Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 030


__ADS_3

"Bagaimana bisa? A-aku ...." Disha tergagap, lalu membisu. Ia tak bisa menjawab pertanyaan dari Aslan, yang sangat mengejutkan dirinya.


"Aku akan kabari lagi nanti, mas!"


Sambungan telepon pun terputus. Disha memilih untuk mengakhiri telepon, karena bingung harus menjawab apa, atas pertanyaan Aslan.


Disha meletakkan ponselnya kembali, ke atas nakas. Lalu, ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Satu tangannya, memijat kening, dan satu tangan lagi, menepuk-nepuk kasur.


"Aku harus bagaimana sekarang? Harus kah aku terima ajakan mas Aslan?" gumam Disha, lirih.


Disha berdecak dan menggeleng cepat. "Ish! Aku ini kenapa sih? Harusnya 'kan, langsung jawab iya saja, saat mas Aslan meminta ku untuk bertemu. Huft ...!"


Setelah bermonolog, Disha bangkit dan mengirim pesan pada Aslan. Ia setuju untuk bertemu dengannya nanti. Disha juga meminta, untuk menjemputnya nanti.


Selesai bersiap, tepat pukul empat sore, Aslan sudah tiba di rumah Maryam. Maryam yang menyambut kedatangan Aslan, merasa heran. Pasalnya, Aslan datang dengan setelan begitu rapi, seperti akan menghadiri pesta formal.


"Silakan masuk dan duduk dulu, Nak Aslan! Disha, mungkin masih bersiap," ucap Maryam, dengan tatapan yang tak lepas dari Aslan. Maryam berjalan di depan Aslan, dan duduk di sofa.


"Khem ...! Bu, apa ada yang salah dengan pakaian saya?" Aslan terlihat grogi.


"Eh ... tidak ada yang salah kok, Nak Aslan. Hanya saja, tumben rapi sekali. Seperti mau menghadiri pesta."


Aslan yang sudah mendaratkan pantat di sofa itu, mengusap tengkuknya. "Sebenarnya, saya mau mengajak Disha untuk bertemu dengan orang tua saya, Bu. Apakah boleh, saya membawa Disha malam ini, untuk ke rumah orang tua saya?"


Maryam membulatkan mata, terkejut. "A-ada perlu apa, Nak Aslan ... sampai harus bertemu dengan orang tua Nak Aslan? Apa Disha melakukan kesalahan?"


"Tidak, Bu. Ini karena orang tua saya, ingin bertemu dengan sekretaris. Jadi, saya akan membawa Disha, untuk bertemu dengan orang tua saya," jawab Aslan, cepat.


Maryam pun bernapas lega. "Syukurlah ... Ibu kira, Disha melakukan kesalahan. Kalau begitu, semoga orang tua Nak Aslan cocok dengan cara kerja Disha, ya."


Aslan mengangguk tersenyum, begitu juga dengan Maryam. Lalu, keduanya pun mengobrol dengan topik lain. Tak lama kemudian, Disha akhirnya keluar dari kamar.


"Cantik sekali kamu, Nduk," puji Maryam, seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Aku kan putri Ibu dan aku ini perempuan. Tentu saja aku cantik, hehehe."

__ADS_1


Maryam menggeleng tersenyum, melihat tingkah putrinya itu. "Ya sudah, baiklah. Kamu memang selalu saja, bisa menjawab."


Aslan tengah memperhatikan Disha, tanpa berkedip. Matanya memancarkan kekaguman pada Disha. Ya! Wanita yang menjabat sebagai sekretarisnya itu, memang terlihat sangat cantik saat ini.


Rambutnya digelung rapi. Tubuhnya berbalut setelan ala korea; blouse berwarna baby blue, dan pencil skirt berwarna putih. Wajahnya dipoles dengan make up tipis, tetapi terlihat mempesona.


"Mas Aslan, kita berangkat sekarang?" tanya Disha, sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Aslan.


Aslan terjingkat dan menjawab dengan sedikit gugup, "I-iya, Disha. Kita berangkat sekarang."


Disha menggeleng pelan dan terkekeh. "Ya sudah, ayo! Bu, aku berangkat dulu, ya ...!"


Disha meraih tangan Maryam, dan menciumnya takzim. Begitu pula dengan Aslan. Lalu, keduanya pun pergi. Aslan membuka pintu mobil untuk Disha.


Perlakuan tersebut, berhasil membuat Disha merona. Sedangkan Aslan, ia hanya tersenyum dan sedikit salah tingkah.


***


Sesampainya di rumah orang tua Aslan ....


Disha membulatkan mata dengan mulut sedikit terbuka. Ia tak menyangka, kedatangannya ke rumah orang tua Aslan, justru diperkenalkan sebagai calon menantu.


Kedua orang tua Aslan yang tengah duduk di halaman depan pun, langsung berdiri. Keduanya mengamati Disha dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Nama kamu, Disha?" tanya Rita, Ibu Aslan. Raut wajahnya terlihat agak sinis dan tak suka.


"Ma! Jangan pasang ekspresi begitu!" bisik Bima, Ayah Aslan, dengan nada tegas.


Rita berdecak kesal, dengan melipat tangan ke depan dada. Bima menggeleng, tak habis pikir dengan kelakuan sang istri.


"Nak Disha, ayo masuk! Aslan, ajak dia masuk ...!" titah Bima, yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Aslan.


Rita menyusul sang suami, masuk ke rumah. Sedangkan Aslan, ia menggenggam jemari tangan Disha, tanpa bertanya terlebih dulu. Tentu saja Disha tak bisa menolak, karena ia sedang terkejut dan bertanya-tanya dalam hatinya, "Apakah ini mimpi, atau benar-benar nyata?"


"Khem ...!" Rita menatap Aslan dan Disha.

__ADS_1


Lalu, Aslan yang menyadari kalau ibunya tengah melihat ke arahnya, langsung melepas genggaman tangannya dari tangan Disha. Disha pun mengatur ritme napasnya yang sedikit memburu, karena rasa terkejut tadi.


"Silakan duduk, Nak Disha!" titah Bima, dengan ramah.


Disha mengangguk dan berjalan menuju sofa. Lalu, ia mendaratkan pantatnya. "Selamat sore, Om, Tante ...!" sapa Disha, canggung. Beberapa kali, ia terlihat memilin bagian pinggir rok, yang ia kenakan.


"Sore, Nak Disha ...!" hanya Bima yang menjawab. Rita sibuk dengan ponselnya sendiri. Bima melirik sekilas pada istrinya itu, lalu memberikan tatapan tajam.


Rita yang ketakutan, langsung menjawab sapaan Disha. "Jadi, sudah berapa lama, kamu dan anak saya punya hubungan?"


Disha menoleh ke samping, karena di situ lah, Aslan duduk. Aslan tersenyum kikuk, sambil memperlihatkan ponselnya. Ternyata, Aslan mengetikkan sesuatu di ponsel; Tolong bantu aku, Disha. Bilang saja, kita baru punya hubungan beberapa bulan. Rencananya, kami akan menikah dalam waktu dekat.


Sontak, Disha langsung menegang. Tapi, ia juga tak bisa menolak membantu Aslan, sekarang ini. Lalu, Disha pun menarik napas dalam.


"Kami baru beberapa bulan menjalani hubungan ini, Om, Tante. Dan rencananya, kami akan menikah dalam waktu dekat." Disha memasang senyum. Meski sebenarnya, ia tengah gemetaran.


Bima terlihat senang dan antusias. "Bagus kalau begitu! Iya 'kan, Ma?"


Rita hanya memasang wajah datar. "Hem ... iya, bagus. Tapi, bagaimana dengan Elma?"


"Ma, aku sudah menolak dijodohkan dengan Elma sejak lama ...!" protes Aslan, tak terima dengan pertanyaan Rita.


"Ma, anak kita sudah besar dan bisa memilih pasangan hidupnya sendiri!"


Rita mendengkus kesal, mendapat peringatan dari Bima. Lalu, ia terpaksa memasang wajah ramah dan tersenyum. "Kalau begitu, berapa hari lagi kalian menikah?"


"Hah?!" ucap Disha dan Aslan bersamaan.


Bima tertawa melihat Disha dan Aslan, kompak terkejut. "Kalian ini kenapa? Kami 'kan, hanya ingin segera kalian segera menikah. Kami ini, ada banyak pekerjaan juga. Jadi, tolong jangan lama-lama menunda pernikahan, ya!"


"Iya, Papa mu benar, Aslan. Sebaiknya, segera langsungkan pernikahan."


"T-tu-tunggu dulu dong, Ma, Pa ...! Disha ini, belum tentu mau menikah dalam waktu dekat ini. Dia masih baru merintis usaha juga, bersama ibunya," ujar Aslan.


"Ya sudah, nanti malam kita ke rumah Disha. Bagaimana?" tanya Bima.

__ADS_1


"Apa?!" lagi, Disha dan Aslan berucap kompak.


__ADS_2