
Sore hari setelah pulang bekerja, Adam menghampiri Maryam yang tengah merebus air untuk membuat minuman untuknya di dapur. "Bu, bagaimana sekolah Disha? Apakah sudah ada surat peringatan soal pembayaran SPP yang terlambat?" tanya-nya sambil membantu Maryam mengambilkan gula dan kopi.
Maryam menarik napas dalam dengan wajah sendu. "Kemarin sudah dapat, Ayah. Hanya saja, Ibu yang tak menyampaikan hal itu pada Ayah," jawab Maryam, sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir yang sudah terisi kopi dan gula. Diaduknya kopi tersebut dan ia sajikan ke ruang tamu.
Adam berjalan di belakang Maryam sambil terus menatap dalam, istrinya itu. Ia sangat mengasihi wanita yang sudah bertahun-tahun menemaninya. Maryam selalu bisa memahami kondisinya dan berusaha membantu memberikan jalan keluar.
Kemudian, Maryam duduk menemani Adam menikmati segelas kopi hitam. Adam nampak menikmati kopi buatan istrinya itu. Lalu, Adam mulai menceritakan tentang niatnya untuk menemui sahabatnya yang pernah memberikan kartu nama.
"Bu, dia kawan lama Ayah yang pernah menawarkan bantuan berupa beberapa jumlah uang. Tapi, Ayah meminta untuk diberi pekerjaan agar tidak terkesan menerima bantuan cuma-cuma. Rencananya, hari ini Ayah akan menemui dia di kantornya," kata Adam.
Raut kelegaan muncul di wajah Maryam. "Alhamdulillah ... Semoga Ayah bisa mendapat pekerjaan di kantor kawan Ayah itu ya!"
"Aamiin, Bu. Ya sudah, setelah selesai minum kopi, Ayah akan bersiap. Ibu tidak perlu ikut, tetaplah di rumah."
"Lho, kenapa tak boleh ikut? 'Kan biar Ayah ada yang menemani di perjalanan."
"Bu, biarkan Ayah saja yang pergi. Ibu tunggu di rumah, ya! Siapa tahu, Hamzah tiba-tiba pulang atau Disha nanti ingin bercerita tentang sekolahnya lagi seperti kemarin itu, iya 'kan?"
Maryam mengangguk sedih. Sedih karena tak diijinkan ikut pergi bersama Adam. Namun, ia juga tak bisa memaksa suaminya itu. Maryam tahu betul, jika sang suami tak mengijinkannya ikut menemani, berarti memang ada hal serius yang ingin dibicarakan.
Ada perasaan tak rela, saat Maryam melepas sang suami pergi. Namun, ia berusaha terlihat biasa saja di hadapan Adam. Karena Adam selalu tahu, apa yang tengah Maryam rasakan hanya dengan melihat raut wajah saja. Setelah mengantar kepergian sang suami, Maryam kembali menutup pintu rumahnya.
Adam yang sedang dalam perjalanan menaiki sepeda ontelnya, sesekali menyapa beberapa warga yang baru selesai bekerja di kebun. Hatinya begitu senang, karena akan bertemu kawan lama. Terlebih lagi, ia berharap bisa bekerja di kantor kawannya itu. Saat baru saja menapaki jalan raya, sepeda ontel milik Adam tersenggol sebuah mobil.
Mendengar suara yang tak begitu keras, namun terlihat ada korban yang tergeletak, membuat beberapa orang di sekitar lokasi kejadian langsung menyemut. Mobil yang menyenggol Adam pun diserang massa.
__ADS_1
"Tuan, bagaimana ini? Apa lebih baik kita pergi saja?" tanya supir, pada sang majikan.
"Hus! Kita bawa dia ke rumah sakit, Pak! Kamu ini bagaimana? Saya sedang istirahat, malah kamu tak hati-hati dalam berkendara," jawab sang majikan yang merasa kesal pada supirnya.
"Turun, Pak! Kita bawa dia ke rumah sakit!" titahnya, yang langsung diangguki oleh sang supir.
Setelah dua orang tersebut keluar dari mobil, massa pun mulai mencemooh. Lalu, sang supir meminta maaf pada massa dan berkata bahwa akan membawa korban ke rumah sakit. Massa yang tadinya emosi, akhirnya membantu menaikkan korban ke mobil.
Sesampainya di rumah sakit, sang majikan baru menyadari siapa korban dari kecelakaan barusan. "Ya Tuhan, Adam!"
Adam dibawa dengan brankar menuju IGD dalam kondisi setengah sadar. Ia mencoba menatap orang yang tengah ikut mengantarnya.
"Hei, kawan. Aku sedang ingin menemui-mu. Tak ku sangka, kita bertemu di sini," kata Adam dengan senyum samar.
"Sssst, sudah Adam ... Jangan terlalu banyak bicara dulu! Lekas membaik dan kita akan bicara panjang lebar nanti. Kita belum banyak bertukar cerita."
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit, istri dari kawan Adam itu mendekati suster jaga. "Hilangkan nama suami saya dari daftar nama di sini, dan ganti dengan kalimat bahwa orang yang baru saja masuk IGD adalah korban tabrak lari!" katanya sambil memberikan sebuah cek dengan puluhan juta uang tertulis di sana.
Sang perawat tak menerima cek itu, tetapi perintah wanita tersebut juga tak dibantah. Ia tahu betul siapa wanita itu. Lalu, setelah urusan selesai, wanita itu segera menyusul suaminya yang sudah masuk ke dalam mobil.
Adam yang tengah berjuang karena luka dalam yang cukup parah, merasa bahwa hidupnya sudah tak lama lagi. Ia ingin bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Tadi, ia sempat minta tolong pada suster, untuk menghubungi Maryam. Dan suster pun sudah melakukan permintaan Adam.
"Pak Adam tunggu saja kedatangan istri dan anak Bapak ya!" kata Suster.
"Baiklah, Sus."
__ADS_1
Adam kembali mengingat pertemuan tadi dengan kawannya. Ia merasa terharu dan bingung. Terharu, karena bisa bertemu meski dalam situasi yang tak tepat. Bingung, karena ia tak lagi melihat sosok kawannya itu.
"Ayah ...!" seru dua orang wanita setelah membuka pintu ruang rawat Adam dengan kasar. Kedua wanita itu adalah; Maryam dan Disha.
Adam menatap kedua wanita yang ia sayangi dengan raut lega. "Kalian berdua, kenapa terlihat buru-buru sekali?"
"Ayah, siapa yang mencelakai Ayah? Katakan Ayah!" desak Disha yang sudah emosi.
Maryam menenangkan Disha. Pun dengan Adam. Adam mencoba menjelaskan yang terjadi pada putrinya itu. Namun, Disha tak percaya dengan cerita Ayah-nya. Ia lebih percaya kata perawat jaga yang mengatakan bahwa Ayah-nya adalah korban tabrak lari.
Selama di rumah sakit, Disha dan Maryam bergantian menjaga Adam. Hingga saat hari ketiga dirawat, Adam sudah tak bisa lagi berjuang. Maryam dan Disha, menyaksikan bagaiman perjuangan Adam untuk bertahan, tetapi tidak untuk hari ketiga. Keduanya pun sudah merasa ikhlas, karena tak ingin melihat Adam kesakitan.
Luka yang didapat oleh Adam juga serius. Mendapat benturan di kepala, dan karena ada riwayat jantung membuat Adam harus berjuang lebih.
Maryam dan Disha mengurus semuanya di rumah sakit. Biaya dan lainnya, sudah dibayar oleh orang lain. Begitulah kata pria yang ada di bagian administrasi. Lalu, Maryam dan Disha segera pulang menaiki mobil jenazah. Sesampainya di rumah, Maryam mengabarkan pada tetangga dan meminta bantuan untuk mengurus pemakaman Adam.
"Bu ... Sudah, jangan sedih lagi ya," kata Disha yang langsung memeluk sang Ibu, setelah usai mendengar cerita.
Hamzah dan Riyani ikut menangis saat mendengarkan cerita dari Maryam.
"Bu, Ayah pasti sudah tenang di sana," kata Hamzah. "Kita terus kirimkan doa untuk Ayah, agar rindu kita tersampaikan ya, Bu!" sambungnya.
Maryam menarik diri dari pelukan. Ditatapnya Hamzah, putra semata wayangnya dengan tatapan begitu sendu. Lalu, ia mengangguk samar untuk menjawab perkataan Hamzah tadi.
Maryam kembali dipeluk oleh Disha. Sedangkan Hamzah, ia mendekati sang Ibu dan mengusap punggung Maryam. Sedangkan Riyani, ia duduk terharu melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Ia merasa beruntung bisa menjadi istri dari Hamzah dan mempunyai Ibu mertua seperti Maryam.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum. Wah, ternyata semuanya sedang berkumpul di belakang?"
Keempatnya; Maryam, Disha, Hamzah dan Riyani langsung menoleh ke sumber suara.