Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 070


__ADS_3

Baru beberapa langkah Aslan berjalan, Aslan berbalik. "Pak Toni, soal yang kapan hari itu, apa sudah ada kemajuan?"


Toni tersenyum. "Sudah saya diga, Tuan pasti akan menanyakannya."


***


Usia kehamilan Disha sudah mendekati hari perkiraan lahir. Namun, hal itu tak membuat Disha berhenti untuk selalu mengirimkan makan siang ke tempat kerja sang suami. Seperti siang ini, Disha bersama Toni sedang dalam perjalanan menuju kantor Aslan.


Toni melihat dari kaca, Disha sangat bersemangat hari ini.


"Nyonya terlihat bahagia sekali hari ini."


Disha tersenyum. "Tentu saja, Pak Toni. Kalau saya bersedih, kasihan bayi saya dong. Hehehe."


Toni terkekeh.


"Nyonya benar. Semoga kandungan Nyonya selalu sehat dan dimudahkan sampai melahirkan nanti."


"Amin," ucap Disha dan Toni bersamaan.


Sesampainya di kantor, Disha segera menuju ruangan Aslan. Saat akan mengetuk pintu, seorang wanita keluar dari ruangan Aslan.


Disha sedikit terkejut. Lalu, wanita itu menyapa Disha dengan ramah.


"Selamat siang, Bu."


Disha hanya mengangguk tersenyum. Setelahnya, Disha langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Aslan yang tengah duduk membaca berkas pun langsung menoleh ke pintu.


"Sayang, kamu sudah sampai?"


Aslan berdiri dan menghampiri Disha. Aslan mencium pipi Disha.


"Kenapa kok cemberut begitu mukanya? Apa tadi aku kelupaan sesuatu sebelum berangkat ke kantor?"


Disha menggeleng dengan wajah kesal.


"Lalu, kenapa?"


"Siapa wanita tadi, yang baru saja keluar dari ruangan ini?"


Aslan paham dengan arah pertanyaan Disha. Aslan lalu merangkul Disha.


"Yang tadi itu karyawan baru, Sayang. Kalau tidak percaya, boleh nanti kita atau kamu mau cek sendiri ke ruang kerjanya."


Disha diam, masih dengan wajah cemberutnya.


"Ya ampun, bumil satu ini bikin gemas deh!"


Aslan mencubit kedua pipi Disha pelan.


"Nanti kita jalan-jalan beli perlengkapan bayi lagi, mau? Kita beli yang belum ada. Gimana?"


Aslan menaik-turunkan kedua alisnya. Menggoda Disha yang masih saja kesal.


Perlahan, raut wajah Disha berubah. Terlihat senyum tipis yang Disha ukir di bibirnya.


"Hanya buat dede bayi nih?" Disha memasang raut memohon.


Aslan terkekeh dan memeluk sang istri. "Tentu saja untuk kamu juga, Sayang."


Disha lalu menyiapkan makan siang, dibantu oleh Aslan. Setelah makan siang, Aslan pergi bersama sang istri untuk menepati janjinya.


"Pak Toni, tolong antar kami ke toko perlengkapan bayi."

__ADS_1


"Lagi, Tuan?"


Aslan menghampiri Pak Toni dan berbisik, "Nyonya Bumil sedang kesal, Pak. Jadi, inilah yang bisa saya lakukan untuk membujuknya."


Aslan dan Toni saling mengangguk. Lalu, Toni lekas melajukan mobil setelah kedua majikannya itu masuk.


***


Di kediaman Maryam, tengah terjadi sesuatu yang menghebohkan. Riyani mendapat ancaman dari orang misterius lewat pesan dari nomor tak dikenal.


Maryam menutup semua pintu dan jendela rumahnya. Lalu, ia membawa Riyani serta Kumala untuk tetap di kamar.


Dua body guard yang Aslan tugaskan untuk berjaga di rumah Maryam, sudah diberitahu soal pesan ancaman itu dan mereka berdua tengah mengawasi seluruh rumah. Setelah dirasa aman, kedua body guard itu kembali ke halaman rumah.


Riyani terkesiap saat ponselnya mendapat pesan baru. Lekas, Riyani membacanya.


xxxx : Kau ketakutan? Hahaha. Padahal itu baru ancaman, belum aku lakukan!


"Bu, coba baca ini." Riyani memberikan ponselnya pada Maryam.


Maryam mematung setelah membacanya.


"Nduk, apa pikiran kita sama?"


"Hamzah?" ucap Maryam dan Riyani bersamaan.


Maryam menyuruh Riyani untuk segera menelepon Hamzah. Riyani langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Maryam.


Dua kali tersambung, dua kali tak dijawab. Hal itu membuat Riyani semakin panik dan khawatir. Hingga akhirnya, Riyani memutuskan untuk pergi ke tempat Hamzah bekerja.


"Ibu ikut, Nduk!"


"Tapi, Bu —"


Riyani menarik napas panjang. "Baiklah. Ayo, Bu!"


Riyani lalu meminta kedua body guard untuk mengantarnya. Sepanjang perjalanan, Riyani dan Maryam sama-sama tak tenang.


Kedua body guard itu menyadari ada kekhawatiran di raut wajah dua wanita yang duduk di kursi penumpang tersebut. Namun, mereka berdua tak berani bertanya karena takut membuat Riyani dan Maryam marah.


Sesampainya di kantor tempat Hamzah bekerja, Riyani yang menggendong Kemala langsung berlari menuju ruangan Hamzah. Maryam menyusul di belakang Riyani dengan berjalan pelan.


Riyani langsung membuka pintu ruang kerja Hamzah tanpa mengetuk dan mengucap permisi. Hal itu membuat Hamzah yang tengah berbincang dengan seorang wanita, menjadi tak enak hati.


"Maaf, Bu. Tapi, saya sudah jelaskan kalau saya tidak bisa menerima tawaran Anda. Terima kasih."


Hamzah lalu berdiri dan menghampiri Riyani yang masih berdiri di ambang pintu. Wajah Riyani berantakan, dihias dengan berbagai macam ekspresi. Antara lega, senang, sedih dan takut masih bercampur menjadi satu.


Wanita yang berbincang dengan Hamzah tadi, akhirnya keluar dari ruangan Hamzah tanpa berpamitan. Wanita itu sempat berpapasan dengan Maryam. Dilihatnya dari atas hingga bawah penampilan Maryam.


Maryam lantas bertanya, "Ada masalah?"


Wanita itu menggeleng cepat, lalu berjalan kembali. Sedangkan Maryam yang sudah masuk ke ruang kerja Hamzah, mendapati putranya tengah menenangkan Riyani. Kemala sudah ada dalam gendongan Hamzah.


"Sebenarnya kamu ini kenapa? Kok tiba-tiba datang dengan wajah khawatir dan panik seperti ini?"


Riyani menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia menangis tersedu.


"Bu, tolong jelaskan ada masalah apa? Apa aku melakukan kesalahan?"


Maryam lalu menghampiri Hamzah. "Tidak ada apa-apa. Hanya saja tadi ...."


***


Disha dan Aslan sudah pulang ke rumah. Sedangkan pekerjaan di kantor, Aslan meminta sang sekretaris yang menghandle-nya.

__ADS_1


"Mas? Sekretaris yang sekarang bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Cantik tidak?"


Aslan tercekat. 'Harus aku jawab apa ini, ya Allah. Salah jawab, aku bisa disuruh tidur di luar kamar ini.'


Disha yang tengah merapikan belanjaan kembali bertanya, "Cantik atau tidak, Mas?"


Saat Aslan akan menjawab, terdengar suara bel berbunyi. "Sayang, aku lihat dulu siapa yang datang ya?"


"Ikut, Mas!"


Disha bangkit dari duduknya dan merangkul tangan Aslan. Keduanya lalu menengok ke ruang tamu dan mendapati seorang wanita dengan pakaian ala pengasuh anak.


Disha memicingkan matanya. "Kamu yang panggil wanita itu ke sini, Mas?"


Aslan langsung menoleh pada Disha. "Tentu saja tidak. Mas, malah belum terpikirkan untuk memanggil pengasuh anak."


"Terus, kok dia bisa ke sini?"


Aslan dan Disha masih berdiri di tangga, sebelum turun untuk menemui tamunya.


"Aku saja yang temui dia."


"Ya sudah, Sayang. Mas tunggu di kamar saja ya?"


"Oke, Mas."


Disha menatap punggung sang suami. Setelahnya, ia menghampiri tamu itu.


"Selamat sore."


Wanita itu berdiri dan tersenyum. "Selamat sore, Bu Disha. Saya Vika."


Tangan keduanya saling menjabat. Lalu, Disha meminta Vika untuk duduk kembali.


"Jadi, ada perlu apa Anda ke sini?"


Vika lalu mengeluarkan sebuah kertas kecil dan memberikannya pada Disha. Disha pun menerima dan membacanya.


"Ini, kamu dapat dari mana?"


"Dari pak Hamzah, Bu."


"Oh, jadi kamu yang dimaksud oleh kakak saya?"


Vika mengangguk.


"Tapi maaf, saya belum bisa menerima kamu bekerja di sini."


Vika sedikit kecewa. Hal itu terlihat dari raut wajahnya.


"Pak Aslan juga belum bisa menerima saya bekerja di sini, Bu?"


Pertanyaan itu membuat Disha geram.


"Apa maksud kamu menanyakan pendapat suami saya?"


Vika menunduk. "S-saya hanya bertanya saja, Bu."


"Hanya bertanya hanya bertanya. Itu tidak sopan! Saya yang menemui kamu, bukan suami saya!"


Aslan yang mendengar adanya keributan, langsung turun ke ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2