Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 052


__ADS_3

Setelah menerima telepon, Aslan, Disha dan Hamzah segera pergi menuju lokasi yang disebutkan oleh Toni. Ketiganya pergi menggunakan satu mobil, yaitu mobil Aslan. Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat tujuan.


Di sana, sudah ada Toni bersama empat anak buah lainnya yang sedang mengawasi Yoga. Yoga bertemu dengan pacarnya dan tertawa terbahak-bahak.


"Kau tahu, Sayang? Bahkan Aslan percaya dengan cerita palsu yang aku buat. Hahaha."


"Wah, hebat kamu Sayang! Aku kemarin juga berhasil menakut-nakuti Disha. Hahaha."


Aslan dan Hamzah mengepalkan tangan. Disha yang mengetahui hal itu karena ia duduk di antara keduanya, mencoba untuk meredam emosi Kakak dan suaminya dengan menggenggam tangan kedua laki-laki itu.


Disha berbisik, "Tenanglah Mas Aslan, Mas Hamzah." Disha menatap Kakak dan suaminya bergantian. Sedangkan dua laki-laki yang masih digenggam tangannya oleh Disha, hanya bisa menarik napas panjang dan mencoba untuk tetap stay calm.


Ketiganya lalu fokus lagi untuk mendengarkan percakapan Yoga dan pacarnya lewat ponsel yang di loudspeaker. Ya, salah satu anak buah Aslan menyamar sebagai pegawai resto, tempat Yoga dan pacarnya bertemu saat ini dan memasang alat penyadap suara.


"Semenjak aku gagal mendapatkan Serly dan Elma gagal menikah dengan Aslan, aku sangat benci pada kedua orang tuaku yang tetap membuka pintu lebar pada keluarga Aslan!"


Yoga menggebrak meja dengan wajah kesal. "Itulah sebabnya, aku lampiaskan dendam dengan merusak toko milik orang tua wanita yang tengah dekat dengan Aslan!"


"Apa yang kamu dapat dengan merusak toko itu, Sayang? Kamu malah disekap dalam waktu yang sangat lama dan hasilnya?"


"Aku puas, karena setidaknya, Elma juga sempat memperjuangkan cintanya pada Aslan. Meski akhirnya, Aslan tetap menikah dengan wanita sialan itu!"


"Tunggu deh, Sayang. Kamu tahu dari mana, soal Elma yang memperjuangkan cintanya?"


"Bod*oh! Aku disekap bukan tanpa memegang ponsel 'kan? Untung saja aku masih hafal diluar kepala, nomor ponselmu dan Elma."


Pacar Yoga manggut-manggut. "Kamu masih hafal juga dengan nomor ponsel Serly?"


Yoga tercekat. Sebenarnya ia masih hafal, tetapi Serly sudah mengganti nomor ponselnya itu. Lalu, Yoga mengangguk pelan dengan sedikit ragu.


"Ih, Sayang! Berarti kamu masih belum move on dari Serly dong. Ish!"


"B-bukan begitu, Sayang. Aku ini 'kan hanya kesal karena tak bisa menikahi Serly. Jadi, rencana aku pun gagal untuk bisa menguasai kekayaan seorang Bima Mahendra."


Pacar Yoga pun mendekat pada Yoga dan bertanya, "Memangnya kalau berhasil menguasai harta Bima Mahendra, kamu mau apa?"


Yoga berpikir sejenak, lalu ia memegang dagu pacarnya. "Tentu saja, mengaliri rekeningmu dengan banyak uang, Sayang!"

__ADS_1


Pacar Yoga langsung memeluk mesra Yoga. "Tapi, Sayang ... Kenapa aku masih ragu, kalau kamu benar-benar murni ingin menghancurkan toko milik orang tua Disha tanpa disuruh oleh siapapun?"


"Kau tidak mempercayaiku, Alya?"


Alya, pacar Yoga, menarik diri dari pelukan dan menatap Yoga. "Dengar, Sayang. Aku hanya ragu. Ragu!"


"Ck! Itu sama saja sih." Yoga lalu menarik napas dalam dan berkata, "Sebenarnya, selain aku yang memang berniat untuk merusak toko, ada bu Yuna juga yang menyuruhku."


"Bu Yuna itu siapa, Sayang?"


"Orang tua dari mantan tunangan Disha, Sayang."


Alya mengangguk paham dan tak bertanya lebih jauh lagi. Keduanya; Yoga dan Alya benar-benar tak menyadari bahwa tengah ada yang mengawasi. Setelah dirasa cukup lama mengobrol, Yoga mengajak pacarnya untuk pergi dari resto.


***


"Sudah aku duga, Disha, Mas Hamzah. Pasti kejadian itu ada hubungannya dengan orang tua Iyan."


Aslan yang sedang menyetir dan ditemani Hamzah yang duduk di sampingnya, terus saja menggerutu kesal. Disha dan Hamzah, sesekali saling tatap karena merasa lucu melihat tingkah Aslan.


"Aslan, sudah lah, jangan terlalu kesal begitu. Bahkan, Ibu saja sudah tak mau mengungkitnya. Tapi, kamu?"


"Iya, Aslan. Aku tahu hal itu, aku juga paham dengan yang kamu rasakan saat ini. Tapi, sudahlah, kita lepaskan saja Yoga."


Disha ikut menimpali, "Benar itu, Mas yang dikatakan Mas Hamzah. Toh tokonya sudah direnovasi dan keluargaku sekarang baik-baik saja. Lepaskan Yoga dan biarkan dia pergi saja ya, Mas?"


Aslan berpikir sejenak sebelum menjawab perkataan Disha. Ia lalu menepikan mobilnya. "Baiklah, demi kalian berdua, aku akan membebaskan Yoga dan tidak akan menawannya lagi."


"Nah, gitu dong!" Hamzah dan Disha berucap kompak.


Mobil kembali melaju membelah jalanan. Aslan mengantar Hamzah terlebih dulu, setelahnya ia pulang ke rumah.


***


(Sesampainya di rumah Aslan)


"Mas, Mas Aslan tidak ke kantor?" Disha heran karena suaminya tak kunjung berangkat menuju kantor.

__ADS_1


Aslan lalu mendekat oada Disha dan merangkul pundaknya. "Boleh aku begini?"


Pipi Disha merona dan menatap tangan Aslan yang sudah berada di pundaknya. 'Ya ampun, kenapa aku deg-degan begini sih?' Disha memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.


"Disha ... Sayang?" Aslan mencoba memanggil Disha yang terus saja terdiam.


Disha terjingkat dan langsung menatap Aslan. "I-iya, Mas. Tentu saja boleh. Hehehe." Diaha tersenyum kikuk di akhir kalimat.


Keduanya lalu masuk ke kamar dengan posisi Aslan merangkul Disha. Dan tiba-tiba saja, Aslan langsung menarik tangannya dari pundak Disha dan berpindah ke pinggang Disha.


Disha langsung berhenti berjalan. Ia menatap lekat sepasang mata yang meneduhkan milik Aslan.


Tatapan keduanya bertemu dan Aslan segera menyadari sesuatu bahwa Disha kurang nyaman karena ia memeluk pinggang Disha. "Maaf, Disha."


Disha salah tingkah dan merasa tak enak hati. "Eh, tidak apa-apa kok, Mas. Aku ... Aku cuma kaget saja."


"Benarkah begitu? Ya sudah, ayo!"


Kali ini, Aslan tanpa meminta persetujuan dari Disha, langsung menggendong Disha ala bridal style dan membawa sang istri ke kamar. Lalu, ia menurunkan Disha ke atas ranjang dengan pelan dan hati-hati.


Disha yang masih terkejut dengan perlakuan Aslan, tanpa sadar tangannya masih melingkar di leher Aslan. Wajah Disha dan Aslan sudah sangat dekat, bahkan keduanya bisa saling merasakan embusan napas masing-masing.


"Disha ...." Suara Aslan begitu lembut menyapa telinga Disha.


"Iya, Mas. Ada apa?" Tatapan Disha begitu dalam. Ia seperti tersihir oleh perlakuan manis Aslan.


"Kamu mau dipeluk?"


"Apa?!" Disha terperanjat dan menyadari sesuatu. Lalu, ia langsung menarik tangannya dari leher Aslan.


Aslan terkekeh pelan, lalu duduk di sebelah Disha. "Disha," Aslan kembali memanggil istrinya sambil memegang tangan Disha. "Aku, menyayangi dan mencintaimu tanpa kamu minta. Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin menyatakan perasaan yang sudah ada sebelum kita bertunangan."


Aslan membingkai wajah Disha dengan kedua tangannya. "Aku bahkan tidak perlu jawaban darimu, apakah kamu mau membalas perasaanku atau tidak. Tapi aku yakin, suatu saat, pasti keindahan untuk kita akan terjadi."


Disha menatap Aslan tanpa berkedip. Melihat reaksi Disha yang masih diam membisu, Aslan memberanikan diri untuk lebih mendekati wajah Disha.


Disha memejamkan matanya, karena ia yakin bahwa akan terjadi sesuatu. Dan benar saja ...,

__ADS_1


Aslan me*nge*cup lembut bibir Disha. "Wanita tawananku, wanita kesayanganku, Disha Maharani ... Terima kasih untuk first kiss-nya. I love you!" Aslan berucap dengan posisi tangannya yang masih membingkai wajah Disha.


__ADS_2