
"Halo, dengan siapa ini?" Disha mencoba menyapa ramah.
"Hai, Disha ... Ini aku, Aslan. Maaf, aku memakai ponsel pak Toni," jawab dari seberang.
Disha mencoba mengingat suara Aslan dan terpikir untuk menjahilinya. "Oh, tuan Aslan. Ada apa, tuan?"
"Disha, ini aku Aslan."
"Iya, ada apa tuan Aslan?" Disha mengatupkan rapat bibirnya, menahan tawa.
"Sudah lah. Ehm! Begini, besok kita harus cek tempat produksi. Ada sesuatu yang baru, yang akan diluncurkan oleh perusahaan kita, Disha."
"Oh, siap tuan. Ada hal lain lagi yang ingin disampaikan?"
"Iya, emm ... Tidak, itu dulu saja. Besok aku akan menjemput mu, kita berangkat dari rumah saja. Oke?"
Disha mengangguk dan berkata, "Siap, laksanakan tuan!"
Mendengar jawaban Disha, Aslan menggeleng dan tersenyum. "Baiklah, selamat malam Disha," ucap Aslan. Sedang dalam hati, ia melanjutkan ucapan itu dengan berkata, "Wanita kesayangan ku."
Sambungan telepon pun terputus. Disha tersenyum sendiri setelah percakapan di telepon itu, usai. Lalu, ia merebahkan badannya.
Ia kembali memikirkan tawaran dari Aslan soal menikah kontrak. Sebenarnya, Disha masih belum ingin menerima pasangan setelah dikhianati oleh Iyan. Namun, ia juga merasa mempunyai banyak hutang budi pada Aslan.
Jika menerima, ia takut tak bisa membuat Aslan merasa nyaman. Tapi jika menolak, ada rasa tak enak hati karena ingin membalas semua jasa yang pernah Aslan berikan.
"Di saat aku mengalami kecelakaan, Aslan lah yang membantu ku, mengajari aku untuk bisa merubah kebiasaan dari Disha menjadi Clara.
Dan di saat aku membutuhkan pertolongan, entah kenapa dia seperti selalu ada dan siap membantu," monolog Disha sembari menatap langit-langit kamar yang mulai redup cahayanya.
"Ayah, apa yang harus aku lakukan? Harus kah aku menerima tawaran Aslan? Akan kah aku dan Aslan bisa saling melengkapi nantinya? Meski ini hanya pernikahan kontrak, aku ingin bisa menjadi istri yang baik untuk Aslan, Ayah ...," lagi, Disha bermonolog dan berakhir dengan bulir bening yang menetes dari sudut matanya.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Disha benar-benar mematikan lampu kamarnya. Lalu, ia pun terlelap dengan selimut yang membalut hingga pinggang.
Disha terbangun, manakala ia merasakan sentuhan di kepalanya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, dan menoleh ke tepi ranjang. "A-Ayah...! Ayah...!" Disha lalu bangkit memeluk sang Ayah dengan begitu erat.
__ADS_1
"Kenapa kamu terlihat begitu gelisah, Nak? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Adam seraya mengusap lembut punggung Disha.
Disha yang menangis pun menjawab, "Ayah, apa yang harus aku lakukan? Seorang lelaki yang berjasa bagiku, meminta-ku untuk menjadi pasangan hidupnya. Ini sulit Ayah, sangat sulit.
Di satu sisi aku ingin menolak, tapi di sisi lain aku ingin menerimanya, Ayah. Katakan Ayah, apa yang harus aku lakukan?"
Adam tersenyum dengan tangan yang masih mengusap punggung Disha. Satu tangannya lagi menggenggam tangan Disha. Lalu, Adam melepaskan diri dari pelukan.
"Nak ... Jika dia lelaki yang baik, jangan ragu untuk menerimanya. Kamu tahu Nak? Harapan Ayah adalah; bisa melihat kedua putra-putri Ayah bahagia bersama pasangan masing-masing."
Adam menangkup wajah putrinya dan melanjutkan kata-katanya lagi. "Saat ini, mungkin kamu tidak menyimpan perasaan apapun untuknya. Tapi suatu saat, kamu akan merasa bahagia bisa menjadi bagian dari hidupnya."
Disha menyapu air matanya pelan. Lalu, dengan raut wajah bingung ia bertanya lagi, "Apa itu benar Ayah?"
Adam mengangguk tersenyum. "Tentu saja benar, Putri-ku. Tidurlah kembali, Sayang. Ayah akan pergi sekarang."
Adam bangkit dari duduknya di tepi ranjang dan berjalan mundur. Wujudnya perlahan-lahan memudar.
"Ayah, tidak Ayah. Tidaaak! Jangan tinggalkan aku, Ayah!"
Disha meronta, mencoba menggapai bayangan sang Ayah. "Ayah ...!"
"Kamu kenapa, Sayang?" Maryam mengetuk pintu kamar Disha yang terkunci. Ia ikut terbangun, karena mendengar teriakan Disha.
Disha menyibakkan selimut dan turun dari ranjang untuk membuka pintu. "Aku tidak apa-apa, Bu. Hanya saja, tadi aku bermimpi," kata Disha dengan wajah sendu.
"Kamu bermimpi bertemu Ayah-mu 'kan? Tadi, Ibu dengar kamu meneriakkan kata Ayah."
Disha langsung memeluk Ibunya dan menangis tersedu. Hal itu membuat Hamzah yang kamarnya bersebelahan dengan Disha, menjadi terbangun. Pun dengan Riyani.
"Ada apa, Bu? Kenapa Disha menangis?" tanya Hamzah penasaran.
Disha menarik diri dari pelukan, lalu menyeka air matanya. Kini, Riyani yang merangkul Disha, untuk menenangkan Adik iparnya itu. "Tenanglah, Dek. Kami bersama-mu, oke?" kata Riyani yang langsung diangguki oleh Disha.
Disha masih tertunduk sedih, saat Maryam menceritakan apa yang terjadi. Dan Riyani, masih setia merangkul pundak Disha, sambil mengusap pelan lengan Disha.
__ADS_1
Setelah Hamzah mengetahui penyebab Disha menangis, Hamzah dan Maryam sama-sama menatap Disha. Keduanya dengan tatapan sendu, mencoba bertanya pada Disha bergantian.
"Apa Ayah-mu mengatakan sesuatu dalam mimpi itu, Nduk?" tanya Maryam.
"Kalau iya, apa yang Ayah katakan, Dek?" timpal Hamzah.
Dengan perasaan yang masih sedih, Disha menceritakan perihal mimpinya tadi. Setelahnya, Maryam memeluk Disha. Hamzah pun ikut memeluk kedua wanita yang ia kasihi itu. Sedangkan Riyani, ia tersenyum haru menatap tiga orang yang tengah saling berpelukan itu.
***
Sinar matahari yang menembus jendela, membuat Disha mengerjapkan mata. Ia tertidur lagi setelah sholat subuh. Dilihatnya jam di atas nakas.
"Ya ampun. Ini sudah jam delapan! Kenapa tidak ada yang membangunkan aku?" pekik dan gerutu Disha.
Disha lalu segera beranjak dari tempat tidurnya, untuk membersihkan diri. Setelahnya, ia mengambil baju dan segera berdandan. Dalam situasi seperti ini, Disha mencoba untuk tetap santai. "Pasti aku akan di cap sebagai karyawan malas setelah ini. Uhh!" racaunya sembari memoles wajahnya dengan bedak padat.
Tak lama kemudian, ia keluar kamar dan melihat Aslan yang sudah duduk di ruang tamu bersama Ibunya. Ia merasa heran, karena Ibunya tak membangunkan, mengetuk pintu kamar pun tidak. Perlahan, Disha pun berjalan menghampiri dua orang yang tengah asyik berbincang tersebut.
"Ibu, kenapa Ibu tidak membangunkan aku? Aku jadi terlambat bangun," ucap Disha setelah duduk di samping Ibunya. Bibirnya mengerucut beberapa senti.
Maryam terkekeh melihat ekspresi wajah Disha. "Tadinya, Ibu mau bangunkan kamu. Tapi, Nak Aslan keburu datang ke sini," Maryam menjeda ucapannya. Ia menatap Aslan.
"Kata Nak Aslan, tidak apa-apa, biarkan kamu tidur lebih dulu. Karena hari ini, kamu dan dia ada pekerjaan yang sedikit menyita waktu nanti," sambung Maryam sambil mengusap lengan Disha.
Disha berangsur lega. Tadinya, ia berpikir kalau Aslan akan menegurnya. Tapi, ternyata pikirannya itu salah.
Aslan pun berkata, "Iya, Disha. Tidak apa-apa kamu terlambat. Oh iya, kita berangkat sekarang?"
Disha mengangguk pelan dan mencium takzim punggung tangan Ibunya. Maryam kembalu terkekeh. Hal itu membuat Disha penasaran. "Ada apa, Bu? Kok Ibu malah tertawa?"
Maryam yang masih terkekeh itu menjawab, "Tidak apa-apa, Nduk. Hanya saja, Ibu hari ini ikut bersama kalian. Hamzah sudah berangkat lebih dulu ke toko. Dan Riyani, sedang pergi ke pasar."
"Oh, begitu. Aku kira kenapa? Ya sudah, ayo kita berangkat Bu!" ucap Disha penuh semangat.
"Tapi, kalian berdua belum sarapan."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu. Kami bisa sarapan di perjalanan nanti," ucap Aslan.
Disha menatap Maryam dan mengangguk setuju dengan ucapan Aslan. Lalu, ketiganya keluar rumah dan segera masuk ke mobil. Maryam duduk di depan, menemani Aslan. Sedangkan Disha duduk, tepat di belakang Ibunya.