
0821xxxxxxxx : Selamat malam, nona Disha. Foto yang saya kirimkan tadi, itu bukti nyata kalau calon suami nona, bukanlah pria yang pantas untuk anda. Nona tidak perlu tahu siapa saya.
Disha membaca pesan dari orang misterius dengan nada lirih. Tanpa ia sadari, sang kakak, Hamzah, ikut mendengar apa yang diucapkan olehnya.
"Siapa yang bilang begitu, Dek?"
Disha terjingkat kaget dan langsung berdiri. Ponselnya ia sembunyikan ke belakang. "B-bukan siapa-siapa kok, Mas."
"Jangan berbohong, Disha! Mas sudah dengar tadi, apa yang kamu ucapkan. Meskipun pelan, Mas masih bisa mendengarnya."
Hamzah menghampiri Disha dan mengambil ponsel yang disembunyikan adiknya itu. Lalu, ia langsung membuka aplikasi hijau untuk mengecek pesan yang berupa foto bukti dari perselingkuhan Iyan. "Dek, duduklah sini.. dekat Mas Hamzah!" titah Hamzah, sambil menepuk-nepuk kasur.
Disha pun langsung menurut dengan perintah sang kakak. "Mas, ibu di mana?" tanya Disha pelan, setengah berbisik.
"Aman. Ibu kebetulan sedang keluar." Hamzah membenarkan posisi duduknya dan mengembalikan ponsel adiknya. "Oh iya.. siapa tadi yang kirim pesan? Apakah itu bodyguard-nya Iyan?"
"Emm ... Disha belum tahu, Mas. Sebenarnya, aku sudah menaruh curiga pada mas Iyan dari beberapa minggu yang lalu, Mas."
"Kenapa baru cerita?"
"Aku sudah cerita pada ibu, Mas. Tapi, ibu sepertinya lebih percaya pada mas Iyan."
Disha mulai menceritakan semuanya, mulai dari saat pertama Sisca bertemu Iyan di sekolah, hingga saat Sisca menemaninya menjemput Iyan dan makan siang bersama. Diakhiri dengan cerita tentang Iyan yang salah kirim pesan, sampai akhirnya ia mendapat kiriman foto dari orang misterius.
Hamzah manggut-manggut mendengarkan cerita adiknya itu. Ia juga tak menyela sama sekali saat adiknya sedang bercerita. "Terus, sekarang kamu maunya gimana, Dek?"
Disha menarik napas dalam, mendapat pertanyaan seperti itu dari sang kakak. Raut wajahnya yang terlihat putus asa, membuat Hamzah turut merasakan betapa sakit, bingung dan kesalnya perasaan Disha saat ini. Hamzah pun mendekat pada Disha, lalu merengkuh dan membawa sang adik ke dalam pelukannya.
"Dek, maafkan kakakmu ini, yang belum bisa menjadi sosok seperti Ayah untukmu." Hamzah membelai rambut panjang Disha, untuk menenangkannya.
Tak ada jawaban dari Disha. Hanya bahunya yang berguncang karena menangis. Tangannya memeluk erat sang kakak, sambil sesekali ia menyeka air matanya. Menangis tanpa suara, itulah yang biasa dilakukan oleh Disha. Dan itu, rasanya jauh lebih sakit.
"Mas, aku ... Aku hanya ingin bisa bebas dari hubungan yang tak jujur ini. Apa aku salah, jika aku ingin memutuskan pertunanganku dengan mas Iyan?" suara Disha bergetar kala mencoba berbicara pada kakaknya.
Hamzah yang masih membelai rambut adiknya pun menjawab, "Tidak salah, Dek. Tapi, alangkah baiknya kalau kita benar-benar mendapati Iyan dan Sisca secara langsung. Bukan dari foto kiriman orang lain. Apa kamu setuju?"
Disha mengangguk pelan dalam pelukan kakaknya. Lalu, Hamzah berjanji pada Disha, bahwa ia sendiri yang akan menemui kedua orang tua Iyan, jika memang benar ada hubungan yang tidak jujur antara keduanya, Iyan dan Disha.
Setelah puas menangis, Disha pun menarik diri dari pelukan. Diusapnya bulir, serta cairan bening yang keluar dari mata dan juga hidungnya. "Terima kasih, Mas Hamzah. Aku sayang Mas Hamzah!" ucap Disha, dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Jangan ceritakan hal ini lagi pada Ibu, ya! Nanti, biarlah Mas yang akan jelaskan semua pada Ibu."
__ADS_1
Disha mengangguk setuju. Lalu, Hamzah pun keluar dari kamar Disha. Mata yang tadi sayu, kini mulai menyorot tajam.
Disha : Mas, besok aku akan berkunjung ke rumah saudara selama dua hari, bersama Ibu dan mas Hamzah. Jaga diri, jaga mata dan jaga hati ya, Mas!
Kemudian, Disha mengetik pesan lagi.
Disha : Sisca.. besok aku akan berkunjung ke tempat saudara. Kemungkinan sampai dua hari. Tolong, kalau ada yang penting dari kampus, kabari aku ya!
Disha mengirim pesan yang isinya hampir sama, pada Iyan dan juga Sisca. Ia ingin mengintai bagaimana perilaku Iyan dan Sisca, ketika sedang tidak ada kehadiran dirinya. Ditemani sang kakak, ia ingin menangkap basah langsung, penghiatan yang dilakukan oleh kekasih dan sahabatnya sendiri.
***
Hari pertama pengintaian, Disha dan sang kakak mengikuti Iyan yang sedang dalam perjalanan. Kemudian, sampailah mereka di cafe milk teman Iyan, Dio.
"Sisca!" panggil Iyan, sembari melambaikan tangan.
Sisca menoleh dan berdiri. "Sini, Mas!" Ia terlihat sangat bahagia. Kemudian, saat Iyan sudah ada di hadapannya, ia langsung memeluk dan mencium kedua pipi Iyan.
Disha dan Hamzah yang tengah mengintai dalam penyamaran, terkejut melihat adegan itu. Mata keduanya membulat sempurna. Untung saja, kacamata kekinian dan masker yang menutup separuh bagian wajah, menyelamatkan mereka berdua yang tengah dilanda keterkejutan.
Selang satu jam, Iyan mengajak Sisca pergi dari cafe. Lalu, Hamzah dan Disha pun kembali mengikuti dua orang yang seperti tengah di mabuk asmara itu. Dengan menaiki sepeda motor, Hamzah dan Disha berusaha untuk menjaga jarak, agar tidak dicurigai.
Ternyata, Iyan membawa Sisca ke rumahnya. Disha yang mengetahui hal itu, langsung meminta untuk pulang. Ia tak mau makin sakit hati. Sementara Hamzah, ia tetap kekeh untuk menunggu sampai Iyan dan Sisca keluar.
"Sebentar, Dek. Kita tunggu seb—" ucapan Hamzah terjeda, karena mendengar suara orang mengobrol.
Lalu, Disha dan Hamzah pun melihat ke arah rumah Iyan, yang penjagaannya lumayan ketat. Meskipun begitu, Hamzah selalu punya cara untuk bisa mengintip. "Dek, lihatlah! Orang tua Iyan bahkan terlihat sangat dekat dengan Sisca."
"Masa sih, Mas? Aku juga mau lihat dan foto sekalian deh."
Disha langsung merebut tempat kakaknya yang tengah mengintip dari celah pagar.
Hamzah terdiam, karena tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa membiarkan adiknya melakukan hal yang menurut Disha benar. Lalu, Disha pun memotret dan merekam kebersamaan Iyan, Sisca dan orang tua Iyan, yang mengantar Sisca masuk ke mobil.
***
Hari kedua, Disha yang masih ditemani Hamzah, kembali mengintai Iyan dan Sisca. Kali ini, mereka mengikuti sampai ke hotel. Disha merasa heran dan bertanya, "Mas, bagaimana kalau kita dilarang masuk ke dalam?"
"Tenang saja, Dek. Mas kamu ini, selalu punya ide," jawab Hamzah dengan memasang senyum yang sulit diartikan.
Hamzah berhasil mendapatkan nomor kamar yang dipesan Iyan. Dengan alasan sudah membuat janji dengan Iyan, Hamzah pun bisa mengintai sampai masuk ke hotel. Dan untungnya, Iyan memesan kamar atas nama Iyan sendiri, bukan atas nama Sisca.
__ADS_1
Wajah Disha dan Hamzah terlihat buru-buru dan ingin segera menangkap basah sepasang penghianat itu. Dengan langkah lebar, keduanya pun sampai di depan kamar Iyan. Disha langsung memakai masker dan topinya.
Hamzah meminta Disha untuk sembunyi dulu, agar saat pintu dibuka, Disha bisa langsung masuk ke kamar. Lalu, ia mencoba memeriksa lorong kamar, tempat ia berdiri sekarang. Ada CCTV yang bergerak ke kanan dan kiri, membuat Hamzah harus menyesuaikan hitungan.
Setelah dirasa waktunya sudah tepat, Hamzah pun mengetuk pintu. Begitu pintu terbuka sedikit, Disha langsung mendorong pintu, dibantu dengan tendangan oleh sang kakak. Lalu, ketika keduanya sudah masuk, Hamzah dengan gerakan cepat, langsung kembali menutup pintu.
Betapa terkejutnya Disha dan Hamzah mendapati Iyan, yang tubuhnya dalam kondisi hanya terlilit handuk dari pinggang sampai lutut, dan Sisca yang bersembunyi di balik selimut. Disha dengan napas memburu, bergegas menghampiri Sisca dan mencoba untuk menarik selimut yang Sisca pakai.
"Tunggu! kenapa kalian berdua bisa sampai ke sini?!" seru Iyan yang tak terima dengan perlakuan Hamzah dan Disha.
"Santai, Bro! kenapa marah-marah?" Hamzah balik bertanya dengan tatapan mengintimidasi. "Ckckck. Sudah punya tunangan, tapi masih ingin mencicipi yang lain." Hamzah berjalan mendekati Iyan. "Lepaskan adikku dan silakan kamu lanjutkan nafsumu itu, ba*ingan!" semua kata-kata yang Hamzah bisikkan pelan, tetapi penuh penekanan.
Iyan menepis tangan Hamzah yang memegangi pundaknya. Ia menoleh untuk melihat kondisi Disha dan Sisca. Sisca menatap Iyan dengan tatapan memohon. Memohon untuk dijauhkan dari Disha yang tengah dikuasai emosi.
Disha masih menarik selimut yang menutupi tubuh Sisca. Hingga akhirnya....
"Plak...! Plak...!"
Tangan Disha mendarat dengan mulus beberapa kali di kedua pipi Sisca.
"Aww! sakit, Disha! hentikan!" Sisca meringis sakit sambil memegangi kedua pipinya bergantian, karena sebelah tangannya masih memegangi selimut. Tak puas dengan hanya menampar Sisca, Disha berjalan dengan cepat ke arah Iyan.
"Bugh...!"
Tendangan kuat, mendarat di benda pusaka milik Iyan. Raut wajah Disha terlihat lega dan puas, setelah memberi pelajaran pada pria yang dulunya sangat ia cintai.
"Aww! aduh...! aaaaaa...! bre*gsek!" Iyan hendak membalas memukul Disha. Namun, dengan gerakan cepat, Hamzah segera menangkis tangan Iyan.
"Kamu pria atau wanita, hah?!" Hamzah lalu mendorong Iyan, hingga Iyan tersungkur di tepi kasur.
"Ingat kalian berdua. Jangan pernah mengusik kehidupan Adik dan keluargaku lagi! aku memang tidak se-berkuasa kalian berdua," hardik Hamzah sambil menunjuk Iyan dan Sisca bergantian.
"Tapi, ingat ini. Kalau sampai adikku menangis lagi, aku bisa permalukan kalian di sini!" sambung Hamzah.
Disha melepas cincin pertunangan dan melemparnya ke arah Iyan. "Itu cincinnya, Mas. Silakan kamu berikan pada Sisca!"
Sisca masih meringkuk ketakutan. Iyan yang melihat hal itu pun, menjadi merasa kasihan pada Sisca. Lalu ia menatap tajam Disha. "Disha!" seru Iyan.
Hamzah yang mulai tersulut emosi, langsung berteriak, "Hei, Iyan! Jangan lupa, aku masih di sini! Satu kali lagi kamu berkata pada adikku dengan nada tinggi, akan aku patahkan lehermu!" ancam Hamzah, dengan memberi tatapan nyalang pada Iyan.
Kemudian, setelah mendapat ancaman dari Hamzah, Iyan dan Sisca hanya bisa diam dan menundukkan kepala. Namun, dalam pikiran Iyan, sudah terpikirkan sebuah rencana jahat untuk membalas perlakuan Hamzah dan Disha padanya dan Sisca. Lalu, Iyan balas menatap Hamzah dengan tatapan tajam dan senyum aneh, yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Kalian berdua, dengarkan ini ...!"