Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 012


__ADS_3

"Selamat malam, Nona Clara ...!" sapa seorang pria, dari arah samping Clara.


Clara langsung menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya Clara saat tahu, yang menyapanya adalah Iyan. Untung saja, ia dapat mengendalikan ekspresinya itu, hingga tidak menampakkan ke-gugupan sedikitpun.


Clara tersenyum pada Iyan. "Selamat malam, Tuan. Maaf, Anda siapa?" sahut Disha, dengan wajah bertanya-tanya.


"Saya ... Ehm! Saya, Iyan," jawab Iyan setelah mendaratkan pantat di sebelah Clara.


"Oh .. Tuan Iyan. Ada perlu apa, Tuan?"


Iyan menarik kursinya, agar bisa lebih dekat dengan Clara. Hal itu membuat Clara risih dan takut, tetapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Karena tepat di meja belakangnya, sudah ada Hamzah dan Aslan yang mengawasi.


"Anda cantik sekali, Nona! ditambah dengan gaun merah menyala yang anda kenakan ini, sungguh menambah nilai kecantikan yang ada padamu," puji Iyan, dengan tatapan penuh nafsu pada Clara.


Clara memberikan ekspresi datar. "Oh, begitu. Terima kasih, Tuan Iyan ...!" Clara menekankan kata tuan Iyan, dengan sorot mata menghunus.


Hal itu membuat Iyan semakin menggila. "Wohoho, Nona! Anda sungguh luar biasa. Bahkan, sangat menarik kalau bisa saya taklukkan!" tantang Iyan pada dirinya sendiri. Tangannya mulai berani menyentuh lengan Clara.


Dengan cepat, Clara langsung menahan tangan Iyan, dan menurunkannya kasar. "Maaf, Tuan. Silakan cari wanita panggilan, jika nafsu-mu sedang berkobar!" peringat Clara.


Tatapan keduanya, ber-adu sejenak. Sampai akhirnya, sentuhan kasar di bahu Iyan, memutus tatapan antara Clara dan Iyan.


"Sayang, kenapa kamu di sini?!" tanya Sisca, merajuk. "Baru ditinggal sebentar ke toilet, kamu sudah main ke meja wanita lain, huh!" Sisca melipat tangannya ke depan dada.


"Eh, Sweety .. Ini, aku sedang menawarkan kerja sama dengan pemberi sponsor. Benar 'kan, Nona Clara?" kata Iyan, sembari menatap Clara, dalam.


Clara menaikkan satu alisnya. "Huh? Saya tidak tahu soal itu, Tuan. Hahaha." Clara tertawa meremehkan. Lalu, ia membereskan tas-nya, dan berdiri dari tempat duduk. "Maaf, dan permisi ...!" ucap Clara, menoleh sekilas pada Iyan dan Sisca.


Tangan Iyan mengepal, dan memukul meja. "Sial! aku gagal mendapatkan nomor ponselnya. Ini semua gara-gara kamu, Sisca!" umpat Iyan pelan, tetapi penuh penekanan.


Tatapan keduanya beradu sengit. Lalu, Sisca yang tak terima dengan perkataan Iyan, langsung berbalik dan pergi meninggalkan Iyan. Iyan menatap kepergian Sisca dengan raut datar, tanpa ada niat untuk mengejarnya.

__ADS_1


'Dasar wanita pengganggu. Dulu, saat aku bersama Disha, hingga sekarang ini, dimana aku sedang merayu Clara, selalu saja, dia jadi pengacau!' umpat Iyan dalam hati. Wajahnya marah, dengan rahang yang mengatup rapat.


***


Suara tepuk tangan, menyambut kedatangan Clara yang baru saja turun dari mobil. Hamzah dan Aslan sudah lebih dulu pulang, saat Sisca datang ke tempat duduk Clara. Clara merasa sedikit malu, saat mendapat tepuk tangan meriah dari dua orang pria yang sudah menjaganya.


"Apa sih, Mas Hamzah, Mas Aslan?" kata Disha, menahan malu. Terlihat wajahnya bersemu merah.


"Kamu hebat, Dek! Mas jadi tenang kalau lihat kamu sudah berubah jadi lebih berani sekarang. Iya 'kan, Aslan?"


Aslan yang masih menatap dalam, wanita yang ada di hadapannya itu, seketika terjingkat, manakala lengannya disenggol oleh Hamzah. "Eh, kenapa Mas Hamzah?"


"Ya ampun, Aslan ...! aku bilang kalau adikku sudah semakin bersikap berani, sekarang," jelas Hamzah, sambil menggeleng dan tersenyum menggoda Aslan.


Aslan pun menjadi salah tingkah, akibat ulah dari Hamzah. Ia mengusap tengkuknya, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ah, Mas Hamzah ini. Emm ... Iya, Mas Hamzah benar, Disha.. eh, Clara maksudnya, hehehe. Clara sudah mulai ada perubahan dari sikapnya yang dulu," ungkap Aslan.


Lalu, ketiganya mengobrol santai di teras, sembari duduk di bawah pohon mangga. Saat tengah serius membahas sesuatu, Maryam datang membawa tiga gelas teh manis hangat dan sepiring bolu vanilla.


Maryam ikut duduk dan mengobrol. Sesekali, ia menyuapi Clara, yang baginya masih jadi putri kecil. Sedangkan Hamzah dan Aslan, hanya bisa menatap iri pada Clara.


***


Keesokan harinya, saat Clara mulai bekerja di kantor milik Aslan, tak sengaja ia berpapasan dengan Iyan di lift. Iyan yang merasa mendapat kesempatan itu, tak mau melewatkan sedetik-pun, momen bersama Clara di dalam lift. Ia terus mengamati Clara dengan seksama.


Clara melihat pantulan wajah Iyan di pintu lift dan menegurnya. "Kau punya seorang wanita yang sangat menggilai-mu, tetapi di belakangnya, kau mengamati wanita lain? ckckck!" ucap Disha dengan tatapan malas.


"Jangan salahkan aku, Nona cantik. Kau terlalu sayang untuk dilewatkan," Iyan maju mendekati Clara, dan mencoba untuk mencium pipi Clara.


Refleks, Clara menampar Iyan dan memakinya. "Dasar otak mesum! sedari acara semalam, tatapan, ucapan, dan gelagatmu itu, sangat menjijikkan! ugh!" Clara mendorong Iyan, hingga terjatuh.


"Camkan ini, Tuan Iyan! jika memang kau mau menawarkan kerja sama dengan perusahaan ini, perbaiki lagi attitude yang kau punya!" Clara berbalik badan, hendak keluar dari lift.

__ADS_1


"Dan ya, hilangkan pikiran mesum-mu itu!" imbuhnya, yang kemudian melenggang pergi dengan langkah penuh amarah.


Iyan yang masih terduduk di lantai lift, hanya meringis penuh misteri. "Kau mengingatkan aku pada mantan tunangan-ku, Clara ...! cara menolak untuk aku cium dan aku dekati dengan int*m, persis seperti Disha ku, Disha Maharani. Aku harus bisa mendapatkan-mu, Clara Felisha!" monolog Iyan, yang diakhiri dengan seringai licik, dan tatapan yang penuh gairah menggebu.


***


Napas Clara memburu, dadanya naik turun menahan gemuruh emosi dalam hatinya. Aslan yang mengetahui hal itu, langsung bertanya, "Clara ... apa ada sesuatu yang terjadi? apakah ada yang membuatmu marah, hmm?"


Clara yang masih berdiri, dan memegang gagang pintu pun menjawab, "Kamu tahu, Mas ... barusan, aku papasan sama Iyan. Ya ampun, rasanya ingin aku kasih jurus 'hih'!" ucap Clara, dengan tangan memperagakan posisi menonjok.


"Tenanglah Clara ... tenang, kalem! aku akan membantumu. Aku akan bicara pada Iyan," bujuk Aslan.


Mendengar ucapan Aslan, Clara yang tadinya menunduk lesu, langsung mengangkat kepalanya lagi, sambil tersenyum riang. Lalu, ia menghampiri Aslan dan langsung memeluknya erat.


"C-clara ...!"


Clara yang menyadari bahwa ia tengah memeluk Aslan, langsung meminta maaf pada Aslan. "Maaf, Mas Aslan. Aku tadi terlalu gembira, hingga refleks memelukmu ...," sesal Clara.


Aslan tersenyum dan memegang kedua bahu Clara. "Clara ... aku paham, kenapa kamu sampai memeluk-ku . Tapi, ya sudah lah, tak perlu dibahas."


"Tentu saja harus dibahas, Mas Aslan! kalau tidak ...."


"Kalau tidak, kenapa, hm?" ucap Aslan menggoda, sambil menaik turunkan alisnya.


"Kalau tidak dibahas, nanti ...." Clara berucap dengan wajah berpikir keras.


"Kamu ini ... memang jago untuk membuat kesepatakan sepertinya, hahaha, " jawab Aslan. "Ayok!"


"Ayo ke mana, Mas Aslan?"


Aslan tak menjawab pertanyaan Clara. Ia langsung menarik tangan Clara dan menggenggamnya.

__ADS_1


__ADS_2