
Ternyata, yang datang adalah orang tua Elma. Kedua orang tua Elma memberi kabar pada keluarga Aslan, bahwa Elma tengah dirawat karen mencoba bunuh diri. Hal itu terang saja membuat Aslan, Bima dan Rita tercengang. Namun, Aslan tetap tak bisa bersimpati pada Elma.
Segala bujukan sudah dikatakan oleh Rita pada Aslan. Tapi tetap saja, Aslan tak mau ikut menjenguk Elma. Bima tak mempermasalahkan penolakan Aslan, dan memilih untuk pergi menjenguk bersama sang istri saja.
Kedua orang tua Elma pun berterima kasih karena Bima dan Rita mau menjenguk Elma. Mereka berdua tak merasa keberatan dengan keputusan Aslan yang memilih untuk pulang.
Lalu, Bima dan Rita berangkat ke rumah sakit bersama kedua orang tua Elma. Sesampainya di ruang rawat Elma, Bima dan Rita dipersilakan untuk masuk terlebih dulu. Karena menurut perintah sang dokter; hanya bisa dijenguk oleh dua orang saja.
Di dalam, Bima hanya menyapa sekilas karena memang ia tak suka pada Elma. Kedatangannya menjenguk Elma, hanya untuk menghormati orang tua Elma.
"Pa, kenapa Papa cuek gitu sih? Dia 'kan dulunya calon menantu kita," ketus Rita yang tak terima dengan sikap sang suami.
Bima membuang napas kasar. "Memangnya kenapa? Itu 'kan sudah berlalu, Ma. Yang akan jadi menantu kita itu Disha!"
Rita berdecak kesal dan memutar bola mata malas. "Sudahlah, Pa. Anak dengan Papanya sama saja! Papa keluar saja kalau begitu!"
"Tidak bisa semudah itu, Mama. Papa akan tetap di sini, agar bisa mendengar perbincangan kalian berdua."
Rita tak mempedulikan yang dikatakan suaminya itu. Ia fokus bercakap-cakap dengan Elma. Tak banyak yang dibahas, hanya Elma yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Aslan akan menikah dengan Disha. Lalu, Bima dan Rita pun pamit pulang pada Elma dan kedua orang tuanya.
***
Di rumah Aslan ....
Sebuah bingkai foto berukuran besar, baru saja datang dan diambil oleh Aslan. Terlihat di dalamnya, foto pertunangan Aslan dan Disha. Tanpa menunggu lama, ia langsung memajang foto itu di ruang tamu. Dengan meminta sedikit bantuan dari Toni, Aslan berhasil memajangnya.
"Terima kasih, Pak Toni. Bagaimana? Apakah fotonya terlihat bagus?" tanya Aslan dengan wajah yang masih berbinar.
Toni memberi tepuk tangan dsn tersenyum. "Wah, Anda benar-benar terlihat tampan, seperti tuan besar Bima. Serasi sekali dengan nona Disha."
"Ah, Pak Toni bisa saja. Hahaha."
Aslan dan Toni tertawa bersama. Lalu, terdengar suara seruan,
"Aslan! Kamu di mana, Nak?" Ya. Itu adalah suara Rita. Ia datang tanpa Bima.
"Duh, Pak Toni. Saya sedang tak ingin bertemu Mama. Pasti Mama akan bahas Elma," keluh Aslan.
Toni tak tega melihat Aslan, hingga akhirnya memutuskan untuk berbohong pada Rita. "Tuan Muda, masuklah ke kamar dan tidur. Atau masuklah ke kamar mandi, biarkan saya yang menahan Nyonya Rita."
__ADS_1
Kemudian, Aslan segera berlari ke lantai atas menuju kamarnya. Dibukanya lemari untuk mengambil satu set pakaian. Setelahnya, ia langsung masuk ke kamar mandi, menyalakan shower dan berpura-pura sedang mandi.
Sedangkan di ruang tamu, Toni masih berusaha menahan Rita yang memaksa masuk ke kamar Aslan. Tapi, Rita yang sudah habis kesabarannya, segera bangkit dan berjalan menuju kamar Aslan dengan langkah lebar. Wajahnya terlihat emosi.
Bugh ... Bugh ... Bugh!
"Aslan, buka pintunya!" Rita yang mengira kamar Aslan dikunci, terus saja meminta putranya itu, untuk membuka pintu.
Lalu, Toni dengan cepat memberitahu Rita, "Nyonya, coba dibuka saja. Siapa tahu, pintunya tidak dikunci oleh tuan muda."
"Ah iya, kamu benar Pak Toni."
Lalu, Rita langsung mencoba menarik gagang pintu kamar Aslan. Dan, "Wohoho! Ternyata tidak dikunci, Pak Toni," katanya dengan girang.
Toni menggeleng dan terkekeh. Lalu, ia pun turun lagi ke ruang tamu.
Pintu kamar mandi terbuka.
"Loh, Mama ngapain ke sini? Bukannya hari ini, Mama ada janji dengan tamu Papa untuk makan siang bersama di lapangan golf yang baru buka itu?" tanya Aslan beruntun.
Rita membuang napas kesal. "Memangnya Mama harus ada kepentingan dulu, untuk bisa datang bertemu denganmu, hmm?"
"B-bukan begitu, Ma. Emm ... Ya sudah, Mama ada perlu apa? Maaf, Ma. Aku baru selesai membersihkan diri." Aslan duduk di samping Rita.
"Tentu saja, Ma. Aku baru saja lari marathon di taman. Ini aku lakukan, agar aku selalu sehat, Ma," kata Aslan sembari menunjukkan otot lengannya.
Rita hanya mendengarkan celotehan putranya itu dengan raut sedikit kesal. "Stop! Mama ke sini mau menyampaikan sesuatu. Dengarkan ini!"
Hamzah membenarkan posisi duduknya. "Baiklah, Ma. Ini tentang apa?"
"Tentang kamu dan Disha!"
"Ya. Lalu?" Aslan sudah tak sabar ingin mendengarkan, apa yang ingin dikatakan oleh sang Mama.
"Begini, Sayang. Kamu akan Mama restui, jika kamu mau menemui Elma kali ini saja. Bagaimana?"
Aslan membulatkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ingin marah, tetapi ia tak tega. "Ma! Aku 'kan sudah bilang, aku tak mau menemui Elma."
"Sekali ini saja, Aslan. Oke?"
__ADS_1
"No! Aku tidak mau, Ma. Please!" Aslan berdiri dengan wajah memohon.
Rita ikut berdiri dan berusaha membujuk putranya itu. "Tapi, Asl —"
"Cukup, Ma!"
Rita dan Aslan terjingkat mendengar suara lantang dari arah pintu.
"Papa?!" seru Rita dan Aslan bersamaan.
***
Disha yang tengah duduk melamun di kamar, beranjak dan mencari sesuatu di atas nakas. Ya, ia mencari ponselnya. Ia sedang ingin mendengarkan lagu Shania Twain yang berjudul You're Still the One. Itu adalah lagu favoritnya.
"Lagu ini, nanti akan selalu aku putar tiap pagi setelah aku resmi menjadi Nyonya Aslan," kata Disha dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Disha mendengar pintu kamarnya diketuk. Ternyata, Riyani mengajak Disha untuk duduk bersama di halaman belakang. Lalu, Disha pun mengikuti perkataan Kakak iparnya itu.
Sesampainya di taman belakang, Maryam tengah berbincang dengan Hamzah.
"Disha, ke marilah, Nak. Ibu sedang membicarakan kamu dengan Kang Mas-mu ini. Hehehe," kata Maryam.
Disha pun duduk di sebelah Maryam. "Ada apa, Bu?"
Riyani dan Hamzah, ikut menunggu jawaban dari Maryam.
"Begini, Nak ... Sebelum kamu menikah nanti, Ibu ingin kita semua mengunjungi makam Ayah kalian," ungkap Maryam seraya menatap kedua anak dan sang menantu bergantian.
Disha terdiam, pun dengan Hamzah. Disha langsung memeluk erat Maryam. Sedangkan Hamzah, ia menangis karena akan menggantikan mendiang sang Ayah menjadi wali nikah Disha, adiknya. Riyani mengusap naik turun punggung Hamzah.
Setelah keadaan sudah mulai tenang, Maryam kembali meneruskan ucapannya. "Sebenarnya, Ayah kalian pernah mempunyai sahabat yang sangat baik hatinya. Bahkan, Ayah kalian saat kecelakaan itu, hendak menemui sahabatnya itu.
"Namun sayang, maut lebih dulu menemuinya. Waktu itu, Ibu sudah menawarkan diri untuk ikut. Tapi, Ayah kalian melarang."
Disha, Hamzah dan Riyani mendengarkan dengan seksama.
"Bu, siapa nama sahabat Ayah?" tanya Disha penasaran.
"Ibu belum sempat menanyakan namanya pada Ayah kalian. Saat itu, Ayah kalian hanya pamit untuk menemui sahabatnya itu. Sedangkan saat menceritakan sosok sahabatnya itu, dia tak pernah menyebutkan namanya."
__ADS_1
"Lalu, apa Ibu tahu sesuatu tentang, mmm ... Ada perlu apa, Ayah menemui sahabatnya itu?" Kali ini, Hamzah yang bertanya.
Maryam menarik napas dalam sebelum menjawab. Ia sambil mengingat kembali ke memori, di mana Adam meminta ijin untuk pergi menemui sahabatnya.