
"Kalian, kenal dengan Nak Aslan?" tanya Maryam penasaran.
"Hanya kenal dari beberapa majalah saja, Bu," jawab Hamzah.
"Kamu juga tahu dia, Nduk?" kini giliran Disha yang ditanyai oleh Maryam.
Disha mengangguk. "Sama seperti Mas Hamzah, Bu."
Sedangkan Aslan, hanya diam mematung dan bingung harus berkata apa. "Emm ... Sebenarnya begini, Bu, Disha, dan Mas Hamzah ... Saya kenal Disha, sejak Disha masih duduk di bangku SMP. Saat masa putih abu-abu pun, saya sempat satu sekolah dengan Disha.
Mungkin Disha tidak mengenal baik saya, tetapi saya sangat mengenalnya. Dan kebetulan, kita bisa dipertemukan langsung, walaupun dengan cara dan situasi yang sedikit rumit," jelas Aslan, yang kemudian mengusap tengkuknya dan tersenyum tipis.
"Ya.. apapun itu, Tuan Aslan, aku ucapkan terima kasih," sahut Hamzah.
"Tidak tidak tidak! cukup panggil aku Aslan. Usiaku masih dibawah Mas Hamzah."
Hamzah mengernyitkan keningnya. "Huh? emm.. kalau begitu, baiklah ... Aslan." Ke-empatnya tertawa ringan, dengan kompak.
***
Di tempat Iyan dan Sisca berada ....
"Sayang, apa kamu sudah dapat kabar tentang Disha dan keluarganya?" tanya Sisca, yang tengah bersandar di dada bidang Iyan.
Iyan membuang napas kasar. "Belum, Sweety. Aku sebenarnya tak ingin peduli. Tapi, aku takut kalau aku akan dicari pihak kepolisian," jawab Iyan, datar.
"Kenapa harus takut, Sayang? 'kan, pelakunya aku."
"Diamlah, Sisca! kamu sudah membuat kesalahan saat melakukan itu. Kenapa kamu harus memakai mobil-ku, untuk mencelakai Disha dan kakaknya itu, hah?!" protes Iyan.
Sisca menarik diri, dari dada bidang Iyan. "Kenapa sih, kita selalu bertengkar tiap bahas hal ini?! Aku waktu itu sedang dalam kondisi dikuasai amarah, Sayang!" Sisca mencoba mencari simpati Iyan, dengan memasang raut wajah sedih.
Pertengkaran yang sudah terulang beberapa kali itu, membuat Iyan merasa jengah, dan memilih pergi meninggalkan apartemen yang ia sewa untuk tinggal bersama Sisca. Sedangkan Sisca, hanya bisa menangis dan menggerutu tak jelas.
***
Beberapa bulan telah berlalu. Disha bersama Ibu dan kakaknya, sudah tinggal di rumah pemberian Aslan. Itulah sebabnya, Iyan tak bisa menemukan keberadaan Disha. Hari ini, jadwal Disha untuk membuka perban yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Kamu sudah siap, Nduk?" tanya Maryam yang tengah menemani putrinya di meja rias.
"He'eh, Bu. Aku sudah siap, sangat ...!" jawab Disha, penuh semangat.
Lalu, keduanya berangkat ke rumah sakit, dengan menaiki taksi online. Di dalam taksi, Disha memikirkan tentang kebaikan Aslan padanya. Mulai dari membawanya bersama sang kakak ke rumah sakit saat kecelakaan, hingga membiayai operasi wajahnya.
"Bu ...!" panggil Disha lirih.
Maryam langsung menoleh, lalu mengusap tangan Disha. "Iya, Nduk.. piye?"
Disha menggeleng. "Nggak apa-apa, Bu. Hanya kepikiran sesuatu saja."
"Tentang apa itu, Nduk?"
"Nanti, akan aku ceritakan, Bu. Hehehe," Disha tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Owalah ... Dasar ...!"
Keduanya tertawa bersama, dan kembali fokus melihat jalan yang dilalui. Beberapa menit kemudian, sampai-lah Disha dan Maryam di halaman rumah sakit. Lalu, mereka langsung menuju ruang dokter Arif, karena sudah membuat janji.
"Selamat siang, Ibu, dan saudari Disha," sambut dokter, yang kemudian mempersilakan Maryam dan Disha untuk duduk. "Sudah siap untuk buka perbannya?" sambung dokter.
"Oh, iya.. saudara Hamzah dan Aslan, sebentar lagi akan sampai. Katanya, mereka juga ingin melihat wajah baru dari saudari Disha," kata dokter, sembari memberikan senyum ramah.
"Baik, Dok. Kami akan tunggu kedatangan mereka berdua," jawab Maryam.
***
Hamzah dan Aslan sudah tiba di ruang dokter Arif. Saat ini, dokter Arif sedang membuka perban di wajah Disha dengan perlahan. Disha merasa gugup, tetapi juga tak sabar ingin segera melihat wajah barunya. Ia sudah memegang cermin ukuran sedang, agar bisa melihat langsung wajahnya, saat perban sudah terbuka sempurna.
"Silakan buka mata, saudari Disha ...!" titah sang dokter.
Disha mengerjapkan mata dan membukanya perlahan. Lalu, ditaruhnya cermin, tepat di depan wajah.
"Bu, ini wajah-ku yang sekarang?" tanya Disha, dengan ekspresi takjub, tak percaya. Ia lalu mengusap lembut pipinya sendiri, dan mencubitnya pelan. "Aww! sakit ...!"
__ADS_1
"Kenapa?!" seru Hamzah dan Aslan bersamaan.
"Aku senang, Mas ... Senang sekali ...!" sahut Disha dengan mata berbinar.
Hamzah dan Aslan terkekeh. Sedangkan Maryam hanya tersenyum, lalu membingkai wajah Disha. "Kamu terlihat semakin cantik, Nduk! tapi, mata dan bibirmu, tetap mirip seperti alm. Ayah," ucap Maryam terharu.
"Ibu benar, Dek. Kamu semakin cantik, tetapi ada yang tetap melekat padamu," timpal Hamzah.
Aslan yang mendengar hal itu, tersenyum penuh haru. Matanya berkaca-kaca, karena melihat betapa besar kasih sayang yang terjalin antara Disha, Maryam, dan Hamzah.
"Syukurlah kalau Ibu, Mas Hamzah, dan Disha merasa senang dengan hasil operasinya. Saya juga turut senang," kata Aslan.
"Disha.. jangan lupakan latihan kita selama beberapa bulan ini, ya!" peringat Aslan.
Hamzah menepuk jidatnya, dan berkata, "Ah, aku hampir terlupa. Untung saja kamu mengingatkannya, Aslan."
"Kita tidak boleh melupakan hal itu, Mas Hamzah. Benar 'kan, Clara Felisha?"
Disha mengangguk dengan sorot mata penuh amarah. Ia sudah tak sabar untuk membalas perbuatan Iyan dan Sisca. Selama beberapa bulan belakangan, saat masih dalam masa pemulihan, ia sudah banyak dibekali hal-hal baru, oleh Aslan.
Mulai dari nama, sikap, gestur tubuh, dan lain-lainnya, semua Aslan ajarkan pada Disha. Dengan bantuan beberapa orang yang ahli dalam bidang tersebut, membuat Disha bisa sedikit berubah. "Aku akan datang, untuk membalas perbuatan dua orang pengkhianat yang telah mencelakai aku dan Mas Hamzah!" tekad Disha.
***
Dalam acara peluncuran kosmetik baru....
"Terima kasih untuk Nona Clara Felisha, yang telah ikut menjadi sponsor dalam acara malam ini. Kepada Nona Clara, silakan naik ke atas panggung, untuk memberi sambutan pada tamu undangan yang ada di sini ...!" ucap pembawa acara, yang kemudian disusul dengan suara tepuk tangan yang meriah.
Clara bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan naik ke atas panggung, dan memberi sambutan. Salah satu tatapan dari tamu undangan, membuat Clara tersenyum sinis. Ya, Iyan turut hadir dalam acara itu, dan kini.. Iyan sedang memperhatikan dirinya, tanpa berkedip.
"Terima kasih atas sambutannya, Nona," ucap pembawa acara, sambil mempersilakan Clara, untuk duduk kembali.
Clara sudah kembali duduk di tempatnya. Ia mencoba untuk tetap terlihat anggun, seperti yang diajarkan oleh orang pilihan Aslan. Untuk sementara, Clara merasa aman, karena belum mendapat gangguan dari Iyan.
Iyan yang hadir bersama Sisca, matanya terus menatap pada Clara, yang mana, tempat duduknya tak begitu jauh jaraknya. Hanya selisih dua meja saja. "Sayang, kamu lihat siapa sih?!" tanya Sisca, dengan wajah cemburu.
"Ah, tidak lihat siapa-siapa kok, Sweety. Sudah.. kita nikmati kembali acaranya, ya!" elak Iyan, sambil merangkul Sisca, dan memalingkan wajahnya ke arah panggung. Senyum penuh nafsu, terukir di bibir Iyan.
__ADS_1
Clara yang sempat melihat sekilas ke arah Iyan, menyunggingkan senyuman licik. Ia merasa sangat yakin bahwa : rencana yang sudah disusun rapi olehnya, pasti akan berjalan lancar. Hingga saat pertengahan acara, tiba-tiba saja...
"Selamat malam, Nona Clara ...!"