Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 045


__ADS_3

Suara gemuruh yang terdengar lagi, langsung membuyarkan lamunan Aslan. Ia mengusap tengkuknya dan tersenyum malu. Ternyata, pemandangan saat Aslan mendaratkan ci*uman itu, hanya khayalan saja.


"Ya ampun, kenapa bisa sampai menghayal seperti itu?" ucap Aslan lirih, nyaris tak terdengar.


Aslan menatap Disha yang sudah tidur lebih dulu. Lalu, ia pun menyusul. Sebelum benar-benar tidur, ia memegang kepala Disha dan berdoa dalam hati.


Sementara Disha yang hanya berpura-pura tidur, tengah was-was karena takut kalau Aslan tiba-tiba memaksanya untuk berhubungan badan. Sebenarnya ia sedikit ragu untuk tidur satu ranjang. Namun, Disha juga tak tega jika harus membiarkan Aslan tidur di sofa.


Malam semakin merangkak naik. Jam sudah menunjukkan pukul satu dinihari. Disha dan Aslan sama-sama sudah tertidur lelap, hingga saat adzan subuh berkumandang.


Aslan terbangun lebih dulu. Ia mengerjapkan matanya. Lalu, Aslan tersenyum lebar. Bagaimana tidak? Tangan Disha memeluk tubuhnya. Hal itu sudah cukup membuat Aslan sangat bahagia. Meskipun Disha tak sengaja, tapi Aslan tak terlalu memikirkannya.


Karena Disha mulai merubah posisi tidurnya, Aslan kembali memejamkan matanya. Sedangkan Disha, ia terkejut sendiri saat menyadari bahwa ia tengah memeluk sang suami. "Ya ampun, bisa-bisanya aku memeluk Mas Aslan," rutuknya dalam hati.


Disha lalu bangkit dan menuju kamar mandi. Ia mencuci muka terlebih dulu, sebelum membangunkan sang suami untuk sholat berjama'ah.


"Mas ... Mas Aslan, bangun. Yuk, kita subuhan dulu, Mas!" kata Disha sembari menepuk pelan, lengan Aslan.


Aslan yang sebenarnya sudah bangun itu, segera berpura-pura melenguh dan mengucek kedua matanya. "Ada apa, Disha? Ini sudah subuh ya? Maaf, aku kelelahan jadi tak bisa membangunkan kamu."


"Tidak apa-apa, Mas. Ayo, bersihkan diri dan ambil air wudhu!" titah Disha dengan tersenyum. Ia masih berdiri di dekat ranjang.


Aslan duduk bersandar untuk sejenak. Lalu, Disha memberinya segelas air putih. Setelah meneguk sedikit, Aslan langsung menuju ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian ....


"Sudah, Disha. Kamu sudah ambil wudhu?" tanya Aslan yang sudah siap, hanya tinggal memakai sarung dan kopiah saja.


Disha yang tengah bermain ponsel, segera diletakkannya kembali ke atas nakas. "Belum, Mas. Aku menunggu Mas Aslan dulu, hehehe."


"Begitu kah? Ya sudah, sekarang bersiaplah untuk sholat berjama'ah!" titah Aslan yang langsung diangguki oleh Disha.


***

__ADS_1


Acara hari ini, masih dalam rangka merayakan pernikahan Aslan dan Disha. Bertempatdi rumah Aslan yang hanya mengundang kerabat jauh, yang tak sempat hadir di acara ijab dan resepsi kemarin.


"Kamu cantik sekali, Disha," puji Aslan yang melihat wajah sang istri di cermin.


Disha tersenyum malu. "Terima kasih, Mas. Mas Aslan ada sesuatu yang dibutuhkan lagi?"


"Tidak ada, Disha. Hanya saja, tolong rapikan jika pakaian-ku masih terlihat berantakan," kata Aslan sambil berjalan mendekati Disha.


Disha yang tadinya duduk, langsung berdiri dan merapikan pakaian Aslan. "Nah, begini sudah rapi!"


"Benarkah begitu? Coba aku lihat dulu di cermin," ucap Aslan sambil menghadap ke cermin. "Ini sudah sangat rapi. Terima kasih, istriku," imbuhnya.


Disha mengangguk dan tersenyum. Lalu, keduanya pun keluar dari kamar hotel dan segera menuju tempat acara. Kali ini, Aslan meminta tolong pada Toni untuk menjemputnya.


Sesampainya di rumah Aslan, sambutan meriah diberikan pada kedua mempelai. Disha merangkul lengan Aslan. Hal itu membuat Aslan sedikit terkejut, karena ia pikir bahwa Disha tidak akan mau menunjukkan kemesraan di depan banyak orang.


"Wah, selamat ya keponakan Tante. Akhirnya menikah dengan pilihan hati," kata wanita dengan wajah teduh. Ia memeluk Aslan dan Disha bergantian.


"Terima kasih, Tante. Tante datang sendiri?" tanya Aslan.


"Wah, oke Tante. Nanti selesai acara, aku akan ajak Raffa berbincang."


Wanita yang dipanggil tante oleh Aslan pun tersenyum. Lalu, Aslan dan Disha kembali berjalan menuju kursi mempelai. Rumah Aslan di dekor sedemikian rupa, yang mana dekorasi itu adalah ide dari Bima, Rita dan juga Toni. Kenapa Toni? Karena Toni adalah orang kepercayaan Aslan. Jadi, Bima juga perlu meminta pendapat dari Toni.


Acara hanya berlangsung hingga sore hari. Selepas 'ashar, semua kerabat sudah pulang, kecuali Raffa. Aslan sedang berbincang dengan Raffa. Sementara Disha, ia tengah menemani Papa mertuanya mengantar para kerabat.


"Sudah, Disha. Kamu temani saja Aslan sekarang. Pasti dia menunggumu," titah Bima.


"Baiklah, Pa." Disha pergi meninggalkan Bima yang masih berbincang dengan kerabat yang akan pulang.


"Mas ...," panggil Disha, setelah sampai di hadapan Aslan. Ia lalu duduk di sebelah sang suami.


"Ada apa, Disha? Kamu sudah selesai menemani Papa mengantar kerabat?"

__ADS_1


"Tentu saja sudah, Mas. Kalau belum, masa iya aku datang ke sini?"


"Ya elah, Mba. Suami kalau tanya, jawab yang benar kenapa sih?" celetuk Raffa.


Disha merasa tak enak dan menjawab, "Maaf, Raffa. Aku memang sering bergurau dengan Mas Aslan. Kalau kam —"


"Sudah lah, Raffa. Aku dengan Disha memang sering begini," Aslan menyela dan menatap Raffa. Kemudian, ia menatap Disha. "Kamu ke kamar saja dulu, Disha." Aslan mendekat ke telinga Disha dan berbisik, "Mandi air hangat, akan sedikit mengobati lelah-mu hari ini. Pergilah ke kamar."


Disha sedikit tersentak. "B-baiklah, Mas. Aku ke kamar dulu, permisi!" Disha bangkit dan meninggalkan dua saudara sepupu yang sedang berbincang.


Saat akan masuk ke kamar, ia berpapasan dengan Rita. Rita diam tak menyapa Disha sama sekali. Tapi, Disha tetap menyapa Mama mertuanya dan memberi senyuman. Lalu, ia segera mandi dengan air hangat, sesuai dengan saran dari Aslan.


Selesai mandi, Disha dikejutkan dengan kehadiran Aslan yang sudah duduk bersandar di atas ranjang. "Mas Aslan ...!" seru Disha, sambil menutupi badan dengan kedua tangannya. Padahal, ia sudah memakai handuk kimono.


"Hm? Beberapa menit yang lalu. Kenapa, Disha?"


"A-aku 'kan baru selesai mandi, Mas."


"Lalu? Kamu masih pakai handuk kimono. Kamu malu? Kalau begitu, aku akan keluar saja," kata Aslan seraya bangkit dan berjalan keluar.


Disha serba salah, tetapi ia juga masih belum bisa sepenuhnya bersikap biasa saja dengan Aslan yang sudah menjadi suaminya. "Mas Aslan! Terima kasih," seru Disha.


Aslan tidak menjawab. Ia hanya menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh sekilas ke belakang sambil tersenyum. Lalu, ia kembali berjalan lagi.


Hari kedua menjadi istri Aslan, Disha masih dalam tahap pembiasaan. Selesai memakai baju, Disha mengirim pesan pada Aslan.


Disha : Mas, di mana? Aku sudah selesai. Barangkali, Mas mau mandi juga. Aku akan siapkan bajunya.


Tak perlu menunggu lama, pesan Disha pun dibalas.


Aslan : Iya, Disha. Sebentar lagi aku akan ke kamar. Oh iya, tolong siapkan baju saja.


Disha : Baik, Tuan. Siap, laksanakan!

__ADS_1


Disha tertawa kecil setelah membalas pesan Aslan. Ia begitu senang menggoda sang suami. Hingga terdengar bunyi notifikasi lagi, dari ponsel Disha. Ia mengira, Aslan lah yang mengirim pesan. Tapi, ternyata bukan.


__ADS_2