
"Kamu dibohongi Yoga, Aslan. Mama tidak pernah meminta Yoga untuk melakukan hal sejahat itu!"
Rita, ia tengah duduk berdua bersama Aslan di taman belakang rumahnya. Aslan mendatangi rumah orang tuanya tanpa Disha.
"Tapi, Ma ... Yoga bilang karena Elma menolak perjodohan, makanya Mama menjadi marah dan mengancam keluarga Elma."
Rita menarik napas dalam dan merubah posisi duduknya jadi menghadap lurus ke depan, tak mau menatap Aslan. "Kapan kejadian perusakan toko itu?"
Aslan menjadi tak nyaman melihat reaksi Rita yang tersinggung dan kecewa. "Tahun lalu, saat pernikahan Hamzah tepatnya. Mungkin sekitar bulan September atau Oktober, Ma."
"Kamu lupa, Aslan? Mama bahkan baru pulang ke Indonesia saat memasuki bulan November. Bulan sebelumnya, Kakakmu, Serly lah yang ingin memberi kejutan bahwa Mama Papa pulang. Tapi, ternyata Serly lah yang pulang tanpa anak dan suami."
Memori Aslan langsung berputar setelah mendengar ucapan Rita. 'Mama benar, Mama pulang saat memasuki awal November karena sebelumnya, Mama dan Papa di luar negeri menemani kak Serly.'
Rita menepuk pundak Aslan. "Nak! Sudah ingat sekarang, hm?" Rita menaikkan sebelah alisnya.
"Ingat, Ma. Kalau begitu, berarti Yoga yang sudah menipuku. Argh!" Aslan memukul kursi taman sebagai pelampiasan marahnya.
Lalu, Rita memeluk sang Putra dan mengusap punggung Aslan. "Mama takut, kamu sedang dalam bahaya dan dipermainkan oleh keluarga Elma. Jaga dirimu baik-baik, Aslan!"
Bulir bening menetes dari sudut mata Rita. Aslan langsung menarik diri dari pelukan dan mengusap air mata sang Ibu. "Tidak, Ma. Tenanglah, aku akan selalu berhati-hati dan waspada mulai sekarang."
Rita kembali memeluk Aslan dan menumpahkan tangisnya. Ia juga meminta maaf karena dulu memaksa Aslan untuk menerima perjodohan yang ditawarkannya.
"Sssst ... Sudah Ma, sudah. Aslan sudah melupakan itu. Aslan hanya meminta, tolong sayangi Disha dan jangan bersikap dingin padanya, Ma. Bisakah Mama melakukannya?"
Rita bergeming, tak berbicara sepatah kata pun. Beberapa saat kemudian, barulah ia melepas pelukannya. "Mama tidak bisa menjanjikannya. Tapi, lihat saja ke depannya bagaimana. Mungkin, Mama bisa berubah."
"Nah, gitu dong Ma." Aslan tersenyum lebar mendengar ucapan Rita.
"Pagi-pagi sudah bermesraan bareng anak saja, Ma!" Bima yang baru saja selesai berolahraga, menyapa istri dan anaknya di taman belakang.
"Mana menantuku, Nak?"
Aslan bangkit dari duduknya dan mempersilakan Ayahnya duduk. "Disha sedang tidak ikut ke sini, Pa. Papa baru selesai berolahraga? Atau akan lanjut di sini?" Aslan menunjuk lapangan di dekat taman.
Bima tertawa. "Tentu saja, Papa tidak akan melanjutkannya di sini. Papa sudah agak lelah, jadi ingin beristirahat dulu."
"Baiklah, Pa, Ma ... Aslan pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum!"
(Aslan dalam perjalanan pulang)
"Halo, Pak Toni. Saya punya permintaan tolong."
" .... "
"Begini, Pak Toni ...."
__ADS_1
" .... "
"Benar! Begitu saja, Pak. Saya dalam perjalanan pulang. Saya akan menyuruh Disha untuk keluar dari rumah."
Aslan lalu memutus sambungan telepon melalui earphone-nya. Ia kembali fokus ke jalanan dengan tatapan tajam.
***
Disha mengunjungi kantor yang sekarang sudah dikelola oleh Hamzah. Di sana, ia sudah tidak digosipkan lagi oleh para karyawan.
"Selamat datang, Adikku. Di mana Aslan?" Hamzah memeluk sang Adik dengan penuh kasih sayang.
Disha membalas pelukan Hamzah. "Nanti dia akan menyusul kok, Mas. Mas Hamzah apa kabar? Lama tidak jumpa. Mba Riyani sudah mau melahirkan ya? Aku rindu juga sama mba iparku itu. Hehehe."
Hamzah melepas pelukan, berganti dengan memegang lengan Disha. "Kamu ini banyak sekali pertanyaannya. Ayo duduk dulu, kita sambil video call dengan mba iparmu itu."
"Ayo!"
Disha dan Hamzah duduk di sofa dan melakukan video call. Disha sangat senang bisa berbincang dengan Kakak iparnya itu.
"Permisi!"
"Silakan masuk!" Hamzah menyahut sambil menepuk pundak Disha, dan sang Adik langsung mengangguk.
(Pintu dibuka)
Aslan tersenyum lebar menampilkan deretan giginya. Hamzah lalu merangkul pundak Aslan dengan gemas dan membawanya masuk.
Disha yang masih melakukan video call langsung menatap Aslan. "Mas Aslan, baru datang?"
"Iya, Sayang. Mas baru saja sampai." Aslan lalu duduk merapat pada Disha.
Hal itu membuat Hamzah ingin menggoda mereka berdua. "Ekhem!" Hamzah bersiul. "Kita kayaknya ada saingan nih, Dek." Hamzah lalu menatap layar ponsel dan menyorot kedua pasangan suami istri itu. Riyani pun ikut tertawa bahagia.
Aslan dan Disha tersipu malu. Kemudian, Hamzah mematikan video call-nya. "Jadi, ayo kita bahas sekarang saja, Aslan!"
Disha menatap bingung Aslan dan Hamzah bergantian. "Membahas apa?"
"Kamu dengarkan saja dulu, Dek. Mas sudah sering membahas hal ini dengan suami-mu."
Aslan mengangguki ucapan Hamzah. "Mas Hamzah benar, Sayang. Kamu cukup simak saja, oke?"
Disha menggeleng cepat. "Tidak bisa! Aku ingin tahu dari awal!"
Kemudian, Hamzah mendapat tatapan dari Aslan yang seolah Adik iparnya itu meminta persetujuan. Hamzah pun mengangguk pelan. Pun dengan Aslan.
"Sebenarnya, Disha. Hari saat toko kue dirusak, aku sudah mengabarkannya pada Mas Hamzah."
__ADS_1
Disha tercekat. Sedangkan Hamzah hanya diam menyimak.
"Tunggu dulu, aku belum selesai menjelaskan."
Disha mengangguki ucapan Aslan.
"Sesaat setelah aku mengejar pelakunya malam itu, aku langsung menelepon Mas Hamzah, tapi aku belum menceritakan detailnya. Saat aku sudah sampai di rumah, barulah aku menceritakan semuanya."
Disha menelan salivanya. "Lalu?"
"Kamu tahu kamar yang ada di dekat ruang kerjaku di rumah?"
Disha mengangguk. "Kenapa dengan kamar itu, Mas?"
Aslan lalu menceritakan semuanya, bahwa Yoga ada di dalam kamar itu semenjak ia tertangkap oleh Aslan. Dan hari ini, ia punya rencana untuk sengaja membuat rumah terlihat sepi dan pintu kamar tak lagi dikunci.
Disha dan Hamzah mendengarkan penjelasan Aslan dengan seksama. Aslan juga mengatakan bahwa ia sengaja menyuruh Disha untuk menemui Hamzah.
"Lalu, langkah selanjutnya bagaimana, Aslan?"
Disa ikut menimpali, "Iya, Mas. Kalau dia tidak kabur, bagaimana?"
Aslan berpikir sejenak sambil menarik napas dalam. "Entahlah, Mas, Disha. Tapi, aku yakin sekali kalau dia akan kabur dan menemui pacarnya."
"Pacarnya?" Disha dan Hamzah berucap bersamaan.
Aslan menatap Disha. "Iya, pacarnya yang kamu tunjukkan fotonya itu padaku."
Hamzah menatap Disha. Lalu, Disha mengingat sebuah foto yang ia tunjukkan pada Aslan.
"Tapi, Mas ... Apa benar, itu pacarnya Yoga?"
Hamzah menepuk pelan, lengan Disha. "Dek, kamu ini lupa atau bagaimana? Suami-mu memiliki pak Toni yang bisa diandalkan untuk mencari banyak informasi."
Disha mengusap tengkuknya. "Oh, iya. Aku lupa, Mas. Hehehe."
Aslan tersenyum dan mengusap pipi Disha. "Tidak apa-apa, Sayang. Maaf ya, aku baru cerita semuanya hari ini?"
Disha bergeming setelah pipinya diusap oleh sang suami. Lalu, Hamzah menepuk pundak Disha.
"Oiy, Dek! Ya ampun, perkara pipi diusap, jadi mematung." Hamzah tertawa lepas melihat reaksi Adiknya.
Pipi Disha seperti tomat rebus, merah merona karena malu. Sedangkan Aslan, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia juga merasa heran, kenapa bisa refleks mengusap pipi Disha.
"Iya, tidak apa-apa, Mas. Semoga saja, prediksi kamu tentang Yoga yang akan kabur itu, benar."
"Amin." Mereka berdua; Aslan dan Hamzah, kompak meng-aminkan harapan Disha.
__ADS_1
Tak berselang lama, ponsel Aslan pun berdering. Ternyata telepon dari Toni. Lekas, Aslan menjawabnya.