Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 019


__ADS_3

"Tuan Muda ...!" Toni mendatangi Aslan, dengan terburu-buru.


Aslan langsung bangkit dari duduknya. "Ada apa, Pak Toni?" tanya Aslan, dengan raut khawatir.


"I-itu, Tuan ...." Toni menjeda ucapannya. Ia mendekat ke majikannya, lalu berbisik, "Tuan dan Nyonya besar, baru saja tiba di rumah, Tuan."


Mata Aslan membulat sempurna. Ia begitu terkejut, mendengar apa yang dibisikkan oleh Toni. "Yang benar, Pak Toni? Pak Toni tahu dari mana?" jawab Aslan, berbisik juga.


"Istri saya yang mengabari beberapa menit yang lalu, Tuan. Setelah mendapat kabar, saya langsung berlari masuk," jelas Toni.


Dua orang yang tengah berbisik-bisik itu, membuat Hamzah dan Maryam, menjadi penasaran. Lalu, Hamzah pun memberanikan diri untuk bertanya pada Aslan.


"Aslan, apa ada sesuatu yang gawat?"


Aslan menoleh, merasa kikuk. Ia bingung harus menjawab apa. "Emm ... itu, bukan apa-apa, Mas Hamzah. Hanya saja, saya harus pulang sekarang ... Mas Hamzah, Bu Maryam," Aslan menatap Hamzah dan Maryam bergantian.


Maryam menghampiri Aslan, mengusap lengan pria yang masih mengenakan setelan jas itu. "Jika memang ada hal yang sangat penting, pulang lah, Nak Aslan. Ibu dan Hamzah, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya padamu, karena sudah menjaga Clara.


"Jika tak ada kamu dan Pak Toni, mungkin Clara sudah dijebak oleh Iyan," ucap Maryam, sedih.


Aslan memeluk Maryam, terharu. "Bu ... jangan berterima kasih pada saya. Saya hanya melakukan, apa yang sudah seharusnya seorang kakak lakukan. Mas Hamzah tidak ada di dekat Clara saat kejadian. Jadi ... secara otomatis, itu menjadi tanggung jawab saya, Bu."


Maryam membalas pelukan Aslan. Ia mengusap punggung Aslan, naik-turun. Sedangkan Hamzah, merasa terharu melihat pemandangan yang ada di depannya, saat ini.


Setelah berpelukan, Aslan pamit pulang pada Maryam dan Hamzah.


***

__ADS_1


Paginya, Clara yang baru saja terbangun dari tidurnya, langsung keluar kamar, dan mencari ibunya. "Bu ... Ibu ...!" seru Clara, sambil berjalan menuju dapur.


Terlihat olehnya, di dapur tak ada siapapun. Lalu, Clara mencari ke halaman belakang rumah. Rupanya, Maryam tengah menanam bibit di polybag.


"Ibu ...! Aku panggil Ibu dari tadi, lho," ucap Clara, dengan wajah cemberut. Ia sudah berdiri di belakang ibunya.


Maryam tak menoleh sedikitpun ke belakang. "Opo tho, Nduk? masih pagi, kok misuh-misuh? hmm ...!"


"Bu, lihat aku dong, Bu ...!" pinta Clara, sembari ikut jongkok, di dekat Maryam.


Maryam menghentikan aktivitasnya sejenak, untuk menatap putrinya. "Kenapa, Nduk? Kamu nggak kerja hari ini?"


"Kerja dong, Bu. Ini 'kan baru jam setengah enam pagi. Ini mau siap-siap, kok."


"Ya sudah, ayo masuk. Biar Ibu siapkan sarapan untukmu dan Mas-mu!"


Maryam tersenyum, merasa tingkah putri satu-satunya ini, terlalu lucu dan penuh perhatian. "Nduk ... memang benar, sudah ada mbok Ratmi. Tapi, Ibu ini mau masak ala kadarnya saja, kok.


Seperti nasi goreng dan telur mata sapi, misalnya. Dan tidak lupa ...."


"Mendoan hangat, dengan sambal kecap!" jawab Clara dan Maryam kompak. Kedua ibu-anak itu, tertawa setelahnya.


Clara bangkit, disusul dengan Maryam, yang dibantu berdiri oelh Clara. Kemudian, ia masuk kembali ke rumah, bersama Maryam. Maryam langsung terjun ke dapur, sedangkan Clara pergi bersiap diri, untuk berangkat kerja.


Setelah semuanya tersaji di meja makan, Maryam memanggil kedua anaknya. "Hamzah ... Clara ...! ayo sarapan!"


Yang pertama datang, adalah Hamzah. Kemudian, disusul oleh Clara, yang masih sibuk merapikan baju sambil berjalan.

__ADS_1


"Iya iya, sudah perfecto, Bu Clara. Hahaha," goda Hamzah.


"Ish! apa sih, Mas Hamza ini," gerutu Clara.


"Kalian berdua ini, memang selalu saja ... bikin geleng-geleng kepala. Sudah, ayo sarapan ...!" timpal Maryam.


Ketiganya ... Maryam, Hamzah, dan Clara pun, memulai sarapan. Tak ada percakapan sama sekali, selama di meja makan. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu, di dalam piring makanan.


***


Sesampainya di kantor, Clara langsung menuju ke meja kerjanya. Di sana, sudah ada Toni, yang tengah duduk menunggu. "Pak Toni menunggu seseorang, atau sesuatu? hmm ...." gumam Clarl lirih, nyaris tak terdengar.


"Selamat pagi, Pak Toni ...!" sapa Clara, setelah sampai di hadapan Toni.


Toni sedikit terjingkat. "Eh, Non Clara. Pagi, Non ...!" jawab Toni, seraya berdiri.


"Tumben, Pak Toni masih di sini. Biasanya, setelah mengantar ke kantor, Pak Toni langsung pulang lagi."


Toni mengusap tengkuknya. "Itu, a-anu, Non Clara, ada hal penting yang mengharuskan saya di sini dulu. Hehehe."


Clara manggut-manggut. "Oh, begitu. Ya sudah, Pak Toni. Saya juga harus segera menyiapkan berkas yang harus ditandatangani oleh Pak Aslan," ucap Clara, tersenyum.


"Iya, Non Clara. Silakan dilanjut semangat kerjanya, ya!" balas Toni, sambil mengacungkan kepalan tangan.


"Siap, Pak Toni ...!" sahut Clara, sembari memberi hormat.


"Dia siapa, Pak Toni?" suara tegas, tetapi lembut, terdengar dari belakang Clara.

__ADS_1


Terlihat oleh Clara dan Toni, wanita dengan setelan kantor, berjalan anggun, sambil menenteng tas mewah. Makin dekat, makin terlihat jelas, bagaimana mimik wajah wanita itu.


__ADS_2