Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 067


__ADS_3

"Hehehe. I-ini, Mas. Aku mau tanya soal ini." Disha memperlihatkan ponselnya pada Aslan.


Mata Aslan memicing. "Ini, kamu dapat pesan ini kapan, Sayang?"


"Tadi sih, pas aku ke rumah Ibu. Kok aneh ya, Mas? Aku telepon ke nomor itu, tapi tidak tersambung."


Aslan mengernyitkan keningnya. "Tidak bisa ditelepon? Kirim balasan pesan, sudah?"


"Sudah, Mas. Sama saja, tidak terkirim."


"Hmm ... Kalau begitu, biar besok pak Toni yang menyelidiki nomor ini. Kirimkan capture-annya padaku, Disha."


Disha mengangguk cepat. Setelah mengirim hasil capture-an pada sang suami, Disha pun merebahkan tubuhnya karena Aslan hendak memijitnya.


"Mas juga pasti capek 'kan? Biar aku pijit kamu juga, Mas."


Aslan menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Disha. Aku tidak terlalu lelah. Pasti kamu yang sangat lelah."


"Iya sih, Mas. Tapi sama saja kamu juga lelah."


Aslan lalu mendekatkan wajahnya ke pipi Disha. Aslan mengecup pipi Disha dengan lembut. "Ini adalah obat lelahku. Masih mau dipijit?"


Wajah Disha merona malu sambil menggelengkan kepala. "Sudah, Mas. Aku sudah merasa baikan. Sekarang, ayo tidur!" Disha mendorong tubuh Aslan pelan hingga Aslan jatuh ke kasur.


Disha menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. "Bunyi detak jantung ini, menjadi bunyi favoritku dan juga bayi kita, Mas."


Aslan tersenyum. Tangannya membelai rambut Disha. "Sebaliknya pun begitu, Sayang. Terima kasih sudah mau menerima perasaanku."


Setelah selesai bermanja-manja, Aslan mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur. Aslan menarik selimut hingga menutup perutnya dan Disha. Lalu, keduanya pun tidur dengan nyaman, saling berpegangan tangan.


***


Sebulan sebelum hari perkiraan lahir bayi Disha, Aslan bertamu ke rumah Maryam bersama Disha. Sesampainya di sana, Maryam, Disha, dan Aslan tengah menunggu kedatangan Hamzah, Riyani, dan Kemala.


"Nduk, kenapa Mas-mu belum sampai juga ya?"


Disha merangkul sang Ibu dan mengusap-usap lengannya. "Jangan cemas, Bu. Mungkin saja mereka sedang beristirahat di jalan."


Aslan ikut mendekat pada Maryam dan memegang tangan sang Ibu mertua. "Benar yang dikatakan oleh Disha, Bu. Sudah ya, Bu. Jangan terlalu cemas."


Maryam menyunggingkan senyum terpaksa. Karena sebenarnya, Maryam tengah merasakan hati yang tak tenang sebelum melihat kedatangan Hamzah bersama menantu dan cucunya.


Telepon rumah berdering. Maryam lekas berlari untuk mengangkatnya.

__ADS_1


Brak!


Telepon rumah terjatuh dari pegangan Maryam. Maryam luruh ke lantai dengan tatapan kosong. Wajahnya terlihat bingung dan mengiba.


"Ibu!" pekik Disha dan Aslan bersamaan.


Disha berjalan pelan menghampiri sang Ibu. Sedangkan Aslan sudah lebih dulu merangkul dan membantu Maryam kembali berdiri.


Maryam seketika menangis histeris seraya membenamkan wajahnya ke dada Aslan. Disha syok dengan apa yang dilakukan Maryam.


"Bu, sebenarnya ada apa? Siapa yang menelepon, Bu?"


Aslan menenangkan Maryam. "Iya, Bu. Siapa yang menelepon barusan?"


Maryam masih diam. Isakan tangisnya makin menjadi.


Disha berjalan menuju dapur untuk mengambilkan segelas air putih. "Mas, dudukkan Ibu. Biarkan Ibu minum lebih dulu sebelum bercerita."


Aslan langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Disha. Maryam meminum segelas air itu sedikit, dengan tangan yang gemetar hebat.


Gelas yang masih digenggam Maryam, lalu diambil oleh Aslan. "Coba Ibu ceritakan perlahan. Ya?"


Maryam menatap Disha dan Aslan bergantian. Sorot matanya seperti kehilangan sesuatu yang berharga.


"Hamzah, mobilnya ...."


Aslan masih berusaha menenangkan Maryam dengan terus mengusap-usap lengan Maryam.


Dengan suara bergetar Maryam menjawab, "Mobil mas-mu, mengalami kecelakaan, Nduk."


"Apa?!" lagi, Disha dan Aslan memekik bersamaan.


Tanpa menunggu lama, mereka bertiga langsung pergi ke rumah sakit yang dimaksud oleh si penelepon tadi. Sesampainya di rumah sakit, Aslan langsung menanyakan di mana pasien yang bernama Hamzah, Riyani, dan Kemala.


Bukan jawaban yang didapat, namun justru kebingungan yang Aslan terima.


"Bagaimana mungkin, Sus? Tadi, kami baru saja mendapat kabar itu. Bagaimana mungkin mereka sudah tak terselamatkan lagi?"


Maryam dan Disha ikut mendengar apa yang dikatakan oleh Aslan. Maryam jatuh pingsan, sedangkan Disha langsung memegang kepalanya.


Melihat Disha yang melemah, Aslan segera menopang tubuh sang istri dan membawanya duduk. Sedangkan Maryam langsung ditidurkan diatas brankar. Seorang perawat membantu menyadarkan Maryam.


Disha terus menangis sambil memanggil nama Hamzah. Aslan merasa sangat bodoh, karena tidak memberi penjagaan pada keluarga kecil Hamzah.

__ADS_1


"Disha, Sayangku ... Tenangkan dirimu, Sayang. Kasihan bayi kita jika kamu terus menangis seperti ini."


Disha menatap sayu Aslan. "Mas, mas Hamzah, mba Riyani, dan Kemala. M-me-mereka ...," Disha kembali menangis tersedu.


Maryam masih berusaha disadarkan dari pingsannya. Beberapa saat kemudian, Toni datang bersama tiga body guard lainnya.


Aslan meninggalkan Disha sebentar, untuk berbicara dengan para body guardnya. Disha pun mengangguk sembari membenarkan posisi duduknya.


"Kalian semua," Aslan menatap tajam bercampur sedih pada empat orang body guard yang ada di hadapannya. "Tolong, cepat selidiki kecelakaan yang dialami oleh kakak istriku. Tolong, secepatnya!" Aslan menangkupkan kedua tangannya.


Hal itu langsung dihentikan oleh Toni. "Tidak, Tuan! Anda tidak boleh begini pada kami. Kami pasti akan melakukan apa yang Tuan perintahkan. Sekalipun nyawa kami menjadi taruhannya."


"Tidak! Kalian harus tetap selamat. Kalian adalah orang-orang hebat yang aku miliki. Kalian harus selamat, ingat itu!" Aslan berucap dengan penuh emosi yang lebih cenderung pada kesedihan. Karena terlihat matanya berkaca-kaca saat memberi perintah pada empat body guardnya itu.


Keempat body guard itu pun mengangguk seraya membungkukkan setengah badannya. Setelah kepergian empat body guard tadi, Aslan menyugar rambutnya dengan wajah frustrasi.


"Argh! Sial sial sial! Harusnya aku bisa menjaga keluarga kecil mas Hamzah. Arrgh!" Aslan menendang dinding rumah sakit dan meninjunya.


Disha yang penasaran karena mendengar suara Aslan berteriak, segera menghampiri Aslan. Tangannya terus menyapu air mata yang menetes.


"Mas?"


Aslan yang sudah mengangkat satu kakinya untuk kembali mendendangkan kakinya, langsung berhenti seketika.


"Mas, jangan membalas dendam berlebihan. Ingatlah, aku sedang mengandung anakmu, anak kita."


Aslan menunduk, mencerna perkataan Disha. Lalu, ia kembali mengangkat kepalanya. "Disha, kamu bahkan telah kehilangan abang dan kakakmu. Apa kamu tidak bersedih dan ingin membalas pelakunya?"


Disha meneteskan air matanya lagi.


"Aku sedih, Mas. Tapi kalau aku sedih terus, siapa yang akan menenangkan Ibu, Mas?"


Deg!


Aslan tercekat, lalu menatap sedih Maryam. "Kamu benar, Disha. Ya Allah ... Astaghfirullah." Aslan mengusap wajahnya.


Disha memegang pundak Aslan dan berjata, "Mas, kabari pak Toni untuk tidak berbuat yang jatuhnya bisa menjadi main hakim sendiri. Oke?"


"Baiklah, Disha. Tapi, bagaimana dengan Ibu?"


"Biarkan Ibu menangis dulu. Tidak apa, Mas. Ini adalah kepergian yang mendadak. Wajar jika Ibu belum bisa menerimanya."


Aslan berdiri memeluk sang istri. "Kamu ... Kamu adalah wanita yang sangat berhati lembut, Disha."

__ADS_1


Disha tersenyum dalam pelukan. "Aku belajar darimu, Mas."


Setelah selesai berpelukan, ponsel Disha mendapat satu notif pesan baru. Mata Disha membulat sempurna saat membaca isi pesan itu.


__ADS_2