
'Kenapa aku tidak menghindar saat Mas Aslan menci*umku? Apakah aku sudah mulai bisa menerima Mas Aslan sepenuhnya? Apakah aku sudah mulai mencintainya?' Pikiran Disha meronta dengan mata yang masih terpejam. Namun, hatinya berkata lain.
Disha membuka mata, memberanikan diri menatap lelaki yang masih tersenyum manis padanya. Kemudian, ia ikut tersenyum. Disha menurunkan kedua tangan Aslan dari wajahnya.
"Mas Aslan ...." Disha ingin mengatakan sesuatu, tapi masih ragu.
Aslan paham dengan hal itu dan mencoba untuk menghilangkan keraguan Disha. "Kamu ingin mengatakam sesuatu, hm? Katakan saja, Disha. Aku tidak akan marah. Sudah aku bilang, cintaku tak bersyarat."
"Mas, a-aku ... Aku hanya, eum, aku ...."
Aslan mengangguk pelan. "Iya, kenapa Disha? Katakan saja."
"I LOVE YOU TOO!" Seru Disha dengan mata membulat dan langsung menutup bibirnya menggunakan satu tangan.
Aslan terkekeh. "Jadi, perasaanku sekarang terbalas, begitu?"
Disha salah tingkah dan bingung menjelaskannya. Lalu, ia mencoba untuk rileks dan bersugesti. 'Tenang Disha, tenang. Ungkapkan pelan-pelan agar kalian bisa saling memiliki seutuhnya.'
"Aku, sebenarnya ... Sudah lama melihat perjuanganmu yang tak pernah menyerah untuk selalu meluluhkan aku, Mas."
"Iya. Lalu?"
"Aku masih bingung saat itu, antara aku memang menaruh hati padamu atau hanya sekedar kagum."
Disha dan Aslan masih saling tatap. Aslan mengusap lembut pipi Disha. Hal yang biasanya membuat Disha gugup dan salah tingkah, kini membuat Disha menjadi tenang.
"Dan sekarang, bagaimana?"
"Aku memang menaruh hati padamu, Mas. Hanya saja, aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. Tapi hari ini, aku akan mengakui kalau aku memang mencintai suamiku ini."
Mata Aslan berbinar mendengar penuturan Disha. "Coba ulangi sekali lagi, Disha!"
"Aku mencintaimu, Mas Aslan! Apa perlu aku ulangi la —"
Aslan tanpa memberi aba-aba, kembali menge*cup bibir Disha. Kali ini, Aslan juga me*lumatnya dengan lembut. Disha secara tak sadar, memejamkan mata dan ikut hanyut dalam ciu*man itu.
Disha mengalungkan tangannya ke leher Aslan. Aslan lalu merebahkan tubuh Disha, tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Lalu, perlahan ia membuka kancing baju milik Disha.
__ADS_1
Disha tak melawan sama sekali, karena ia memang ingin menjadi milik Aslan seutuhnya. Disha kini sudah dalam kondisi tak terbalut sehelai benangpun di setengah badannya.
Aslan dan Disha melanjutkan pergu*latan bibir tadi ke hal yang lebih intim. Ya, keduanya melakukan hal yang bisa membuat orang merasakan salah satu 'surga dunia' setelah sekian lama. Aslan melakukannya dengan pelan dan hati-hati.
Saat keduanya sudah mencapai puncak, Aslan mengecup kening Disha. "Terima kasih, Disha. Terima kasih." Lagi, Aslan mencium bagian wajah Disha yang lain, kecuali mata. Aslan lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
Disha ikut duduk dan langsung memeluk sang suami sambil berkata, "Maafkan aku yang baru bisa melayanimu sekarang, Mas. Ini sangat terlambat. Meskipun pernikahan kita hanya diatas kertas, tapi —"
Aslan menutup bibir Disha dengan telunjuknya. "Sudahlah, Disha. Itu tidak perlu dibahas. Mari kita akhiri kontrak itu, karena kita sudah saling membuka hati."
Disha lalu membenamkan kepalanya ke dada bidang Aslan. Terasa hangat dan nyaman dalam pelukan sang suami. Disha menganggukkan kepalanya dan berkata, "Terima kasih, Mas Aslan sudah mau bersabar menunggu."
Keduanya saling berpelukan dan kembali berciu*man. Baik Disha maupun Aslan, keduanya masih tak berbalut sehelai benang, hanya bersembunyi dibalik selimut tebal.
Siang itu, tak hanya panas di luar. Tapi, di dalam kamar sepasang suami istri tersebut juga lebih panas. Ponsel keduanya yang sering berdering karena telepon dan pesan baru, tak digubris oleh Disha dan Aslan. Mereka berdua benar-benar menikmati kebersamaan yang 'intim' saat ini.
***
Beberapa minggu kemudian, Disha yang tengah sarapan bersama Aslan, Toni dan Yati, istri Toni, mendadak merasa mual. Aslan langsung membantu Disha menuju toilet yang ada di dekat dapur. Sedangkan Toni dan Yati saling pandang.
"Apakah nyonya Disha tengah hamil muda saat ini, Bu?"
"Amin. Semoga saja ya, Bu!"
Beberapa saat kemudian, Aslan dan Disha kembali ke meja makan. Tapi, Disha memilih untuk memakan buah dan air putih saja. Ia merasa mual saat mencium aroma masakan.
"Ini semua, padahal aku yang masak dan Bi Yati tidak aku ijinkan untuk membantu selain mengupas dan memotong sayuran. Tapi, kenapa malah aku jadi eneg sama masakan sendiri?" Disha terheran sambil mengupas buah apel.
Aslan bingung menjawabnya. Lalu, Toni menyenggol lengan Yati.
"Maaf, Tuan Aslan, Nyonya Disha. Sebaiknya diperiksakan saja ke dokter kandungan."
Deg!
Aslan dan Disha tercekat, bahkan sampai menghentikan aktivitas masing-masing.
"Periksa ke dokter kandungan, Bi?" kata Aslan dan Disha bersamaan, ingin memastikan yang diucapkan oleh Yati.
__ADS_1
"Iya! Bibi yakin, saat ini Nyonya sedang hamil muda."
Aslan menatap Disha. Pun dengan Disha. Lalu, terbitlah senyum di sudut bibir keduanya.
"Setelah sarapan, kita ke dokter!"
"T-tapi, Mas ... 'Kan hari ini kamu ada meeting dengan klien penting. Aku juga sudah rapi ini lho, mau menemani kamu, Mas."
"Tidak masalah, ada Pak Toni dan aku tinggal minta persetujuan dari Papa. Jangan salah, Pak Toni juga seorang bodyguard yang bisa melakukan bisnis dengan handal." Aslan mengedipkan satu matanya.
"Wah, hebat!" Disha memberi tepuk tangan sambil menatap Toni. Lalu, Disha kembali menatap Aslan. "Kalau begitu, aku mau ke dokter, Mas."
"Gitu dong! Istri yang pintar." Aslan mencubit gemas kedua pipi Disha.
"Ih ... Mas Aslan! Aku bukan anak kecil lagi!"
"Tapi kamu sangat menggemaskan, Disha! Hahaha."
Hal itu membuat Toni dan Yati ikut bahagia melihat kedua majikannya begitu harmonis.
***
"Selamat, Bu. Anda sedang hamil empat minggu. Selamat ya, Pak. Istri anda saat ini tengah mengandung."
Mata Aslan berkaca-kaca mendengar penuturan dari sang dokter. Pun dengan Disha.
"Dokter, ini tidak bohong 'kan?" Disha masih tak percaya.
Dokter dengan nametag Aisha itu pun tersenyum. "Tidak, Bu. Kita sudah lakukan tes urine dan berdasarkan HPHT Ibu, sudah masuk empat minggu usia kandungannya."
Disha lalu menatap Aslan. Keduanya sama-sama terharu. Disha mengibas-ngibaskan tangannya ke mata, agar tidak menangis.
"Dokter, tolong berikan yang terbaik, mulai dari vitamin, kebutuhan, pokoknya semua yang dibutuhkan istri saya selama menjalani kehamilan, Dok! Saya juga siap untuk melakukan apapun saran dari Dokter."
Dokter Aisha terkekeh. "Iya, Pak. Saya akan berikan yang terbaik untuk istri anda. Dan ya, saya juga akan memberikan beberapa tips untuk Bapak, agar bisa ikut andil dalam menjaga kehamilan Bu Disha."
Aslan sangat bersemangat mendengar nasehat dari dokter Aisha. Bahkan, ia sampai merekamnya supaya bisa diputar ulang oleh Aslan. Disha yang melihat hal itu, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Disha menatap Aslan yang tengah fokus mendengarkan nasehat dari dokter Aisha. 'Ya Allah ... Terima kasih sudah memberikan aku seorang suami yang sabarnya luas dan selalu siap siaga.'