Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 057


__ADS_3

Aslan mengusap tengkuknya. "S-se-sebebarnya, keluarga Disha belum mengetahui kebenaran tentang kecelakaan yang dialami oleh mendiang sahabat Papa."


Bima kembali melemas. "Aslan, Papa takut jika mereka tahu yang sebenarnya."


"Kita sama, Pa. Aslan juga takut kehilangan Disha."


"Tapi, kita tetap harus memberitahu yang sebenarnya pada mereka!" Aslan dan Bima berkata bersamaan dengan penuh tekad.


Keduanya lalu saling tatap dan mengangguk mantap.


"Aslan, kita tunggu momen yang pas untuk memberitahu mereka!"


"Baiklah, Pa."


Aslan lalu melajukan mobilnya lagi.


***


"Mas, besok pagi jadwal untuk USG. Bisa temani aku?" Disha sedang berada dalam pelukan Aslan.


Aslan dengan mata terpejam menjawab, "Tentu saja untukmu selalu bisa, Sayang."


"Gombal!" Disha menarik pelan hidung Aslan. Lalu kembali memeluk tubuh sang suami dengan manja.


"Untuk apa aku menggombal? Memang aku ini romantis untuk istriku." Tangan Aslan mulai bergerak lincah mengelilingi setiap bagian tubuh Disha.

__ADS_1


Hingga sampailah mereka pada penyatuan, lalu tidur dengan pulas.


"Aku tidak mau melihatmu lagi, Mas. Aku sudah tahu semuanya. Tentang kecelakaan Ayahku dan siapa pelakunya, aku sudah tahu!"


Aslan yang baru saja merebahkan tubuhnya itu, langsung tercekat. "B-bagaimana bisa kamu tahu, Disha?"


Disha melotot tajam pada Aslan. "Kamu tak perlu tahu dari mana aku mengetahuinya. Malam ini, adalah malam terakhir bagi kita untuk bersama. Dan mulai malam ini, aku sudah tak mau tidur satu kamar denganmu, Mas!"


Disha beralih menatap pintu kamar dan menunjuknya. "Silakan kamu keluar dari kamar ini, Mas. Kalau tidak ...."


"Kalu tidak, kenapa?"


Disha mencari sesuatu di atas nakas. "Kalau tidak, aku akan meminum ini semua." Disha memperlihatkan sebuah botol yang berisi obat tidur.


Mata aslan membulat. "Disha! Kamu jangan nekat. Ingatlah, kamu sedang hamil."


Hingga akhirnya, Disha pun menghampiri Aslan dengan langkah yang dihentakkan dengan keras. "Ayo sini, Mas! Kamu harus keluar. Harus keluar dari kamar ini! Aww!"


Disha jatuh terjerembab. Membuat Aslan langsung memekikkan nama Disha.


"Astaghfirullah ... Cuma mimpi." Aslan sudah bangun terduduk di atas ranjang. Ia mengusap wajah, lalu menyugar rambutnya.


Disha yang mendengar Aslan mengigau pun, ikut terbangun. "Ada apa, Mas? Kenapa seperti ngos-ngosan gitu sih? Habis lari malam?"


Aslan mengelap keringat yang membasahi kening dan pelipinya dengan tisu. "Tidak apa-apa, Disha. Hanya mimpi buruk. Ayo kita tidur lagi saja!"

__ADS_1


Keduanya kembali merebahkan tubuh. Kali ini, Aslan kesulitan untuk memejamkan mata. Ia teringat mimpi yang baru saja dialami. 'Ya Allah, aku tidak bisa dan belum siap jika harus melihat Disha pergi setelah mengetahui fakta tentang kecelakaan Ayahnya.'


Aslan lalu membaca do'a tidur, dan mencoba untuk memejamkan matanya. Ia tidur sambil menggenggam tangan Disha.


***


Suasana pagi hari di rumah sakit, sudah agak ramai. Disha sedang menunggu giliran untuk dipanggil. Aslan selalu menggenggam tangan Disha.


"Mas?"


"Hmm?" Aslan tak menoleh pada sang istri. Tatapannya lurus ke depan.


Disha menatap lekat Aslan dari samping. "Mas, kenapa seperti beda sekali hari ini? Aku tidak ke mana-mana lho. Aku di sini, di samping Mas Aslan."


"Ssst! Sudah sudah, nanti tak terdengar kalau suster memanggil giliran kita!"


Disha lalu menyandarkan kepalanya di pundak Aslan dan mengangguk.


Di belakang tempat duduk Disha dan Aslan, ada seorang wanita yang tengah mengawasi keduanya. Wajahnya tertutup masker. Matanya tak lepas dari dua orang yang sedang duduk mesra di depannya.


Kini, tiba giliran Disha untuk memasuki ruang praktek. Dokter Aisha menanyakan kondisi Disha, apakah ada keluhan atau tidak. Setelah mencatat beberapa hal, USG pun dilakukan.


"Kalian lihat, anak kalian insya Allah berjenis kelamin laki-laki. Selamat ya!"


Disha dan Aslan saling tatap dan tersenyum bahagia. Sedangkan wanita tadi, mendengar dari luar dan merasa kesal. Ia lalu pergi dari tempatnya berdiri, yaitu di depan ruang praktek.

__ADS_1


Tangannya mengepal sambil menggerutu. "Sial sial sial! Argh!"


__ADS_2