
Dua bulan berlalu begitu cepat. Kandungan Disha memasuki usia tiga bulan. Hari ini, Disha mendapat kabar bahwa Kakak iparnya, Riyani, tengah berjuang untuk melahirkan sang buah hati.
Disha : Mas, aku mau ke rumah sakit jenguk mba Riyani boleh? Aku diantar pak Toni.
Disha yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang, menunggu balasan pesan dari suaminya sambil membaca buku tentang kehamilan. Lalu, balasan pesan pun muncul.
Aslan : Boleh, Sayang. Aku akan menyusul nanti. Hati-hati di jalan!
Disha tersenyum dengan jari yang mengetik pesan balasan.
Disha : Baiklah, Mas. Aku tunggu ya!
Disha lalu bangkit, keluar dari kamar dan memberitahu Toni untuk mengantarnya ke rumah sakit tempat Riyani melahirkan. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke tujuan.
Disha langsung menuju kamar rawat inap bersama Toni yang berjalan di belakang Disha. Disha membawa bingkisan kecil untuk Kakak iparnya, sedangkan Toni membawa hadiah untuk keponakan barunya.
"Assalamu'alaikum, Mba." Disha duduk di dekat Riyani. Ia meraih tangan Riyani dan mencium punggung tangan sang Kakak ipar.
"Mas Hamzah ke mana, Mba?"
"Lagi nengokin jagoan baru." Riyani tersenyum. "Pak Toni, silakan duduk!"
Toni mengangguk tersenyum. "Ini saya taruh di dekat sofa ya, Mba?"
Riyani mengangguki ucapan Toni. "Terima kasih, Pak Toni."
Pak Toni hanya memberi anggukan sambil sedikit membungkuk.
"Oh iya, Mba. Kalau ini dari aku, spesial untuk Mba Riyani. Semoga bisa bermanfaat ya?"
Riyani yang masih dalam posisi setengah duduk itu pun berdecak. "Kamu itu ngapain repot-repot sih, Dek. Kamu datang ke sini aja, Mba udah seneng lho!"
"Eits, rejeki tak boleh ditolak. Iya 'kan, Pak Toni?" Disha menatap Toni.
__ADS_1
"Betul itu, Mba Riyani. Hehehe."
Riyani lalu menatap Disha dengan mata menyipit, lalu terkekeh. "Memang dasar Adikku yang satu ini. Terima kasih ya, Tantenya jagoan."
"Sama-sama."
Tak lama kemudian, Hamzah pun muncul dan menyambut Disha. Lalu, kakak beradik itu pun saling bertukar cerita. Sedangkan Toni, ia tertidur karena terlalu lelah saat lembur bekerja kemarin.
***
Di tempat lain, Aslan sebenarnya sedang mencari tahu tentang sesuatu. Ia teringat pada sang Ayah dan meneleponnya.
"Halo, Papa."
Pak Bima dari seberang telepon langsung menjawab, "Halo, Nak. Ada apa?"
"Begini, Pa ... Aku, aku ada perlu sebentar dengan Papa."
"Ada perlu dengan Papa?" Pak Bima mengerutkan keningnya. "Baiklah, kamu ingin bertemu di mana?"
"Hahaha. Baiklah, Nak. Papa tunggu!"
"Siap, Komandan!" Aslan berucap sambil memberi hormat. Lalu, ia memutus panggilan dan segera menuju rumah Ayahnya.
Aslan yang tengah berjalan menuju mobilnya, tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh, ya ampun! Istriku sedang di rumah sakit menjenguk Kakak ipar. Aduh, kenapa aku bisa lupa? Huh!"
Aslan mempercepat langkahnya menuju mobil dan mengirim pesan pada Ayahnya.
Aslan : Papa, hari ini tidak jadi bertemu. Besok pagi saat Papa jogging, aku akan ikut Papa.
Aslan lalu menjalankan mobilnya, membelah jalanan menuju rumah sakit. Di dalam kepalanya saat ini, rasa penasaran tentang sesuatu yang ingin segera ia selesaikan. Namun, ia juga tak bisa mengingkari janji pada sang istri.
***
__ADS_1
Esok paginya, Aslan pagi-pagi sekali sudah pergi menemui Ayahnya. Ia sudah berpamitan pada Disha. Aslan saat ini sedang berada di GOR dekat rumah Bima. Ia berlari kecil mensejajarkan dirinya di samping sang Ayah.
"Hei, Papa. Sepertinya semangat sekali pagi ini."
"Kamu sedikit terlambat, Nak." Bima tak menoleh sedikitpun pada Aslan. Ia fokus menatap ke depan.
"Ah, iya. Itu karena aku membantu Disha untuk menyiapkan sarapan. Dia masih mual-mu —" Aslan menghentikan ucapannya. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan.
Aslan dan Bima berhenti berlari bersamaan.
"Disha mual? Disha hamil?"
Aslan merutuki kebodohannya karena kelepasan bicara. 'Aduh, kacau! Pasti setelah ini, pintu kamar akan terkunci untukku.' Aslan terpejam sambil menggelengkan kepalanya.
Bima menepuk pundak Aslan. "Hei, Nak! Disha sedang hamil?"
Aslan lalu mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk. "I-iya, Pa. Disha, menantu Papa, sedang ini." Aslan membuat bulatan di depan perutnya.
"Dan kamu baru memberitahu Papa?"
"Eh, begini Pa. Bukan aku tak mau memberitahu Papa. Tapi, Disha memang ingin memberitahu keluarga lain saat sudah memasuki usia empat bulan kehamilan. Begitu, Papa."
Bima manggut-manggut. "Jadi, keluarga Disha juga belum ada yang tahu sama sekali?"
Aslan mengangguk cepat. "Tentu saja belum ada yang tahu, selain Papa."
"Baiklah, Papa akan diam juga setelah ini." Bima kembali menatap ke depan. Begitu pula dengan Aslan.
"Jadi, ada perlu apa dengan Papa?" Lagi, pertanyaan yang membuat Aslan harus berpikir bagaimana cara menyampaikan semuanya pada Ayahnya.
"Sebenarnya, Pa. Aku ingin bertanya tentang teman dekat Papa yang bernama —"
"Adam?" Bima memotong ucapan Aslan, karena sudah tau akan hal yang ingin dibicarakan oleh Aslan dengannya.
__ADS_1
"Bagimana Papa bisa langsung tahu? Aku bahkan belum menyebutkan namanya."