
"Perusahaan pusat akan Papa pasrahkan ke kamu, Aslan. Karena Kakak-mu sudah membangun perusahaan sendiri bersama suaminya. Jadi, tolong kamu lanjutkan mengelola perusahaan Papa."
"Tapi, Pa ... Bagaimana nasib perusahaan Aslan yang belum seberapa itu?"
"Tenang saja, Aslan. Kita bisa mempercayakan perusahaan-mu pada Kakaknya Disha. Bagaimana?"
Disha yang menyimak pembahasan tersebut, langsung membulatkan mata. "Papa serius akan mempercayakan perusahaan Mas Aslan pada Kakak saya?"
"Tentu saja, Disha. Hal ini sudah Papa pikirkan matang-matang. Papa sudah ingin istirahat tanpa harus ada beban lagi. Dan, Papa ingin segera menimang cucu dari kalian berdua."
Aslan dan Disha saling tatap. Keduanya menjadi salah tingkah.
"Kenapa kalian seperti itu? Apa kalian sengaja menunda untuk punya momongan?"
Aslan dan Disha menjawab bersamaan, "Bukan begitu, Pa!"
Aslan mengusap tengkuknya, sedangkan Disha memalingkan wajah ke samping.
"Kalian ini kenapa sih?" Bima menyesap minuman yang disuguhkan oleh Disha. Ia memuji kopi buatan Disha.
Rita muncul dari arah belakang sambil melipat tangan ke depan dada. "Papa sudah selesai memberi pengumumannya?"
"Sudah selesai dan Papa masih ingin di sini. Menantu menyuguhkan camilan kesukaan Papa." Bima lantas mengambil sepotong kue lapis dan memakannya.
Rita mendengkus kesal melihatnya. Tapi, ia juga tak bisa protes pada Bima.
"Pa, Mama mau pergi sebentar. Ada janji temu dengan kawan." Rita tak menunggu jawaban dari Bima. Ia melenggang pergi begitu saja.
Bima pun berdiri. "Tunggu! Mama jangan lupa juga, hari ini anak perempuan kita pulang dan akan menetap di Indonesia."
__ADS_1
Rita menoleh ke belakang dengan ekspresi datar. "Iya iya, baiklah."
***
(Malam hari, tepat pukul 19.00 di kediaman Bima)
"Selamat datang kembali, Kakak!" Aslan dan Disha menghampiri Serly.
Serly membalas pelukan Aslan dan Disha bergantian. "Sayang, ini adik ipar kita, Disha namanya." Serly menggandeng suaminya, Edward.
"Hai, Disha. Aku Edward, senang bertemu denganmu!"
"Senang bertemu denganmu juga, Kak Edward!"
Aslan lalu mengajak Disha untuk menyiapkan makan malam. Meski sudah tersusun rapi, Aslan tak ingin ada sesuatu yang kurang.
"Semua sudah sesuai 'kan, istriku?"
Aslan tertawa kecil dan berbisik di telinga Disha. "Ini agar Kak Serly dan Kak Edward tidak curiga dengan pernikahan kita, Disha."
Disha mengangguk paham. Lalu, ia menggandeng Aslan untuk memberitahukan pada kedua mertua dan Kakak iparnya bahwa makan malam sudah siap.
Semuanya segera menuju meja makan. Serly sengaja tidak membawa putranya, Andrew, karena sedang ada tugas dari sekolah yang harus diselesaikan.
Selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruang keluarga. Kemudian, terdengar suara anak kecil yang lama-lama suaranya semakin mendekat.
"Mommy, Daddy!" Ia adalah Andrew.
"Hei, Sayang. Kamu ke sini bersama siapa?" Serly merasa heran dengan kedatangan Andrew yang mendadak.
__ADS_1
Lalu, muncul seorang wanita paruh baya dengan pakaian ala Sus.
Serly berdiri. "Lho, Bibi di antar mang Aryo ya?"
"Iya, Bu. Saya sama Den Andrew diantar pak Aryo. Kebetulan, tadi tugas sekolah Den Andrew sudah selesai, jadi saya ajak ke sini. Tidak apa-apa 'kan, Bu?"
Serly menggeleng cepat. "Tentu saja tidak apa-apa, Bi. Terima kasih sudah mengantar Andrew ke sini, Bi. Bibi boleh pulang sekarang, biar nanti Andrew pulang bareng sama Mommy dan Daddy-nya.
Semuanya kembali berbincang hingga jam menunjukkan pukul 22.00. Andrew mulai menguap dan ingin segera tidur.
Rita mengajak Andrew ke kamar tamu. "Andrew, ayo Oma antarkan kamu ke kamar!"
Andrew menggeleng dan menunjuk Disha. "Andrew ingin ditemani Tante cantik, Oma."
Semuanya terkejut dan tertawa, kecuali Rita. Rita terlihat kesal dan tak senang mendengar ucapan Andrew.
"Namanya Tante Disha, Ndrew." Rita masih mencoba merayu Andrew supaya mau tidur di kamar. Tapi, sepertinya Andrew memang sedang ingin bermain dengan Disha.
Andrew menghampiri Disha yang tengah duduk bersama Aslan. "Tante cantik ... Eh, Tante Disha. Aku mau nanya dong!"
Aslan menggeleng heran. "Kamu ini masih kecil sudah pandai bermain kata-kata ya!"
"Tentu saja dong, Om. Beberapa yang aku ucapkan, pernah lewat di beranda tiktok aku lho, Om!"
Andrew lanjut berbagi cerita dengan Aslan. Sedangkan Aslan tak pernah bosan untuk menanggapi cerita Andrew.
"Om, Tante!" Andrew duduk di antara Aslan dan Disha. "Kapan aku punya Adik sepupu dari kalian?"
Deg!
__ADS_1
Aslan dan Disha saling tatap dalam kediaman.