Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 023


__ADS_3

Sebelum kedatangan tamu tak diundang ...


"Apa?! Jadi, Disha masih hidup?" pekik Yuna, ibu dari Iyan, pelan.


"Iya, Ma. Ternyata, selama ini Disha selalu ada di dekat-ku, dia memakai wajah dan nama baru, Clara Felisha."


Iyan dan Yuna, tengah duduk berhadapan di ruang jenguk kantor polisi. Yuna merasa kasihan pada putranya, karena mendadak dibawa ke kantor polisi. "Atas kesalahan apa, kamu dibawa ke sini, Iyan?"


"I-itu ...."


"Katakan pada Mama, Iyan ...!" desak Yuna, dengan wajah tak sabar.


"Sebenarnya ... Iyan melindungi seorang tersangka, yang melakukan tindak kriminal pada Disha dan Hamzah, Ma," ungkap Iyan, mendunduk pasrah. Ia tahu betul, kalau ibunya sangat tak suka dengan tindakan kriminal.


"Siapa orang yang kamu lindungi itu?"


"D-dia ... Sisca, Ma."


Wajah Yuna memerah, rahangnya mengatup rapat. Napasnya memburu, dengan dada naik turun menahan emosi pada Iyan.


"Bisa-bisanya kamu ceroboh dan bod*h, Iyan ...!" murka Yuna dengan intonasi rendah, tetapi penuh penekanan. Matanya menatap tajam Iyan.


Nyali Iyan untuk menatap Yuna, menciut. Ia tak bisa melakukan apa-apa, selain menunduk, memasang raut sedih. "Maaf, Ma ... tolong maafkan Iyan. Tolong bebask—"


"Waktu berkunjung sudah habis ...!" seru seorang petugas kepolisian, memperingati Yuna dan Iyan.


Dengan berat hati, Yuna harus meninggalkan Iyan, yang harus ditahan sampai jatuh putusan sidang nanti. Ia sudah memikirkan beberapa rencana, agar anaknya bisa bebas dari tahanan. Salah satunya, menemui keluarga Maryam.


Melihat rumah lama Maryam sudah tak berpenghuni, Yuna langsung menanyakan alamat baru Maryam, pada tetangga yang ada di rumah lama itu. Setelah berhasil mendapatkan alamat baru Maryam, ia kembali melanjutkan perjalanan.


***


"Selamat pagi, Bu Maryam, Nak Hamzah, Nak Disha ...!" sapa Yuna, dengan tersenyum ramah.


Untuk sesaat, Maryam, Hamzah dan Disha terkejut. Ketiganya heran, dari mana Yuna tahu kalau Clara adalah Disha.


Melihat tiga orang yang ada dihadapannya terlihat heran, Yuna pun berkata, "Saya tahu dari Iyan Bu, kalau Nak Clara ini adalah Disha."

__ADS_1


"Ooh ...!" sahut ketiganya, bersamaan.


Maryam lalu berkata, "Selamat pagi, Bu Yuna. Silakan masuk, Bu ...!" titah Maryam, sembari mengulurkan tangan ke depan, mempersilakan.


Dua kakak-adik yang berdiri di samping pintu, memasang wajah tak suka, dengan kedatangan Yuna. Keduanya sama-sama tak menjawab sapaan dari Yuna.


"Hamzah ... Disha," tegur Maryam, dengan menggeleng perlahan.


"Pagi, Bu ...!" jawab Hamzah dan Disha bersamaan.


Setelah dipersilakan masuk, Yuna duduk di ruang tamu. Disha dan Hamzah berdiri di belakang Maryam. Sedangkan Yuna, ia duduk di seberang Maryam.


"Kedatangan saya ke sini, karena ada suatu keperluan, Bu," ungkap Yuna, dengan raut serius.


"Ada perlu apa ya, Bu?" sahut Maryam, penasaran. Sedangkan Disha dan Hamzah, menatap tajam pada Yuna, dengah tangan yang dilipat ke depan dada.


"Sebelumnya, saya ingin minta maaf terlebih dulu, pada keluarga Bu Maryam. Utamanya pada Disha dan Hamzah." Yuna merubah posisi duduknya.


"Untuk apa minta maaf, Bu?" tanya Disha.


"Nak Disha, saya tahu kalau Iyan sudah melakukan kejahatan terhadap kamu dan kakak-mu. Tapi, Ibu tak tega melihat Iyan ditahan dalam jeruji besi, Nak ...."


Yuna terkejut mendengar jawaban Disha. Ia menatap Disha dengan mata membulat.


Hamzah tersenyum sinis, mendengar ucapan adiknya. Lalu, ia merangkul Disha, sebagai bentuk ungkapan kalau dirinya, akan selalu melindungi Disha.


"Ta-tapi, Nak Disha—"


"Bu, Disha sudah tak peduli lagi dengan Iyan. Jadi, Ibu tak perlu repot-repot meminta simpati dari adik saya ini!"


"Tunggu sebentar ...!" teriak Yuna, emosi mendengar perkataan Hamzah.


Yuna dan Hamzah berselisih pendapat. Menurut Yuna, Iyan berhak dibebaskan, karena tersangka utamanya bukanlah Iyan.


Sedangkan Hamzah kekeuh, untuk tidak memberikan kebebasan pada Iyan. Karena ia sangat tahu, bagaimana kelakuan Iyan saat mengkhianati adiknya.


Disha memegang erat lengan Hamzah. Ia mulai goyah, karena merasa kasihan pada Yuna. Namun, ia juga tak mau mengecewakan Aslan dan kakaknya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang tiba-tiba sudah berdiri di pintu.


"Nak Aslan ...!" Maryam berjalan setengah berlari, menghampiri Aslan. "Nak ... tolong kami. Wanita itu adalah ibunya Iyan," pinta Maryam, setengah berbisik.


Aslan langsung paham dengan perkataan Maryam. Lalu, ia bersama Maryam, mendekati Yuna. Kali ini, Aslan melarang Maryam untuk ikut bicara.


"Bu Maryam duduk saja! biar aku dan Mas Hamzah yang menyelesaikan ini," kata Aslan, sembari menoleh pada dua kakak-adik itu, dan langsung diangguki oleh Hamzah.


Disha masih ketakutan dan bingung. "Bu Yuna, maafkan saya, kalau selama memiliki hubungan dengan Iyan, saya keterlaluan," ucap Disha, dengan intonasi sedikit tinggi.


"Kenapa kamu tega meninggalkan Iyan saat itu?" balas Yuna, tak terima.


"Ibu tahu? Iyan sudah tidur dengan Sisca! entah sudah berapa lama mereka berhubungan. Entah sudah berapa kali mereka tidur bersama? un—" ucapan Disha terpotong, karena Yuna maju mendekati Disha.


Hamzah yang masih berdiri di dekat Disha pun, melindungi adiknya. Ia berdiri di depan Disha, dengan melipat tangan ke depan dada. Matanya menatap nyalang pada wanita yang seumuran dengan ibunya.


Aslan masih diam, menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Jika ia merasa perlakuan Yuna mulai keterlaluan, ia akan memberi peringatan pada Yuna.


"Oh, sekarang saya paham, kenapa Disha meninggalkan putraku. Karena lelaki ini," Yuna menunjuk Aslan. "Karena lelaki ini lebih kaya, kamu meninggalkan Iyan 'kan, benar 'kan, Disha?!" teriak Yuna.


"Hei, Bu Yuna yang terhormat, untuk apa adik saya terus bertahan dengan Iyan, yang jelas-jelas sudah bermain dengan wanita lain, dibelakang tunangannya, hah!" balas Hamzah, ikut berteriak geram.


Tiba-tiba, Disha memegang bahu Hamzah, dan meminta sang kakak untuk bergeser sedikit. Hamzah sempat ragu, karena takut kalau Yuna, akan mengamuk pada Disha. Namun, Disha berhasil meyakinkan Hamzah.


"Bu Yuna, saya akan mengatakan ini sekali saja. Jadi, tolong jangan meminta saya untuk mengulangi lagi, apa yang sudah saya ucapkan!" Disha menarik napas panjang, sebelum berkata.


"Untuk Bu Yuna, saya tidak akan mencabut tuntutan saya pada Iyan dan Sisca. Sisca adalah dalang dibalik terjadinya kecelakaan Mas Hamzah dan saya. Sedangkan Iyan, ia melindungi Sisca, meski tahu kalau Sisca bersalah."


Yuna tak percaya, Disha bisa memiliki keberanian untuk berkata seperti itu. Yang ia tahu, Disha selalu menuruti, apa saja yang dikatakan oleh dirinya.


"Ibu terkejut mendengarnya?" tanya Hamzah.


"Kalau Ibu terkejut, tidak apa-apa, itu wajar. Dulu, adik saya selalu menuruti semua perkataan Bu Yuna, tetapi tidak untuk sekarang dan ke depannya!" ucap Hamzah, tegas.


Yuna merasa frustrasi. Bukannya mendapat simpati, malah bertengkar dengan dua kakak-adik itu. Hatinya mulai ketar-ketir, karena tak mau putranya mendekam di jeruji besi, dalam waktu lama.


Lalu, tercetus sebuah ide dalam pikirannya. "Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" ucap Yuna, spontan.

__ADS_1


Aslan, Maryam, Hamzah dan Disha, dibuat tercengang oleh Yuna.


__ADS_2