Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 050


__ADS_3

Pukul enam pagi, Aslan meminta Toni untuk menemuinya di ruang kerja. Sedangkan Disha, ia sudah berkutat dengan perdapuran.


"Selamat pagi, Tuan Aslan." Toni duduk setelah dipersilakan oleh sang majikan.


Aslan memasang wajah serius. "Pak Toni, apa ada perkembangan dari tawanan kita? Sudah kah dia mengatakan, apa yang melatar belakangi perbuatannya?"


Toni menggeleng pelan. "Sudah berbagai cara dilakukan, tapi hasilnya tetap nihil, Tuan."


Aslan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu, Pak Toni. Sekarang, saya akan menemui dia. Tolong pantau keadaan!"


Toni langsung mengangguk mantap mendengar ucapan Aslan. Lalu, Aslan berjalan menuju kamar di dekat ruang kerjanya dengan mengendap-endap dan celingukan.


(Aslan membuka pintu dan langsung menutupnya dengan pelan)


"Kau sudah bangun, Yoga?"


Pria tawanan itu mengangkat kepalanya. Ia tersenyum sinis dengan tatapan meremehkan. "Untuk apa kau datang ke sini, pengecut!"


"Hahaha. Aku, pengecut? Sejak kapan aku melarikan diri dari perjodohan yang dilakukan oleh orang tuamu, huh?!" Aslan berjalan mendekati Yoga.


Aslan mencengkeram kuat pipi Yoga. "Kau tau, Yoga? Bahkan pacarmu sudah berani mengganggu istriku."


Mata Yoga membulat. Aslan tersenyum miring melihat keterkejutan Yoga.


"Kau terkejut? Kau pasti lupa, kalau pak Toni adalah tangan kananku yang paling ahli dalam mencari informasi."


Aslan melepas cengkeramannya dengan kasar. "Kau sudah terlalu jauh mengganggu istri dan keluarga mertuaku, Yoga! Sekarang katakan, kenapa kau merusak toko milik Ibu mertuaku tahun lalu? Dan siapa yang menyuruhmu, huh?!"


Yoga tertawa, kemudian menatap tajam Aslan. "Kau masih penasaran, Aslan? Oh, asta —"


Bugh!


Aslan memberi bogem mentah pada Yoga. Hal itu membuat Yoga menyipitkan mata dan meringis karena menahan sakit.


"Aku bisa melakukan hal yang sama juga pada bisnis orang tuamu, Yoga!" Aslan berjalan hendak keluar dari kamar.


Saat menyentuh handle pintu, Aslan kembali berbalik menatap Yoga. "Jika kau ingin keluarga terutama adik dan pacarmu yang sangat kau sayangi itu aman, cepat katakan siapa dan atas alasan apa, perusakan toko tahun lalu itu!"


Tanpa mempedulikan reaksi Yoga, Aslan lalu memutar handle pintu.


"Tunggu, Aslan!"


Aslan tanpa berbalik menjawab, "Kau berubah pikiran atau hanya ingin main-main saja?"


Yoga terdiam sejenak, dengan wajah gugup. "S-ss-sebenarnya, Ibumu yang menyuruhku, Aslan. Aku hanya tidak ingin orang tuaku dalam kesulitan jika membantah perintah dari Ibumu."


Aslan tercekat dan membalikkan badannya. "Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa Ibuku adalah dalah dibalik perusakan toko tahun lalu? Jelaskan!"

__ADS_1


Yoga menarik napas dalam sebelum menjelaskannya pada Aslan, yang kini sudah duduk tepat di hadapannya. Sesekali, ia mencoba meredakan gugupnya dengan menjetikkan jari-jarinya.


"Kau tau Aslan? Ibumu dan Ibu dari mantan istrimu, sebenarnya sudah saling mengenal sejak lama. Aku pun lebih memilih untuk tidak mematuhi perintah Ibumu, jika saja orang tuaku tidak diancam."


(Suatu hari, di kediaman orang tua Elma, Adik dari Yoga)


Yoga membuka pintu karena terdengar bel berbunyi. Setelah membuka pintu, Yoga hendak mempersilakan tamunya masuk. Tapi, tamu tersebut menolak untuk masuk.


"Adikmu menolak perjodohan, sama seperti Aslan. Karena saya kecewa, saya ingin kamu membuat keonaran, bahkan rusak tempatnya jika perlu."


"T-tapi, Tante ... Bagaimana mungkin saya melakukannya?"


"Kamu tidak paham? Ya ampun! Saya tidak mau tangan saya kotor, jadi biarlah tanganmu saja yang kotor. Sebagai jaminan, orang tua kamu akan tetap aman jika perusakan sebuah toko itu berhasil."


Rita menyilangkan tangan ke depan dada. Tatapannya begitu sinis dan angkuh. "Toko kue Amar namanya. Buatlah keonaran di sana dan jika mereka datang, lempar mereka dengan batu!"


Rita tak menunggu jawaban atau persetujuan dari Yoga. Ia langsung melenggang pergi dari rumah itu.


(Yoga menangis setelah menceritakan semua pada Aslan)


"Kau sungguh-sungguh dengan perkataanmu ini?" Aslan masih belum bisa mempercayai Yoga sepenuhnya.


"Tentu saja, Aslan! Kau bisa tanyakan hal itu pada Ibumu jika perlu. Bahkan, pacarku sebenarnya bukan orang yang mudah melakukan kejahatan. Pasti Elma dan Ibumu yang sudah menghasut pacarku."


"Kau bilang apa? Elma? Kenapa Elma?"


Yoga memalingkan wajahnya ke samping. "Bahkan, aku meyakini satu hal bahwa pacarku sudah bekerja sama dengan Elma dan juga Ibumu."


Aslan menaikkan satu alisnya. "Bagaimana kau bisa se-yakin itu?"


"Karena aku tahu, dia wanita yang sangat menggilai uang jika dihasut berulang-ulang."


Aslan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, pacarmu sama jahatnya dengan Elma, begitu?"


Yoga membuang napas kesal. "Sayangnya begitu. Dan aku bertekad untuk merubahnya. Hahaha, lucu sekali bukan?" Yoga tersenyum kecut setelahnya.


"Tidak. Kau tidak sepenuhnya lucu. Aku yakin, kau memang sangat ingin melihat pacarmu menjadi wanita yang baik."


Aslan dan Yoga terdiam. Hingga akhirnya, Aslan ingat sesuatu.


"Sebentar ... Kau bilang, orang tuamu diancam 'kan?"


"Iya, orang tuaku diancam oleh Bu Rita."


"Lalu, kenapa orang tuamu tak pernah mencari keberadaanmu? Kau sudah lama menjadi tawananku, Yoga."


Yoga tercekat, ia juga baru menyadarinya. Bahkan ia tak pernah mendengar siaran berita tentang dilaporkannya orang hilang.

__ADS_1


"Kau benar, Aslan. Apakah selama ini mereka mengira bahwa aku telah tiada?"


Aslan memikirkan sesuatu. Begitu pula dengan Yoga.


'Jika Yoga benar diancam oleh Mama, kenapa Mama tak pernah terlihat khawatir setelah Yoga tertangkap? Seharusnya, orang lain yang menemani Yoga saat itu, melaporkan pada Mama dan orang tua Yoga bahwa Yoga tertangkap olehku.'


Sedangkan Yoga, ia masih dengan wajah bertanya-bertanya dan memikirkan satu hal, 'Bagaimana mungkin Ayah dan Ibu tidak mencariku hingga sekarang. Apa aku tidak penting bagi mereka berdua?'


***


"Pak Toni, Mas Aslan di mana?"


Toni yang sedang duduk di depan ruang kerja Aslan terjingkat. "Eh, Nyonya Disha. Tuan sedang —"


"Kamu mencari aku, Disha?"


Toni dan Disha menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Aslan baru saja keluar dari kamar 'rahasia'nya.


"Mas, aku sudah selesai membuat sarapan. Ayo kita sarapan! Pak Toni, ayo ikut kamu sarapan!"


Toni menatap Aslan. "Tapi, Nyonya —"


"Ikut saja, Pak Toni. Ayo!" Aslan lalu merangkul pundak Toni.


Ketiganya pun berjalan menuju meja makan.


"Tuan, bagaimana hasilnya?" Toni berbisik pada Aslan sambil terus berjalan.


"Nanti akan saya ceritakan, Pak Toni. Sekarang, kita sarapan dulu saja!"


Disha menghentikan langkahnya. Hal itu membuat Aslan dan Toni, ikut berhenti.


"Ada apa, Disha?"


"Ada apa, Nyonya?"


Tanya Aslan dan Toni bersamaan. Disha berbalik dan menatap dua orang pria yang masih dalam posisi saling merangkul pundak. Tatapan Disha penuh selidik, membuat Aslan dan Toni sedikit gugup.


"Kalian berbisik-bisik tentang apa? Hasil dan menceritakan apa?"


Disha menatap Aslan dan Toni bergantian. Lalu, Aslan memikirkan jawaban yang bisa mengalihkan Disha.


"Jadi, begini ...."


Aslan dan Toni kembali menjawab bersamaan.


"Huh?"

__ADS_1


__ADS_2