Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 071


__ADS_3

"Sebenarnya ada apa, Bu? Kenapa Riyani bisa sampai se-cemas ini?" tanya Hamzah dengan raut wajah bingung.


Maryam menggelengkan kepalanya pelan. "Ibu juga tidak tahu, Hamzah. Ibu dan istrimu khawatir dengan kamu di sini. Karena di rumah, tidak terjadi apa-apa."


"Maksudnya bagaimana, Bu?"


"Sudah lah, nanti akan Ibu jelaskan. Tenangkan istrimu dulu, Nang!"


Lalu, Hamzah pun mendekati sang istri untuk menenangkannya. Riyani yang masih menangis, perlahan mulai lebih tenang dari sebelumnya. Hamzah terus mengucapkan kalimat penenang pada Riyani dengan tangan yang masih menggendong Kemala.


"Riyani ... Sudah, jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja 'kan?"


Riyani menatap Hamzah dan mengangguk lirih. "Tapi, Mas ... Aku masih takut dengan orang yang mengancam tadi. Aku takut, dia kembali mengancam dengan melakukan hal lain."


Hamzah lalu menenangkan sang istri. Sedangkan Maryam menggendong Kemala.


"Kamu tidak perlu takut seperti itu, Riyani. Aku akan selalu melindungi anak istri dan juga Ibuku," janji Hamzah seraya memeluk dan mengecup puncak kepala Riyani.


Penuturan Hamzah memang tak membuat tenang Riyani sepenuhnya. Tapi, Hamzah berhasil membuang rasa takut Riyani yang sedari tadi menghantui.


Setelah suasana sudah tenang, Hamzah mengajak Maryam, istri dan anaknya untuk pulang. Sepanjang perjalanan tak ada kendala yang berarti.


Namun, saat mobil mulai memasuki kawasan rumah, perasaan Riyani menjadi tak enak.


"Mas, sebaiknya kita pergi ke rumah Disha saja."


Hamzah menoleh sekilas pada Riyani. Pun dengan Maryam yang ikut menatap sang menantu.


"Kamu kenapa, Nduk? Apa masih ketakutan?"

__ADS_1


Riyani menatap sendu Maryam.


"Bu, perasaanku tidak enak. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku bingung bagaimana mengungkapkannya."


Karena merasa kesulitan untuk menjelaskan apa yang tengah dirasakan, Riyani pun menunduk dan menangis. Kemala melihat sang Ibu menangis dan ikut menangis.


"Riyani ... Aku di sini, Sayang. Kamu harus yakin pada suamimu ini."


Hamzah lalu menatap Maryam.


"Begitu juga dengan Ibu."


"Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, Nak."


Riyani masih merasa tak nyaman hati.


Hamzah akhirnya mengalah dan memutar mobil menuju arah rumah Disha. Sesampainya di rumah Disha, Ketiganya; Maryam, Hamzah dan Riyani, tak mendapati mobil satu pun di sana. Hamzah meminta ibu dan istrinya untuk tetap di mobil selagi dirinya turun untuk memastikan keberadaan Disha dan Aslan.


Hanya ada dua body guard yang berjaga di gerbang. Lekas, Hamzah menghampiri kedua body guard itu untuk menanyakan keberadaan Disha dan Aslan.


"Tadi, Tuan dan Nyonya muda pergi ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Sudah beberapa jam yang lalu," jawab salah satu body guard.


"Sudah beberapa jam yang lalu?"


Kedua body guard mengangguk bersamaan. Lalu, Aslan berbalik dan kembali masuk ke mobil.


"Gimana, Mas?"


"Gimana, Nang?"

__ADS_1


Raut wajah Maryam dan Riyani terlihat cemas. Hamzah bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Disha memeriksakan kehamilan.


Dalam perjalanan itu, Hamzah tak berkata apapun pada Maryam dan Riyani. Meski merasa bersalah, Hamzah merasa bahwa itu adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


Sesampainya di rumah sakit, Hamzah langsung menanyakan ruang tempat Aslan USG. Nsmun tiba-tiba saja, Aslan muncul dari samping Hamzah.


"Mas Hamzah, maafkan aku."


Hamzah mengerutkan keningnya.


"Kamu, minta maaf untuk apa Aslan? Aku bahkan tidak merasa sudah direpotkan oleh-mu."


Aslan menunduk dengan wajah sedih.


"Disha, Mas Hamzah."


Hamzah membulatkan matanya begitu mendengar nama 'Disha'.


"Kenapa dengan Disha, Aslan? Cepat katakan!"


Bukan menjawab pertanyaan dari Hamzah, Aslan justru terus mengucap kata 'maaf' pada Aslan.


"Kamu kenapa sih, Aslan?"


Aslan menarik napas dalam.


"Maaf, Disha melahirkan anak tanpa berkabar dengan Hamzah dan ibu."


Mendengar ucapan Aslan, Hamzah terharu. Tapi, Hamzah juga merasa penasaran dengan alasan dibalik melahirkannya Disha yang dimajukan oleh dokter.

__ADS_1


__ADS_2