Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 037


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Aslan mendapati kedua orang tuanya yang tengah duduk di teras. Ia sedikit memelankan laju kakinya, karena sedang tak ingin berdebat dengan Mamanya.


Melihat Putranya sudah datang, Rita bangkit dari duduknya. "Kamu dari mana saja, Aslan? Mama dapet telepon dari —"


"Iya tau, Ma. Aku juga diteror sama wanita tak jelas yang selalu mengganggu!" Aslan memotong ucapan Rita dengan ekspresi malas dan agak kesal.


Bima menggeleng pelan, tak habis pikir dengan istrinya yang selalu membela Elma. Padahal, perjodohan dengan Elma sudah dibatalkan dan Aslan akan segera menikah dalam waktu dekat. Bima akhirnya ikut berdiri, mencoba menengahi anak dan istrinya yang tengah dikuasai emosi.


"Mama! Sudah lah, jangan terlalu keras pada putra kita ini. Dia lelah seharian ini bekerja, dan Mama malah menyambutnya dengan cara begini?"


Rita mendengkus kesal. Tangannya, ia lipat ke depan dada. Wajahnya terlihat memerah.


"Papa itu kenapa sih? Papa ini malah nggak belain Mama! Harusnya Aslan itu mau bertemu dengan Elma, bukan mencaci-maki Elma!" ketus Rita, tak mau kalah.


Aslan yang tak terima, membuang napas kasar. "Oh, jadi Mama yang menyuruh Elma untuk datang ke kantor ku, begitu? Dia hampir saja mencelakai Disha, Ma! Untung saja aku datang menyelamatkan Disha tepat waktu."


"Ck!" Rita memutar bola mata malas.


Dengan suara lantang, Bima berkata, "Mama! Apa benar yang dikatakan Aslan? Mama menyuruh Elma menemui dia," Bima menunjuk Aslan dan melanjutkan ucapannya, "ke kantor? Jawab Ma!"


Rita menunduk, merasa takut dan gugup. Ia tahu betul, suaminya sangat tak menyukai Elma, terutama sifat Elma. Rita belum berani menjawab sang suami, matanya bergerak ke kanan-kiri sambil memikirkan jawaban. Lalu, Rita pun mengakui perbuatannya. "I-it-itu ... I-itu ... Anu, Pa, Mama minta Elma datang ke kantor Aslan, untuk minta maaf pada Aslan dan Disha."


Aslan berdecak. Ia menjelaskan pada Bima, bahwa kedatangan Elma ke kantor bukan untuk meminta maaf. Justru, saat ia melihat Elma hendak menarik rambut Disha, Aslan melihat pisau lipat yang disembunyikan oleh Elma.


Hal itu sontak membuat Bima dan Rita terkejut, membulatkan mata. Kebenarannya, Rita memang tak menyuruh Elma untuk minta maaf, melainkan untuk memberi Disha pelajaran dengan cara merendahkan Disha. Tapi, ia juga tak menyangka kalau Elma akan se-berani itu.


"Sekarang Disha bagaimana keadaannya, Aslan?" tanya Bima dengan wajah khawatir.


Aslan menjawab dengan tenang, pertanyaan dari Ayahnya itu. "Sudah aman, Pa. Aku yang mengantar Disha pulang tadi."


Bima dan Rita bernapas lega. Lalu, ketiganya pun masuk ke rumah.


***


Di rumah Maryam ....

__ADS_1


"Nduk, kayaknya hari ini lelah sekali," kata Maryam yang melihat Disha seperti kelelahan.


Disha tersenyum dan memeluk Ibunya sejenak. Lalu, ia mengatakan kalau hari ini memang lumayan melelahkan. Namun, setelah melihat senyum di wajah Ibunya, ia kembali semangat. Tak ada yang lebih berharga bagi Disha saat ini, selain senyum dari Maryam.


Maryam yang mendengar penuturan seperti itu dari Disha, merasa terharu dan kembali memeluk putrinya. Kemudian, Disha pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Maryam, ia ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Selesai membersihkan diri, Disha menyusul Ibunya ke dapur. Ia langsung membantu sang Ibu, tanpa menunggu aba-aba. Sesekali, keduanya bersenandung lagu lawas, kesukaan mendiang Adam. Hingga menjelang maghrib, mereka berdua selesai dengan satu masakan kuah dan lauknya.


"Owalah, Nduk. Padahal kamu baru mandi, eh jadi keringetan lagi," kata Maryam.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku tak terlalu berkeringat kok. 'Kan, di sini nggak terlalu gerah. Hehehe. Sini, Bu, biar Disha yang bawa semua ini ke meja makan. Ibu wudhu saja dulu, sebentar lagi adzan maghrib."


"Baiklah, Nduk. Terima kasih ya, sudah bantu Ibu," ucap Maryam sambil mengusap lembut pipi Disha.


Disha pun mengangguk dan tersenyum. Lalu, ia mulai membawa masakan yang sudah siap, ke meja makan.


***


"Papa dan Mama pulang dulu, Nak! Kamu jaga diri baik-baik. Oh iya, sekalian kita bilang di sini ya, Ma?" kata Bima yang sedang berjalan menuju pintu utama rumah Aslan.


Aslan masih diam dan menyimak. Ia juga bingung dengan kedua orang tuanya itu, yang kadang masih sering tak se-irama.


"Lho, Mama ini bagaimana sih? Haduh ... Kita 'kan mau ke luar negeri, Ma. Berkunjung ke rumah Serly. Apa Mama lupa hal itu?"


Rita menepuk jidatnya. "Oh, so sorry, Papa. Mama benar-benar lupa. Kalau begitu, ayo sekarang kita bersiap-siap, Pa!"


Bima menggeleng pelan dan berkata, "Ya sudah, ayo kita pulang sekarang. Mama masuklah dulu ke mobil, ya! Papa akan menyusul."


Rita hanya mengangguk dan melakukan apa yang dikatakan Bima padanya. Sementara Bima, sedang memberi nasehat sebentar pada Aslan. Setelahnya, barulah Bima masuk ke mobil, dan segera melesat pergi meninggalkan rumah Aslan.


Aslan menatap layar ponsel dengan wallpaper foto Disha. Ia tersenyum dan berkata, "Wanita kesayangan-ku, Disha Maharani. I love you!" Lalu, Aslan pun masuk kembali ke rumah.


***


Selesai makan malam, Disha lamgsung kembali ke kamar dan membuat surat perjanjian yang diminta oleh Aslan.

__ADS_1


"Dua tahun itu ... Terlalu lama tidak ya? Duh, aku jadi bingung begini. Ah, sudahlah, yang penting buat surat perjanjiannya saja dulu," monolog Disha, sambil terus menatap ke layar laptopnya.


Lalu, ia melanjutkan kembali aktivitasnya. Setelah selesai, ia mengecek ponsel terlebih dulu. Ternyata, ada satu pesan dari Aslan. Disha baru tahu karena ponselnya dalam mode senyap.


Aslan : Disha, kamu sedang apa malam ini?


Disha tersenyum dengan sendirinya, setelah membaca pesan itu.


Disha : Saya baru selesai membuat surat perjanjian untuk pernikahan kita, Tuan Aslan.


Disha terkekeh setelah membalas pesan Aslan. Hingga terjadilah saling berbalas pesan, sampai akhirnya Disha mengakhiri obrolan tersebut.


Disha : Tuan Aslan, saya akan tidur sekarang. Selamat malam, Tuan.


Tak lama kemudian, Aslan pun memberi balasan.


Aslan : Baiklah, Nona Disha. Silakan tidur, semoga besok harimu menyenangkan.


***


Satu bulan berlalu, membuat orang tua Aslan sering mendesak untuk segera melangsungkan pernikahan. Tapi, Disha masih belum ingin melakukannya. Ia ingin menunggu awal tahun depan saja.


Aslan tak mempermasalahkan hal itu. Karena ia tahu, Disha masih sering terpikirkan masa lalunya. Namun, ia juga selalu berusaha meyakinkan Disha, bahwa ia akan melakukan apapun untuk membuat Disha bahagia. Termasuk; membantu Disha mencari tahu tentang kecelakaan yang dialami oleh mendiang Adam.


Hal itu lah yang membuat Disha sering berpikir ulang untuk mempercepat pernikahannya. Sekarang ini, sudah memasuki bulan Desember dan menuju akhir bulan. Disha menimbang-nimbang perkataan Aslan yang menawarkan bantuan untuk menyelidiki kasus kematian Ayahnya.


Akhirnya, Disha memutuskan untuk menemui Aslan. Tanpa menunggu lama, ia langsung mengirim pesan pada Aslan.


Disha : Tuan, bisa kah Tuan datang menemui saya di kedai kopi tenang hati?


Sedikit lama Disha menunggu, balasan dari Aslan.


Aslan : Ada apa, Nona? Kamu mau bertemu denganku, jam berapa? Atau, mau aku jemput saja?


Disha kembali berpikir dan akhirnya memutuskan untuk menunggu Aslan menjemputnya nanti siang. Ia ingin membahas hal serius dengan calon suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2