Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 022


__ADS_3

"Woy ...! anj*ng kampr*t bab*! perih mata gue, c*k!"


Clara merasa puas, melihat yang melakukan cat calling padanya menahan perih, karena matanya disemprot dengan cairan anti mesum. "Lain kali, jangan siulin anak gadis dan perempuan lainnya! mana itu mata lihatnya penuh nafsu, ish!" cetus Clara.


"Halah, gitu doang lebay lu, Mba!" orang mesum itu mendekati Clara, hendak mendaratkan bogem mentah.


Namun, belum sempat bogeman mentah menyentuh wajah, ada sebuah tangan yang muncul dari belakang Clara. Tangan itu menahan pukulan, hingga membuat orang mesum itu meringis sakit, karena tangannya di-pelintir.


"A-ampun Bang Toni, ampun ...!"


Toni memberi pelajaran pada orang mesum itu. Clara yang melihat kehadiran Toni, dibuat tercengang. Lalu, orang mesum itu pun kabur.


"Lho? Pak Toni, kok bisa di sini?"


"Iya, Non Clara. Tadi, saya sedang lewat saja. Non, mau ke mana? biar saya antarkan!"


"Eh, itu ... saya mau menemui mas Hamzah di resto dekat sini, Pak."


"Ya sudah, Non. Mari saya antarkan! kebetulan, saya naik motor."


Clara hanya mengangguk, dan berjalan mengikuti Toni. Setelah menaiki motor, keduanya melesat pergi menuju tempat tujuan.


Tak lama kemudian, Clara sampai di halaman resto. Toni memilih untuk menunggu di motor saja. Sedangkan Clara, langsung bergegas masuk, mencari keberadaan kakaknya.


"Mas Hamzah ...!" seru Clara, saat sudah sampai di ruang privat restoran. "Lho, ada Mas Aslan juga?"


"Iya, Dek. Ada sesuatu yang penting, yang harus kita diskusikan bersama. Ayo, sini!" sahut Hamzah, sembari menunjuk kursi di sebelahnya, agar Clara segera duduk.


Clara berjalan mendekati Hamzah, dan duduk di dekatnya. Lalu, ia meletakkan tas, di pangkuannya. "Ada apa, Mas Hamzah ... Mas Aslan?"


Hamzah dan Aslan menjawab bergantian. Lalu, Aslan menjelaskan, juga memperlihatkan bukti-bukti kejahatan Iyan, yang berupa video.


Sedangkan Hamzah, ia meminta adiknya untuk memikiran tentang memberi Iyan pelajaran. Yaitu, dengan melaporkan Iyan ke pihak yang berwajib.


Clara menimbang-nimbang perkataan Hamzah dan Aslan. Ia memang merasa kecewa, tetapi belum sampai hati untuk memenjarakan dua orang yang telah berhasil membuatnya sangat terluka dan sakit hati.


"Mas Hamzah ... aku takut, kalau aku melaporkan Iyan, orang tua Iyan akan menuntut balik keluarga kita," ucap Disha, ragu.


"Kamu tidak perlu khawatir, Clara. Aku akan selalu melindungi kamu ...!" kekeuh Aslan.

__ADS_1


"Sebentar, Aslan ...! Kamu ini, sebenarnya mau pakai saya atau aku sih?"


"Iya, betul. Aku juga kadang bingung sama Mas Aslan, yang kadang bilang saya, kadang bilang aku," timpal Clara, dengan wajah meledek.


Aslan menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya. "Sebenarnya, ada waktu-waktu tertentu, untuk menyebut diri sendiri dengan saya, atau aku."


"Huh?" ucap Hamzah dan Clara, kompak mengernyitkan kening.


"Hahahaha ...!" Aslan tertawa lepas, melihat ekpsresi bingung dari kedua kakak-adik itu.


"Lah, sekarang malah tertawa. Bagaimana sih, Pak Aslan? eh," celetuk Clara, yang kemudian menutup mulutnya.


"Sudah lah, Dek. Itu tidak penting untuk saat ini. Sekarang, yang penting adalah memberi pelajaran pada Iyan," ucap Hamzah. Wajahnya tampak serius saat berucap.


Lalu, Clara dan Aslan mengangguk mantap. Ketiganya mulai mengatur rencana, untuk membalas perbuatan Iyan.


"Oke fix ...! Aku sudah paham, Mas Hamzah ... Mas Aslan. Sekarang, aku pulang dulu, ya!" seru Clara, merasa senang, karena diskusi rencananya telah selesai.


"Loh, kamu ini bagaimana, Dek? Kamu pulang sama Mas-mu ini, lho!"


"Owalah," ucap Clara, sambil menepuk jidatnya. "Iya iya, Mas Hamzah, maaf ... aku lupa," sesalnya.


"Iya, Pak Aslan ...!" jawab Clara dan Hamzah kompak.


Hamzah, Clara, dan Aslan pun tertawa kompak. Lalu, Aslan keluar terlebih dulu, disusul oleh Hamzah dan Clara.


Sesampainya di parkiran, Aslan mengucapkan terima kasih pada Toni. "Kalau tidak ada Pak Toni, pasti Clara bisa dalam bahaya."


"Iya, Tuan. Yang penting, sekarang sudah aman. Tuan mau pulang ke rumah?"


"Tentu saja, Pak Toni! tapi, saya ingin naik motor ya, Pak. Bapak bawa mobil saya saja!" titah Aslan.


Toni awalnya merasa tak enak, karena Aslan memilih untuk naik motor, bukan mobil. Tapi, Aslan meyakinkan Toni, kalau hari ini, ia bebas melakukan apapun. Jadi lah, Toni memberinya sepeda motor yang tadi ia bawa.


Aslan melihat Hamzah dan Clara sudah mulai dekat dengan pintu keluar. Ia sembunyi terlebih dulu, agar tak ada yang curiga dengan kelakuannya.


***


Beberapa hari kemudian, Aslan yang sedang duduk di ruang kerjanya, menjadi semakin semangat. Baru saja, ia mendapat kabar dari Toni, bahwa Iyan sudah dibawa ke kantor polisi. Lekas, ia mengabari Clara.

__ADS_1


"Halo, Clara ...!"


"Iya, mas Aslan, ada apa?"


"Laporan-mu terhadap Iyan, sudah mulai ditangani. Barusan, saya dapat informasi, kalau Iyan sudah dibawa ke kantor polisi."


"Eh, benarkah itu?"


"Iya, Clara. Kabar-kan juga pada kakak-mu, ya!"


Clara mengangguk, meski tak terlihat oleh Aslan. "Baik, mas Aslan. Nanti aku sampaikan ke mas Hamzah."


Sambungan telepon terputus. Raut lega, terlihat di wajah Aslan. Kemudian, Aslan bersiap-siap untuk pergi.


***


"Mas ... Mas Hamzah ...! Mas Hamzah di mana sih?" seru Clara, mencari keberadaan Hamzah. Ia celingukan, sambil terus berjalan.


Hamzah tengah duduk di halaman belakang, sembari menikmati secangkir kopi. Ia sengaja tak menjawab seruan adiknya. Maryam yang kebetulan duduk bersama Hamzah, menggeleng heran, melihat kejahilan Hamzah.


"Ya ampun, Mas Hamzah ...! Aku panggil dari tadi kok diam saja sih?!" kesal Clara, dengan berkacak pinggang.


"Ibu juga. Kenapa Ibu ikut diam?" Clara memasang wajah ketus.


Hamzah tertawa, melihat tingkah sang adik. Berbeda dengan Maryam yang langsung berdiri menghampiri Clara dan mengajaknya duduk.


Hamzah merasa puas, berhasil menjahili adiknya. Sedangkan Clara, yang masih dengan wajah ketus, menceritakan pada ibu dan kakaknya, tentang kabar yang ia dapat dari Aslan.


Maryam setuju, dengan tindakan yang dilakukan oleh Clara. Ia ingin, Iyan mendapatkan hukuman yang setimpal.


"Nanti, kita ke kantor polisi bersama-sama ya, Bu ... Dek ...!" titah Hamzah, yang langsung diangguki oleh Maryam dan Clara.


Saat tengah berbincang, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Gegas, ketiganya, Maryam, Hamzah dan Clara, bangkit dari tempat duduk, lalu berlari ke pintu utama.


Setelah pintu terbuka, ketiganya merasa terkejut melihat siapa yang datang. Setelah Maryam, Hamzah dan Clara saling pandang dengan tatapan bingung, akhirnya Maryam mempersilakan tamu-nya untuk masuk ke rumah.


Sedangkan Hamzah dan Clara, berbisik-bisik, menebak maksud dan tujuan dari datangnya tamu mereka pagi ini. Tapi, Maryam langsung menegur kelakuan kedua anaknya, karena dianggap tidak sopan.


'Ih, ini orang ngapain ke sini sih? Dasar tamu tak diundang!' kesal Clara dalam hati, tangannya dilipat ke depan dada.

__ADS_1


Clara dan Hamzah, sama-sama memasang wajah tak suka, pada tamu yang datang.


__ADS_2