Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 049


__ADS_3

(Di rumah sakit tempat Disha berada)


"Mas Aslan!" Disha berlari menghampiri Aslan. Badannya masih gemetar ketakutan.


Aslan memegang kedua pundak Disha dan menenangkannya. "Kenapa Disha? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Disha lalu menceritakan semuanya pada Aslan. Mulai dari saat ia pulang dan baru setengah perjalanan, kemudian secara tiba-tiba mobilnya dihadang oleh sepeda motor yang dinaiki dua pria berbadan besar dan bertato.


Supir yang Disha pikir hendak melawan, dihajar habis-habisan lalu ditembak. Pelurunya mengenai lengan sang supir dan karena hal tersebut, Disha menjadi sangat ketakutan.


"Begitu Mas, ceritanya. Aku benar-benar syok dan tidak menyangka akan terjadi musibah seperti ini." Disha menundukkan wajahnya, lalu menangis tersedu.


Aslan refleks memeluk Disha. Ia benar-benar khawatir melihat kondisi Disha yang masih sangat ketakutan, ditambah sekarang Disha menangis. Aslan mengusap naik-turun punggung istrinya itu.


"Tenanglah, Disha. Aku sudah di sini bersamamu. Ssst ... Tenang ya, tenang."


Disha membalas pelukan Aslan seraya membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami. "A-aku masih takut, Mas. Takut kalau terornya akan terulang lagi."


"Tidak, Disha. Aku pastikan pelaku dari teror yang terjadi hari ini, akan tertangkap secepatnya!"


Disha dan Aslan yang masih saling berpelukan, akhirnya menyadari keberadaan Toni dan tiga orang anak buah lainnya. Sedari tadi, keempat orang itu hanya menyaksikan adegan romantis dari sang majikan.


Aslan melepas pelukannya. Begitu pula dengan Disha. Keduanya menjadi salah tingkah setelah berpelukan cukup lama.

__ADS_1


"Pak Toni, tolong selidiki teror yang terjadi hari ini. Saya ingin pelakunya dibawa ke rumah. Pak Toni tentu paham dengan maksud saya." Aslan menatap Toni dan tiga anak buah lainnya.


Toni bersama tiga orang lainnya mengangguk kompak. Lalu, mereka berempat pun pergi meninggalkan rumah sakit.


Setelah Aslan memastikan kondisi sang supir sudah mulai membaik, Aslan memerintahkan dua anak buah lain untuk berjaga-jaga di depan kamar rawat inap. "Kalian berdua tolong berjaga di luar pintu kamar. Maksud saya, satu orang di dalam dan satunya lagi di luar. Mengerti?"


Kedua anak buah Aslan pun mengangguk mantap. "Siap Tuan!"


Setelahnya, Aslan dan Disha pamit pulang.


***


(Di rumah wanita yang menyuruh dua orang preman)


Ia sedang menerima telepon dari salah satu preman yang disuruhnya. Sang preman memberi kabar bahwa Disha berhasil ditakut-takuti.


"Baiklah ... Karena kerja kalian bagus, aku akan menambah bayaran untuk kalian. Datanglah ke rumahku nanti malam!"


Wanita itu lalu mendudukkan pantatnya di sofa empuk berwarna merah miliknya. Ia menggerutu pelan.


"Hah ... Akhirnya aku bisa membuat Disha dalam ketakutan. Harusnya, momen saat dia ketakutan terlihat olehku. Tapi, ya sudah lah!"


Wanita itu mengisap kembali rokoknya dan memikirkan rencana selanjutnya. Lalu, ponselnya kembali berdering.

__ADS_1


Ia menatap layar ponsel dengan wajah malas. "Dia benar-benar tidak sabaran sekali. Ya ampun."


Ponselnya dibiarkan berdering begitu saja, karena ia lebih memilih untuk melanjutkan mengisap rokoknya. "Masa bodoh lah dengan dia. Yang penting, aku sudah mau membantunya."


***


(Di Sabtu pagi)


Aslan terbangun setelah Disha membangunkannya untuk sholat subuh. Seperti biasa jika Aslan terlambat bangun atau tidak membangunkan Disha, berarti Aslan sedang kelelahan. Disha juga memahami hal itu.


"Mas, aku sudah punya wudhu dan tinggal nungguin kamu bersiap untuk sholat." Disha lalu duduk diatas sajadahnya. Sembari menunggu sang suami, Disha melakukan sholat dua raka'at sebelum melaksanakan subuh.


Saat raka'at kedua, ponsel Aslan bergetar. Kebiasaannya setiap akan tidur, ponsel Aslan selalu dalam mode 'hanya getar'.


Begitu pula dengan ponsel Disha. Karena Disha masih sholat, ia tak bisa menerima panggilan yang masuk ke ponselnya.


Disha juga tak memberitahu Aslan jika tadi ada yang menelepon. Usai sholat subuh, barulah Disha mengecek ponselnya.


"Hah? I-ini bukannya yang pernah kamu traktir itu Mas? Iya bukan sih?" Disha mengernyitkan keningnya dengan mata menyipit.


Sedangkan Aslan merasa tercengang dibuatnya. "Kamu yakin, Disha? "


Disha terlihat ragu, tapi ia tetap meyakini bahwa dirinya pernah melihat orang yang ada dalam foto, yang dikirim oleh Toni. "Lihatlah ini, Mas!"

__ADS_1


Aslan lalu membulatkan matanya, setelah melihat apa yang ditunjukkan oleh Disha.


__ADS_2