
Disha menatap wajah Ibu dan kedua kakaknya dengan raut bingung. Ia lalu mengusap dan membingkai wajah sang Ibu. "Bu, apa Ibu, Mas Hamzah, dan Mba Riyani habis menangis? Kenapa mata kalian sembab?"
Maryam memegang tangan Disha dan menurunkannya perlahan. "Tidak, Sayang. Kami sedang terharu melihat keharmonisan rumah tanggamu. Iya kan, Hamzah, Riyani?"
Hamzah dan Riyani mengangguk seraya tersenyum kompak. Lalu, Riyani memeluk Disha.
"Bumil makin cantik deh!"
"Mba Riyani bisa saja. Kemala tidur ya, Mba?"
"Iya, tidur dalam pelukan Bapaknya. Hehehe."
Semuanya pun mulai memesan martabak manis dan asin. Cukup lama, Disha dan Aslan menghabiskan waktu bersama Maryam, Hamzah dan Riyani. Kemala ditidurkan dalam rumah, karena di luar cuacanya mulai dingin.
"Disha, kami pamit pulang dulu ya?" Maryam mencium kedua pipi Disha. "Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa untuk selalu berkabar dengan Ibu!"
"Nggih ... Siap, Ibu!"
Maryam lalu mengelus perut Disha. "Terima kasih juga, Nak Aslan," kata Maryam sambil mengusap lengan Aslan.
Aslan merangkul Ibu mertuanya dan menjawab, "Tidak, Ibu. Tidak perlu berterima kasih." Aslan memeluk Maryam dengan erat.
Maryam membalas pelukan Aslan. "Tolong jaga Disha, Nak Aslan."
"Iya, Bu."
***
__ADS_1
Esoknya, ada sepasang paruh baya yang datang ke rumah Aslan. Sepasang paruh baya itu memaksa untuk bertemu dengan sang pemilik rumah.
"Pak, Bu, mohon maaf. Jika Bapak dan Ibu belum membuat janji temu dengan tuan Aslan, kami tidak bisa mempertemukan kalian dengan tuan kami."
Tak berselang lama, sebuah mobil masuk ke halaman rumah Aslan. Bima dan Rita datang ke rumah Aslan pagi-pagi sekali.
"Ada apa ini?" tanya Bima setelah sampai di hadapan bodyguard dan sepasang paruh baya itu.
Salah satu bodyguard mendekat pada Bima. "Mereka memaksa untuk bertemu dengan tuan muda."
Bima lalu menoleh pada sepasang paruh baya itu. "Lho, Pak Indra? Bu Mira?"
Sepasang paruh baya itu adalah Indra dan Mira, orang tua dari Yoga, juga Elma.
"Pak Bima, saya ingin bertemu dengan Aslan. Tolong ijinkan saya bertemu dengannya." Indra memohon dengan tangan terlipat dan sedikit membungkuk.
Bima langsung memegang kedua bahu Indra dan membuatnya kembali berdiri tegak. "Jangan begitu, Pak Indra. Mari, kita masuk dan bicarakan di dalam."
Sesampainya di ruang tamu, Toni menyapa Bima dan Rita. "Tuan Bima, hendak bertemu dengan tuan muda Aslan?"
Bima menghampiri Toni. "Iya, Pak Toni. Aslan di mana?"
"Akan saya sampaikan dulu pada tuan muda," kata Toni dengan kepala menunduk.
Bima lalu mengajak Indra dan Mira untuk duduk. Tak berselang lama, Aslan dan Disha pun tiba di ruang tamu.
"Selamat pagi, Om Indra, Tante Mira," sapa Aslan sambil menyalami kedua pasangan itu.
__ADS_1
Ekspresi wajah Inda dan Mira terlihat kaget dan bingung saat melihat Disha. Aslan memahami kebingungan kedua orang tua Elma.
"Ini istri saya, Disha Maharani." Aslan menatap Disha. "Disha, mereka berdua adalah orang tua Elma."
"Oh, iya Mas." Disha langsung menyapa dan menyalami kedua orang tua Elma. Tak lupa, ia juga memperlihatkan keramahan pada tamunya itu.
"Menantu Bapak cantik dan sopan. Selamat untuk Pak Bima, sudah dapat dua menantu," kata Indra, yang diakhiri dengan senyum tipis.
"Namanya jodoh, Pak Indra. Jodoh itu unik. Aslan putra saya, termasuk anak yang pecicilan dan," Bima mendekatkan kepalanya ke telinga Indra berkata, "seperti kulkas sepuluh pintu dinginnya. Hahaha."
Semua orang pun tertawa, kecuali Rita. Rita hanya mengdengkus pasrah mendengar lelucon dari sang suami.
"Oh iya, Om, Tante, ada perlu apa dengan Aslan?"
Indra dan Mira saling tatap sejenak. "Saya dan istri, ingin mengucapkan terima kasih padamu, Nak. Berkat kamu, kami bebas dari sekapan Yoga dan Elma," ungkap Indra.
Bima dan Rita terkejut mendengar pengakuan Indra. "Pak Indra, apa maksudnya? Bapak disekap oleh anak-anak Bapak sendiri, begitu?"
"Iya, Pak Bima. Karena kami tak menuntut atas penolakan perjodohan yang kita lakukan, dia makin marah dan tiap hari makin bertambah perilaku tak wajarnya," jawab Mira.
Kali ini, Rita menjadi ingin tahu lebih banyak tentang Elma. Gadis yang pernah ingin Rita jodohkan dengan aslan. "Perilaku tak wajarnya yang bagaimana, Pak Indra?"
Indra lalu menatap sang istri. Dan Mira mengangguk pelan.
"Elma, sering mencoba melukai dirinya sendiri dan ...."
"Dan apa, Pak Indra? Katakan saja!" desak Bima.
__ADS_1
"Dan, Elma pernah mencoba untuk menggugurkan kandungan menantu kalian."
"Apa?!" Bima dan Rita memekik bersamaan