Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 042


__ADS_3

"T-Tuan Aslan!" pekik Disha.


Aslan terkekeh melihat keterkejutan Disha. "Iya, aku datang untuk mengantar ke pemakaman."


Disha lalu menghampiri Aslan dan berbisik, "Kenapa Tuan bisa tahu?"


"Itu karena Mas Hamzah yang memberitahu aku, Disha," balas Aslan berbisik juga.


Lalu, tepat pukul tujuh setelah selesai minum teh dan makan ubi rebus, mereka pun berangkat menuju pemakaman. Aslan dengan senang hati, mengantar keluarga Disha meski lokasinya agak jauh.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih lamanya, mereka pun sampai di pemakaman. Lalu, mereka semua segera menuju makam Adam. Hamzah memimpin doa kali ini. Selesai berziarah, mereka pun segera pulang.


Sesampainya di rumah Maryam ....


"Terima kasih, Nak Aslan," ucap Maryam setelah semuanya duduk bersama di ruang tamu.


"Untuk apa berterima kasih, Bu? 'Kan saya hanya mengantar saja."


"Pokoknya terima kasih, sudah mau mengantar kami pergi dan pulang kembali."


Aslan hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu, ia meminta ijin pada Maryam dan Hamzah untuk mengajak Disha pergi ke percetakan dan butik.


"Hari ini, saya rencananya akan melakukan pengecekan design undangan dan fitting gaun untuk yang terakhir, Bu, Mas," ungkap Aslan.


"Iya, Nak Aslan. Silakan pergi bersama Disha. Tapi, mulai besok kalian sudah tidak bisa pergi bersama lagi, ya!" kata Maryam memperingati.


"Lho, kenapa Bu?" Aslan terheran.


"Aslan, kamu ini bagaimana? Kalian akan menikah sebentar lagi. Jadi selama satu minggu, kalian berdua dipingit alias tak boleh bertemu. Hahaha," ujar Hamzah menertawakan kebingungan Aslan.


Aslan pun merasa malu dan salah tingkah. Lalu, Maryam mencubit pelan lengan Hamzah dan meminta putranya itu untuk berhenti menggoda Aslan. Setelahnya, Aslan dan Disha pun pergi.


***


Di rumah Aslan, Bima dan Rita yang menginap di rumah Aslan tengah merasa heran akan sesuatu. Mereka berdua tengah duduk santai menonton televisi di ruang keluarga.


"Pa, kenapa ruangan itu dijaga dengan begitu ketat ya? Apakah Aslan menyimpan benda berharga?" tanya Rita sambil menunjuk salah satu ruangan yang ada di dekat ruang kerja Aslan.


"Ya mana Papa tahu, Ma. Papa saja baru ke sini lagi. Dan, Papa juga baru lihat ruangan itu dijaga dengan ketatnya."


"Bahkan sampai dijaga dua orang bodyguard lho, Pa. Papa memangnya tidak penasaran?"


Bima menggeleng pelan dan kembali fokus menatap layar televisi. Hal itu membuat Rita menjadi kesal. Dikarenakan rasa penasarannya begitu besar, Rita akhirnya mengajak Bima untuk menghampiri bodyguard yang tengah berjaga di depan pintu. Namun, hasilnya nihil karena tak ada satu pun dari keduanya yang mau menjawab pertanyaan Rita.


Bima tertawa melihat tingkah Rita yang begitu kesal. "Sudah lah, Ma. Biarkan saja mereka menjalankan tugasnya. Mereka ini tak punya kewajiban untuk menurut pada kita, Ma," kata Bima.


"Tapi kita ini 'kan orangtua Aslan, Pa. Masa iya tetap tidak diberi tahu?"

__ADS_1


"Maaf, Tuan dan Nyonya Bima. Kami tidak bisa melanggar aturan kerja yang dibuat oleh Tuan Aslan," kata salah satu bodyguard.


Bima pun memaklumi alasan tersebut dan membawa Rita pergi dari ruangan itu.


***


Selesai mengecek design undangan dan fitting gaun, Aslan dan Disha langsung pulang.


"Disha, jangan lupa besok kita ada meeting dengan klien penting!" kata Aslan memperingati Disha.


"Siap, Tuan! Saya akan segera menyiapkan semua berkas-berkasnya."


"Ckckck. Kamu ini, Disha. Ya sudah lah, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok!" Aslan pergi dan melambaikan tangan pada Disha.


Disha pun membalas lambaian tangan Aslan. Setelah Aslan sudah tak terlihat lagi, barulah ia berbalik dan masuk ke rumah. Tapi saat baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari belakang Disha.


"Hebat sekali kamu, Disha. Entah dengan cara apa kamu bisa menaklukkan hati putraku, Aslan." Ya, Rita lah yang muncul tiba-tiba setelah kepergian Aslan.


Disha berbalik, menatap Rita dan berkata, "Maaf, Tante. Saya tidak pernah memakai cara yang kotor untuk bisa menaklukkan hati tuan Aslan."


"Tuan?" Rita terheran.


"Iya, Tante. Saya memanggil anak Tante itu, tuan."


"Ck! Ya ampun, selera putraku benar-benar rendah!" gerutu Rita pelan.


Disha yang mendengar sedikit, merasa sedih dan tak terima. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Ia juga tak mau melawan orang tua.


Maryam melihat Rita yang masih berdiri di hadapan dua orang anak dan ibu tersebut. Rita menjadi kecil nyalinya, setelah mendapat tatapan tajam dari Maryam. Lalu, ia pun memilih umtuk pulang.


"Lain kali, jangan dimasukkan ke hati ya Nduk, kata-kata dari bu Rita! Ibu tadi sempat dengar yang dia ucapkan meski pelan."


"Iya iya, Bu. Mba Riyani ke mana, Bu? Tumben sepi sekali. Biasanya 'kan jam segini mba Riyani lagi dengerin musik sambil beberes rumah."


"Dia sedang pergi ke bidan terdekat, Nduk."


Disha menjadi antusias setelah mendengar ucapan Maryam. "Jadi, mba Riyani hamil Bu?"


Maryam mengangguk gembira. "Selamat Nduk! Sebentar lagi akan ada yang memanggil kamu dengan sebutan tante."


"Ibu juga akan dipanggil nenek! Hahaha."


Disha dan Maryam terlalu asyik bercakap di depan pintu, hingga tak menyadari keberadaan Rita yang masih ada di sekitar rumah Maryam. Ia sengaja menguping pembicaraan antara Maryam dan Disha. Rita ingin mendapatkan bukti, kalau Disha adalah wanita yang mengincar harta Aslan saja. Namun, usahanya ternyata sia-sia.


"Sial! Aku kira akan dapat bukti yang bisa merubah pikiran mas Bima dan Aslan. Tapi, ternyata zonk ... Huh!" umpat Rita sambil berlalu pergi.


***

__ADS_1


Sementara di rumah Aslan ....


"Tuan, kapan kita akan membebaskan 'dia'? Orang tua Tuan sudah mulai menaruh curiga. Untung saja, mereka yang berjaga di depan pintu bisa menjaga rahasia dengan aman," ujar Toni.


"Pak Toni benar. Tapi, saya masih belum bisa membebaskan 'dia'. Setidaknya, tunggu sampai pernikahan saya selesai dilaksanakan," sahut Aslan.


"Baikl —"


Brak!


Pintu ruang kerja Aslan dibuka paksa oleh Rita. Dengan wajah kesal, Rita menghampiri Aslan.


"Pak Toni, saya ingin bicara empat mata dengan Aslan!" kata Rita tanpa menatap Toni.


Toni langsung mengangguk. "Baik, Nyonya. Saya permisi." Toni menatap Aslan sebelum meninggalkan ruangan. Setelah mendapat anggukan dari Aslan, Toni pun keluar.


"Sekarang sudah empat mata, Ma. Apa yang ingin Mama katakan?" Aslan memulai percakapan.


"Calon istrimu itu, Aslan. Dia kurangajar sekali pada Mama. Tadi, Mama datang ke rumahnya untuk menanyakan suatu hal penting. Tapi, dia malah menertawakan Mama!"


Mendengar kekesalan Rita, Aslan tentu saja tak langsung percaya. Karena ia yakin, Disha bukan tipe perempuan yang bermuka dua. "Sebentar ... Mama ke sana, jam berapa?"


"Baru beberapa menit yang lalu, Mama pulang dari sana. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, Ma. Nanti biar aku yang menegur Disha. Dan ya, akan aku cek CCTV di rumah Disha yang mengarah ke orang yang berdiri di depan pintu. Kalau buktinya kuat, aku akan menuruti perintah Mama untuk menjenguk Elma."


"Tapi, jika Mama kalah, Mama harus bisa nurutin apa yang aku. Oke?"


Rita menarik napas dalam. "Baiklah, Mama terima."


Sebenarnya, Rita hanya ingin membuat nama Disha jelek di mata Aslan. Namun, sepertinya cara yang dipakai Rita tak mempan pada Aslan.


"Kalau begitu, aku akan minta pak Toni untuk datang ke rumah Disha sekarang juga."


Rita membulatkan mata, terkejut. "Eh, tidak perlu seperti itu, Aslan! Sudah sudah, Mama yang bohong," kata Rita mengakui kesalahannya.


Aslan pun tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Mama-nya. "Ya ampun, Mama. Sudah aku duga. Hahaha."


Rita berdecak kesal dan hendak pergi dari ruangan Aslan. Lalu, ia teringat sesuatu dan kembali menatap Aslan.


"Aslan, Mama ingin tanya sesuatu."


Aslan menyipitkan matanya. "Tanya soal apa, Ma? Jika ini soal Elma, Aslan tak ingin membahasnya."


Rita mengajak Aslan duduk di sofa. "Begini, Aslan. Kamu, ada satu ruangan khusus 'kah? Tadi, Mama sama Papa lihat salah satu ruangan di rumah ini mendapat penjagaan ketat."


Rita merapikan kembali tas-nya. "Apa yang kamu sembunyikan, dari kami, Papa dan Maa, Nak?"

__ADS_1


Aslan menjadi sedikit salah tingkah saat akan menjawab.


"Katakan, Aslan!" desak Rita.


__ADS_2