
Aslan menggandeng dan menggenggam erat, tangan Clara. Sedangkan Clara, hanya pasrah mendapati perlakuan seperti itu. Wajahnya terlihat bingung, tetapi ada semu merah di pipinya.
Para karyawan yang melihat hal itu, menjadi iri pada Clara. Pasalnya, pesona sang tuan muda mereka, sangatlah menawan.
"Ihh ... si Clara masih anak baru aja, bisa digandeng gitu sama Tuan Muda Aslan! Ish ish ... ngeselin!" kesal seorang karyawan wanita, setengah berbisik pada salah satu rekan kerjanya, yang kemudian mencebikkan bibirnya.
"Iya, kamu benar. Aku iri aku bilang ...!" sahut si rekan kerja, setengah berbisik juga, dengan raut tak suka, dan menatap sinis Clara.
***
"Kita sampai, Clara ...!" kata Aslan, sembari menunjuk tempat dengan tangannya.
Clara mengerutkan kening, matanya menyipit. "Kenapa ke sini? bubur ayam? Mas Aslan mau ngajak aku makan pagi?"
Aslan mengangguk semangat. "Aku tau, kamu pasti belum sarapan. Makanya, dari tadi marah-marah terus, hahaha."
"Kok tau sih, Mas? hahaha."
Keduanya tertawa kompak, lalu mencari tempat duduk. Sarapan bubur ayam berdua, yang tanpa mereka sadari, Iyan juga memperhatikan keduanya.
"Kau lihat saja nanti, Clara ...!" gumam Iyan, pelan. Ia sedang mengamati Clara dan Aslan, dari balik jendela, tepatnya di lantai atas gedung kantor.
Selesai sarapan, Aslan dan Clara tak langsung kembali ke kantor. Mereka duduk terlebih dulu, di taman yang ada di depan gedung kantor. Aslan memainkan ponselnya.
"Kau tahu, Clara? kita sedang diawasi oleh Iyan," ucap Aslan, tersenyum sinis. "Lihatlah ke atas gedung kantor-ku. Dia sedang berdiri menatap kita."
Clara langsung mendongak, mencari keberadaan Iyan. Dan, ya ...! ternyata benar kata Aslan. "Kamu benar, Mas Aslan. Tapi, sudahlah ... tidak perlu kita pikirkan lebih jauh. Dia spesies tak penting!" kata Clara, dengan raut datar dan malas.
"Spesies tak penting?" Aslan terheran, tetapi ia tertawa setelahnya.
"Iya. Memang benar 'kan, dia spesies yang tidak penting? hahaha," Clara ikut tertawa lepas.
Iyan yang melihat kedekatan Clara dan Aslan, menjadi cemburu. Tapi, ia juga tak bisa melakukan apa-apa, karena ia masih membutuhkan kerja sama dengan Aslan.
***
"Silakan masuk ...!" titah Aslan, setelah mendengar pintu diketuk.
Clara masuk dan berdiri di depan meja kerja Aslan. "Pak Aslan, ada yang ingin bertemu," ucap Clara.
"Siapa itu, Clara? Saya belum membuat janji dengan siapa pun bukan, untuk hari ini?" jawab Aslan, yang terlihat menoleh sekilas pada sekretarisnya itu.
"Dia baru saja minta ijin, Pak. Saya sudah menelepon Pak Aslan, tetapi tak dapat tersambung," ungkap Clara.
__ADS_1
"Oh, maaf ... tadi, saya sedang fokus mengerjakan sesuatu. Jadi, saya matikan dulu sambungan teleponnya.
Kalau begitu, silakan kamu suruh tamunya masuk ke ruangan saya, sekitar lima belas menit lagi!" titahnya, sambil melihat ke jam tangan yang ia kenakan.
Clara mengangguk, dan menjawab, "Baik, Pak Aslan!" Kemudian, Clara berbalik badan, lalu meninggalkan ruangan Aslan.
Lima belas menit kemudian ....
"Selamat pagi menjelang siang, Tuan Aslan ...!" sapa seorang pria, yang kini tengah berdiri di belakang Aslan.
Aslan yang sedang menatap ke luar jendela pun, langsung menoleh. "Ah, selamat pagi menjelang siang juga, Pak ...?" ucap Aslan, sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Iyan, Erwin Septian!" kata Iyan, tegas. Tangan kanannya terulur juga, membalas uluran tangan Aslan.
Keduanya pun berjabat tangan dengan saling tersenyum, tetapi hati mereka berdua, berbalik dengan yang terlihat.
'Dasar pria mesum! masih saja berani mengejar wanita lain, disaat sudah punya kekasih,' umpat Aslan dalam hati.
'Kalau bukan karena kerja sama yang aku butuhkan, tak sudi aku, datang ke mari!' kesal Iyan dalam hati.
"Oh, baik, Pak Iyan. Anda tak perlu memanggil saya dengan sebutan Tuan, panggil saja Pak Aslan, seperti saya memanggil Anda barusan," ucap Aslan, tersenyum ramah.
"Baiklah, Pak Aslan. Saya ke mari unt—"
Iyan sedikit tersinggung, tetapi ia juga tahu kalau niat Aslan baik. Yaitu mempersilakan tamunya untuk duduk. Lalu, keduan pun duduk berhadapan.
"Jadi ... apa yang bisa saya bantu, Pak Iyan?" tanya Aslan, membuka percakapan.
"Begini, Pak Aslan ... saya ingin menawarkan kerja sama dengan Anda."
Aslan manggut-manggut, dan mendengarkan dengan seksama, penjabaran dari kerja sama, yang ditawarkan oleh Iyan. Di tengah-tengah pembahasan, Clara datang, dengan membawa baki, yang berisi dua cangkir kopi hitam.
Tatapan mata Iyan tak lepas dari Clara yang tengah menyuguhkan kopi ke meja, hingga membuat Aslan jengah. Lalu, Aslan pun menyuruh Clara untuk segera pergi, dengan memberi kode, berdehem dua kali. Clara yang paham dengan maksud atasannya itu, langsung pamit keluar.
Kemudian, Aslan kembali meminta Iyan, melanjutkan pembahasan yang sempat terjeda. Iyan dengan semangat empat lima, langsung menjelaskan sampai selesai.
"Baiklah, Pak Iyan. Terima kasih untuk penawarannya. Nanti, akan saya pikirkan dulu," ucap Aslan dengan wajah ramah.
Iyan ikut tersenyum. "Oke siap, Pak Aslan. Terima kasih juga, sudah bersedia menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan saya."
Iyan membereskan barang-barangnya, dan berkata, "Saya tunggu kabar baiknya, Pak Aslan. Sekali lagi, terima kasih banyak."
Iyan menghampiri Aslan, dan menjabat tangannya. Setelah itu, Iyan pergi dari ruangan Aslan, untuk menuju tempat parkir. Iyan celingukan mencari keberadaan Clara, tetapi tak dapat menemukannya.
__ADS_1
'Padahal, aku masih ingin menggodanya. Apa mungkin, dia sengaja menghindar dariku?' tanya Iyan dalam hati.
***
Di rumah Maryam, tengah ada acara makan malam bersama kleuarga, di mana ada Aslan yang turut hadir di sana. Acara tersebut diadakan oleh Maryam, sebagai bentuk rasa syukurnya, karena usaha yang ia rintis, mulai berkembang.
"Jadi, Clara itu ... adalah Disha, Mbak?" tanya Reni, adik dari Maryam, bibi Disha.
"Iya, Ren. Tolong rahasiakan ini! karena dulu, Disha dicelakai oleh mantan tunangannya. Bahkan, sampai sekarang Iyan tidak tahu, di mana kami tinggal," jawab Maryam, dengan wajah sendu.
Reni mengusap lengan Maryam. "Iya, Mbak ... tenang saja. Aku tidak akan membocorkan hal ini pada siapapun!" janji Reni.
Maryam memeluk Reni, dan menangis. Reni yang tak tega melihat kakaknya menangis, mencoba untuk menenangkan sang kakak, dengan mengusap naik turun punggungnya.
"Edan tenan itu si Iyan! untung saja, dia tak bertemu denganku, Mbak. Kalau sampai dia ada di depanku, akan ku hajar habis-habisan dia, Mbak!"
"Hus! jangan gitu, Dek. Jangan sendirian menghajarnya!"
Keduanya saling melepas pelukan, kemudian tertawa lepas bersama. Hal itu memancing rasa penasaran Hamzah.
"Dua wanita cantik, bidadari surga, Insya Allah ... sedang bahas apa sih? kayaknya seru banget?" ujar Hamzah, dengan memasang wajah konyol.
Melihat wajah konyol Hamzah, keduanya jadi tertawa kembali, bahkan lebih keras suaranya. Kali ini, Clara dan Aslan yang datang bersamaan, setelah mendengar gelak tawa, dari bangku halaman depan rumah.
Suami Reni, serta kedua putra-putrinya pun, ikut menyusul di belakang Clara dan Aslan. Lalu, semuanya pun tertawa kompak, setelah mendengar, apa yang diceritakan oleh Maryam dan Reni.
***
Acara makan malam bersama telah selesai. Reni dan keluarganya sudah pulang. Tinggal-lah Aslan di sana, yang masih duduk mengobrol dengan Hamzah. Sedangkan Maryam dan Clara, keduanya tengah membereskan meja makan, dan dalam rumah.
"Biar saya bantu, Bu!" ucap Aslan, yang kemudian mengambil alih sapu, dari tangan Maryam.
"Eh, Nak Aslan ... sudah, tidak usah. Kamu duduk saja, bareng sama Hamzah, Nak!" tolak Maryam, merasa sungkan.
Aslan lalu mengajak Maryam duduk di ruang keluarga. "Bu ... saya sudah di undang ke sini untuk makan malam, saya ucapkan terima kasih banyak. Jadi, biarlah sekarang saya ikut membantu Ibu, ya!" kekeh Aslan, yang kemudian berdiri dan lanjut mengikuti Hamzah dan Clara, membereskan rumah.
Maryam merasa tersentuh dengan perlakuan Aslan. "Ya Allah ... semoga engkau bisa menjodohkan Disha, putriku, dengan Nak Aslan, yang begitu tulus dan sopan terhadap wanita. Amin ...!" doa Maryam, lirih.
"Ibu bilang apa barusan?"
Maryam langsung terjingkat kaget mendengarnya. Lalu, dia menoleh ke samping untuk melihat, siapa yang baru saja bertanya padanya.
"Owalah ... astaghfirullah ...!" ucap Maryam setelah melihat, siapa yang ada di sampingnya dan bertanya tadi.
__ADS_1