisca dengan tatapan menantang.
"Karena malam ini, saya diajak makan malam bersama Bapak di sini. Jadi, Bu Sisca mengira kalau saya itu ... ah, sudahlah. Pak Aslan pasti tahu maksud saya," sambung Clara, yang kemudian mengedikkan bahu, dan membalas tatapan intimidasi dari Sisca.
Aslan manggut-manggut. "Oh ... jadi, Bu Sisca mengira, kalau sekretaris saya ini, ingin menjadi Nyonya Aslan, begitu?" tanya Aslan, menatap Sisca, datar.
"I-iya ... siapa yang tahu 'kan, Pak Aslan?" Sisca tergugup, karena merasa malu. Tangannya terus saja memilin dress, yang dikenakannya.
"Tolong maafkan Sisca, Pak Aslan! Kita lanjutkan saja, acara makan malamnya. Silakan duduk kembali, Pak ...!" timpal Iyan, ikut berdiri dan berusaha untuk tetap ramah.
Aslan menatap Clara, meminta persetujuannya. Clara yang paham, mengangguk pelan, sambil memejamkan matanya sesaat. Lalu, Aslan pun duduk kembali, dan mulai memesan makanan.
Selesai acara makan malam, Aslan dan Clara, langsung pamit undur diri. Kini, keduanya tengah ada di tempat parkir. Tiba-tiba, Clara memegang kepalanya, sambil meringis kesakitan.
"Kamu kenapa, Clara?" tanya Aslan, panik.
Clara merasa pusing, setelah meminum jus yang terhidang tadi. Pun dengan Aslan, yang tiba-tiba ikut merasa pusing, tetapi masih bisa ditahan.
"Tiba-tiba, kepala saya pusing, P-Pak—" belum sempat kalimatnya terselesaikan, Clara sudah lebih dulu pingsan di dekat mobil.
Aslan dengan sigap, menopang tubuh Clara yang nyaris saja, jatuh ke aspal. Ia begitu panik, mendapati Clara pingsan. Kemudian, ia menggendong Clara ala bridal style, lalu memasukkan tubuh Clara ke mobil.
__ADS_1
Tanpa menunggu apapun lagi, Aslan segera melesat pergi, meninggalkan restoran yang memberinya sedikit kesan kurang mengenakkan. Itu karena, terjadinya kesalah pahaman antara Clara dan Sisca.
"Aargh ... sial!" umpat Iyan, dengan tangan mengepal, dan meninju udara.
Iyan dan Sisca, tengah mengintai Aslan yang akan pulang bersama Clara. Keduanya, Iyan dan Sisca, bersembunyi di mobil, yang letaknya tak jauh dari mobil Aslan.
Sisca yang melihat hal itu, hanya tersenyum miris. Ia benar-benar tak menyangka, kalau Sisca masih belum menjadi satu-satunya wanita untuk Iyan.
"Itu lah, Mas Iyan. Kamu selalu saja mempermainkan perasaanku. Kini, biar aku beri kamu, pembalasan sedikit," ucap Sisca pelan, nyaris tak terdengar suaranya.
"Kamu bilang sesuatu, Sisca?" tanya Iyan, geram.
"Iya, Mas. Aku bilang kalau kamu ini, ter-la-lu bodoh dan se-ra-kah!" jawab Sisca dengan sedikit mengeja, tetapi penuh penekanan pada kata terlalu dan serakah.
Iyan murka dan mencengkram pipi Sisca dengan kasar. "Kamu jangan lupa, Sayang ...! Kamu juga sudah berbohong pada Disha, dulu. Kamu selalu mengirim foto, untuk menggodaku. Kamu lupa, hah?!" bentak Iyan.
Sisca mencoba untuk melepaskan cengkraman Iyan di pipinya. Namun, rasanya begitu sulit, karena Iyan sedang dalam kondisi emosi.
Lalu, Sisca menangis, dan mulai mengingatkan tentang bagaimana awal mula kedekatan mereka, pada Iyan.
"Mas ...!"
__ADS_1