Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 021


__ADS_3

"Makan siangnya jadi, Pak?"


Raut kelegaan muncul, di wajah Aslan dan Serly. Clara yang melihat adanya ketegangan saat ia berjalan mendekat pun bertanya, "Apa pertanyaan saya salah?" tanya Clara, dengan wajah penasaran dan bingung.


"Tidak tidak ...!" jawab Aslan dan Serly bersamaan.


"Tidak, Clara ... tadi, kami hanya terkejut saja, ternyata ada orang selain kami, di ruang pertemuan. Sejak kapan mau berdiri di pintu?"


"Baru saja kok, Pak. Waktu Pak Aslan dan Bu Serly berbalik badan, saya baru berdiri di pintu," jawab Clara, sembari menggerakkan tangan saat menjelaskan.


"Syukurlah ...!" ucap Aslan dan Serly bersamaan.


"Oh iya, Clara ... jangan panggil Bu Serly, just call me kak Serly, okay ...!" titah Serly, dengan raut tegas.


"I-iya ... kak Serly."


Aslan tertawa melihat Clara yang langsung patuh pada Serly. Padahal, dulu ia pernah meminta juga pada Clara, untuk memanggilnya Aslan. Tapi, Clara selalu menolaknya dengan alasan sungkan.


"Sudah lah, kakak. Ayo, kita ke kantin sekarang!" Aslan berucap seraya menatap dua wanita di hadapannya.


***


Selesai menyantap makan siang, Serly pamit untuk pulang terlebih dulu, pada Aslan dan Clara. Saat berpamitan pada Aslan, Serly membisikkan sesuatu ke telinga Aslan. "Kakak setuju, kalau kamu mau menikahi Clara. Dia wanita yang baik, tegas, dan pemberani," ucap Serly, yang diakhiri dengan mengedipkan sebelah matanya.


Aslan yang mendengarnya dalam posisi masih mengunyah, langsung tersedak. Clara dengan sigap, mengambilkan air minum untuk Aslan. Wajahnya terlihat khawatir, melihat Aslan yang terbatuk-batuk, akibat dari tersedak makanan.


Serly tersenyum melihat perhatian Clara, pada Aslan. Sudah lama, ia menantikan wanita yang mampu membuat adiknya itu luluh. Karena sejak dulu, setiap ia membawa wanita untuk dikenalkan pada Aslan, pasti sang adik langsung menolak dengan tegas, atau menghindar.


Melihat kepribadian Clara yang menurut Serly mendekati sempurna, membuatnya tak khawatir lagi, kalau harus meninggalkan sang adik sendiri. Ia yakin, Clara adalah wanita yang tepat untuk Aslan.


"Clara ... tolong jaga adik saya, selama saya tidak ada di sini, ya!" ucap Serly, dengan raut memohon.


"Lho? memang kak Serly mau kembali ke luar negeri sekarang?"


"Eh, bukan seperti itu maksudnya, Clara. Kembali ke luar negeri, lusa."


Clara manggut-manggut mendengar jawaban Serly. Sedangkan Aslan masih meneguk air minum, yang diberikan oleh Clara. Sesekali, ia melirik pada wanita yang tengah berbincang dengan kakaknya itu, dan tersenyum.


Melihat tingkah adiknya yang menggemaskan itu, membuat Serly semakin ingin adiknya segera menikah. Ia ingin melihat adiknya bahagia, bersama wanita yang bisa memberi warna di kehidupan Aslan.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya pulang sekarang. Aslan, kamu tidak perlu antar kakak," ucap Serly, menatap Clara dan Aslan bergantian.


"Kenapa, kak?" tanya Aslan dengan raut bingung.


"Tidak apa-apa, Aslan. Kakak sudah ada janji untuk bertemu dengan kawan-kawan kakak. Hehehe," jawab Serly, sambil tersenyum malu.


"Oh ...," Aslan menjawab singkat dan datar.


Serly yang sudah hafal dengan adiknya itu, hanya mencebikkan bibir dan berlalu pergi, meninggalkan Aslan dan Clara, yang masih duduk di kantin kantor. Aslan menjadi sedikit canggung, pun dengan Clara.


Semua orang yang ada di kantin, matanya tertuju pada Aslan dan Clara. Hal itu membuat keduanya semakin canggung. Lalu, Aslan berkata, "Clara ... kita kembali ke ruang kerja sekarang!"


Clara pun mengangguk. "Siap, Pak!"


Aslan dan Clara berdiri, lalu melenggang pergi. Tak peduli dengan banyaknya tatapan yang menatap, pada keduanya.


***


Di rumah Aslan, tepat pukul tujuh petang ....


"Tidak, Tuan Muda. Semua bukti-bukti ini, benar adanya. Saya sudah mengecek rekaman cctv kejadian, baik di hotel maupun di jalan, tempat Nona Clara kecelakaan," ungkap Toni, pada Aslan.


"Baiklah kalau begitu, Pak Toni. Untuk bukti yang itu, aman 'kan?"


"Tentu saja aman, Tuan. Saya selalu menyimpan bukti itu."


"Bagus, Pak Toni! kalau begitu, saya akan mengabari mas Hamzah terlebih dulu, soal bukti kejahatan Iyan."


"Baik, Tuan ...!"


Toni keluar dari ruang kerja Aslan. Sedangkan Aslan, langsung menelepon Hamzah. Ia meminta untuk berbicara empat mata dengan Hamzah, sebelum memberitahu Clara, tentang bukti kejahatan Iyan.


Hamzah menyetujui usulan Aslan, dan langsung menuju ke tempat di mana ia dan Aslan bertemu, pun dengan Aslan. Aslan memilih untuk menyetir sendiri, kali ini. Tak lupa, Aslan menyiapkan semua bukti tadi, dan memasukkannya ke dalam tas kecil, agar tak terlalu mencolok.


Sesampainya di resto, Aslan mencari keberadaan Hamzah. Ia mengecek ponsel, ada satu pesan masuk. Ternyata, Hamzah memesan meja privat, yang letaknya ada di lantai atas. Hamzah sengaja melakukan itu, agar lebih nyaman membahas soal bukti-bukti yang dimaksud Aslan.


Tak lupa, Hamzah mengajak Aslan memesan minuman terlebih dulu, sebelum membahas hal penting. "Aslan, kita tunggu sampai minuman yang kita pesan, datang. Sebelum itu, lebih baik kita bahas yang lain dulu saja," ucap Hamzah.


Aslan mengangguk setuju. Tas kecil yang ia bawa, diletakkan ke atas meja. "Oke, Mas Hamzah. Saya paham dengan alasannya kok, hehehe."

__ADS_1


"Nice ...!" kata Hamzah, dengan mengacungkan dua ibu jarinya.


Beberapa menit kemudian, pesanan mereka berdua pun, datang. Setelahnya, Aslan mulai membahas bukti-bukti yang ia bawa. Hamzah menyimak dengan seksama.


Aslan memutar rekaman video, saat Iyan keluar dari hotel dengan ekspresi marah. Lalu, saat Hamzah dan Clara mengalami kecelakaan.


"Apa sebaiknya, kita ajak Clara ke sini juga?" Hamzah meminta pendapat Aslan.


Aslan sedikit ragu, untuk menjawab. Namun, ia juga menginginkan Clara, untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat, pada Clara dan Hamzah.


"Itu ... terserah Mas Hamzah saja. Tapi, siapa yang akan mengantar Clara ke sini?"


"Tenanglah, Aslan. Clara itu, wanita yang pemberani dan selalu sedia payung sebelum hujan."


"Maksudnya gimana, Mas Hamzah?"


"Maksudnya ... ah, sudahlah! nanti, kamu akan tahu sendiri." Hamzah tertawa setelah berucap, membuat Aslan semakin penasaran.


Hamzah menelepon Clara. Cukup lama, ia menunggu Clara menjawab teleponnya. Lalu, Hamzah berkata pada Aslan, bahwa Clara sudah meng-iya-kan ajakannya.


***


Saat ini, Clara sedang perjalanan menuju resto, tempat di mana sang kakak menunggunya. Ia memesan taksi online dari aplikasi berwarna hijau, dengan logo huruf G.


Sayangnya, saat di lampu merah, terjadi kemacetan. Ternyata, ada kecelakaan yang menyebabkan macet di jalan. Clara melirik jam di tangannya dan bergumam pelan, "Aduh, pasti akan telat ini, sampai tempatnya."


Raut wajah gelisah Clara, terlihat oleh supir taksi. "Kenapa, Mba? sedang buru-buru, ya?"


"Emm ... iya, Pak. Soalnya ada janji penting dengan kakak saya," ungkap Clara.


"Wah, maaf ya Mba. Ini kalau nggak macet ... sekitar dua menit lagi, kita sampai. Tapi, karena ada kecelakaan, jadi macet begini."


"Oh, sudah dekat ya, Pak? kalau begitu, saya turun di sini saja, Pak. Biar saya jalan kaki, sampai ke tujuan."


Supir taksi itu, menoleh ke belakang. "Tapi, Mba—"


"Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah bayar di aplikasinya ya, Pak. Terima kasih ...!"potong Clara. Lalu, ia membuka pintu, dan turun dari mobil.


"Terima kasih banyak, Mba ...!" seru supir taksi, yang kemudian mendapat anggukan dari Clara.

__ADS_1


Berbekal penjelasan dari Googl*maps, Clara berjalan menuju resto, yang dimaksud oleh Hamzah. Saat baru setengah berjalan, ada yang melakukan cat calling padanya. Sontak, Clara mengambil cairan anti mesum yang selalu ia bawa dalam tas. Kemudian ....


__ADS_2