
Saat tengah membahas pertunangan, tiba-tiba saja terdengar suara dari arah pintu utama. Ternyata, yang datang adalah Yuna, ibunya Iyan.
"Siapa yang akan bertunangan?" tanya Yuna sekali lagi, sambil berjalan mendekat ke ruang tamu.
Bima dan Rita saling tatap, dan menggeleng pelan dengan mengangkat bahu. Maryam sedikit terkejut dengan kedatangan Yuna, yang mendadak. Berbeda dengan Hamzah dan Disha, keduanya tetap kurang suka jika Yuna datang ke rumah. Dan Aslan, ia menjaga sikapnya, agar tidak kelepasan bicara pada orang tuanya.
Maryam berdiri, menghadang Yuna yang akan duduk di dekatnya. "Maaf, untuk apa Bu Yuna datang ke sini?"
Yuna tersenyum meremehkan, menatap Maryam dan Disha bergantian. "Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin memberikan ini!" Yuna merogoh tas nya.
Terlihat foto Disha dan Iyan, saat bertunangan. Yuna sengaja menjatuhkan foto itu, agar terlihat oleh Aslan dan keluarganya. Ia masih merasa dendam pada Disha.
"Itu anak Ibu?" tanya Rita, spontan. Ia sudah berdiri bersama Bima, dibelakang Maryam.
"Iya, anak saya laki-laki. Dan perempuan dalam foto itu, adalah Disha!" ungkap Yuna, dengan penuh semangat. Niatnya adalah, ingin mempermalukan Disha.
Bima pun bertanya, sambil menunjuk foto yang ada di bawah, mengamati wajah perempuan yang ada di foto tersebut. Lalu, ia menatap Disha, sekilas. "Dia adalah Disha? Tapi, kenapa wajahnya berbeda?"
"Iya. Mana mungkin, satu orang berwajah beda!" timpal Rota, yang merasa heran.
Yuna tertawa terbahak, mendapati pertanyaan seperti itu. Lalu, ia mengambil foto yang jatuh itu, untuk memperlihatkannya pada Bima dan Rita. "Wanita ini, dulunya adalah tunangan putra ku. Bahkan, sudah hampir menikah. Tapi —"
"Hentikan omong kosong anda, Nyonya!" seru Aslan, memotong perkataan Yuna.
Yuna menoleh, menatap Aslan. Tatapannya begitu tajam. "Kenapa?! Apa kamu takut, kalau aku akan membongkar siapa Disha, begitu?"
Aslan tersenyum sinis, seolah mengejek Yuna. "Saya tidak takut sama sekali. Silakan, jika Nyonya masih berminat untuk mencaci-maki Disha. Kebenarannya, saya sudah tahu. Jangan lupakan itu!"
Yuna mendengkus kesal. "Disha ini, dulu meninggalkan putra ku, demi meraih pria yang lebih kaya! Bahkan, dia menjebloskan putra ku ke penjara!" seru Yuna, dengan nada tinggi dan menunjuk Disha.
Bima dan Rita, sontak terkejut. Lalu, keduanya menatap Aslan. Tatapan keduanya meminta penjelasan. Hingga tanpa berbicara pun, Aslan sudah paham dengan maksud kedua orang tuanya.
"Pa, Ma ... Jadi, begini ceritanya ...."
Aslan menceritakan awal bertemunya ia dengan Disha. Saat ia membantu Disha melakukan operasi wajah. Hingga Aslan membantu Disha melaporkan Iyan, ke pihak yang berwajib.
Disha juga menjelaskan, kenapa ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Iyan. Meski harus mengorek luka lama, Disha merasa harus menceritakan selengkapnya, pada orang tua Aslan.
Yuna yang tadinya angkuh, mendadak terlihat gugup. Ia bingung, karena ternyata Disha mau melawan perkataannya. Lalu, ia perlahan berjalan mundur, untuk pergi dari rumah Maryam. Baru beberapa langkah, ia sudah dihentikan oleh Hamzah.
"Mau ke mana, Nyonya Yuna?" Hamzah menyunggingkan senyum sinis. "Setelah mempermalukan adik ku, kau mau pergi begitu saja dari sini, Nyonya? Tidak bisa! Tunggu sampai orang tua calon tunangan Disha berkomentar ...!" Hamzah meperingati, dengan nada emosi.
__ADS_1
Riyani datang menghampiri Hamzah, dan mengusap naik turun, punggung Hamzah. "Tenang, Mas Hamzah ... Tenang."
Terlihat, yang lain menyusul menghampiri Hamzah, Riyani dan Yuna. Lalu, Aslan memberi peringatan pada Yuna, "Jangan pernah mengusik tidurnya singa, Nyonya. Saya sudah berusaha untuk diam. Tapi, jika satu kali lagi Nyonya memojokkan Disha lagi, saya tidak akan tinggal diam ...!" Aslan membisikkan itu, dengan penuh penekanan.
Yuna gemetaran, merasa takut dengan ancaman Aslan. Bagaimana tidak? Ia awalnya hanya ingin, keluarga Aslan mengetahui keburukan Disha. Namun, serangan itu berbalik padanya. Ia menunduk, tak berani menatap Aslan.
"Aslan ... Sudah, Nak. Dia seusia Mama mu. Biarkan dia pergi," titah Bima.
Aslan mengangguk, dan menjauh dari Yuna. "Silakan pulang, Nyonya!"
Yuna segera berlari menuju pintu. Kali ini, ia benar-benar tak berani menoleh ke belakang, sebelum benar-benar pergi. Justru, Yuna merutuki kebodohannya dalam hati, sembari sesekali menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Setelah kepergian Yuna, semuanya kembali berkumpul di ruang tamu. Kali ini, Disha duduk bersama Maryam. Aslan duduk bersama Bima dan Rita. Sedangkan Hamzah dan Riyani, berdiri di belakang tempat duduk Maryam. Lalu, pembahasan soal pertunangan pun, dimulai lagi.
***
Empat hari kemudian, Disha yang tengah di rias oleh MUA, terlihat begitu gugup. Ya, hari ini adalah hari pertunangannya dengan Aslan. Acara dilakukan, pukul tujuh petang nanti. Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh petang. Tak henti-hentinya, Disha memainkan jemarinya di meja rias.
"Mba, apa ini masih lama?" tanya Disha, dengan wajah memelas.
Sang MUA pun menjawab, "Tidak, Kakak. Sedikit lagi selesai. Tinggal memoles bibir. Tunggu sebentar, ya ...!"
Kebaya yang dikenakan Disha untuk acara malam ini, berwarna ungu. Dipadukan dengan rok batik sepanjang mata kaki, berwarna hitam bercampur ungu. Disha terlihat begitu anggun, dengan rambut disanggul dan mahkota kecil di kepalanya.
Selesai bersiap, Disha di dudukkan di atas ranjang oleh sang MUA. Lalu, Riyani masuk ke kamar Disha. Riyani begitu takjub melihat adik iparnya, yang terlihat begitu cantik dan mempesona.
"Dek, Masya Allah ... Kamu cantik sekali!" kata Riyani, sembari mendaratkan pantatnya, di sebelah Disha.
Disha tersenyum canggung. "Ah, Mba Riyani bisa saja. Ini berkat make up, Mba."
"Kamu ini, tidak di make up saja, sudah cantik. Lha ini, di make up, makin cantik. Pantesan si Aslan terpesona, uhuy ...!" goda Riyani, mencolek dagu Disha.
Pipi Disha merona, menahan malu. Lalu, ia hendak memalingkan wajahnya ke samping. Namun, sebelum wajahnya berpaling, Riyani sudah lebih dulu memperingati Disha. "Jangan malu, Dek! Kamu ini memang cantik sekali malam ini. Yuk, kita berfoto!"
Riyani membuka kamera ponselnya. Lalu, ia mengarahkan kamera depan. Disha dan Riyani tersenyum manis, lalu ... Klik! Satu foto sudah berhasil diambil dan disimpan. Setelahnya, Riyani keluar kamar, untuk membantu Ibu mertuanya menyiapkan keperluan acara.
Ruang tamu, sudah di sulap begitu indah. Dengan dekorasi ala instagr*mable. Ada tulisan DiAs Engagement, di papan dekorasi. DiAs, singkatan dari Disha-Aslan. Alunan musik klasik, menggema di ruang tersebut. Tak banyak tamu yang di undang.
Hanya beberapa dari rekan bisnis Bima dan Aslan. Selebihnya, sanak saudara dari Maryam dan keluarga Aslan. Ketika dua sejoli itu sudah saling memasangkan cincin, keduanya lalu dibawa ke ruang yang telah di dekorasi tadi, untuk mengabadikan momen pertunangan. Pertama, keduanya berfoto dengan keluarga Aslan. Kedua, bersama keluarga Disha. Lalu, Disha dan Aslan diarahkan untuk berpose sedikit mesra. Namun, Aslan lebih menghormati Disha, karena ia sadar. Bahwa pertunangan ini, bukanlah murni keinginan Disha.
Jadi, hanya ada beberapa foto saja yang menampilkan keduanya. Hasil foto yang diambil terakhir, sangat membuat kagum sang fotografer. Di mana Disha dan Aslan, tak sengaja saling tatap. Aslan merapikan rok Disha, yang sempat tersangkut hiasan dekorasi. Lalu, Disha melarang Aslan yang sudah terlanjur berlutut satu kaki. Aslan pun menatap Disha. Dan momen itu, langsung diabadikan oleh sang fotografer.
__ADS_1
***
Kabar pertunangan Disha dan Aslan, begitu cepat menyebar di kantor. Bahkan, ada beberapa rekan kerja Disha, yang terlihat sinis padanya. Namun, Aslan meyakinkan Disha, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Hari ini, Aslan mengajak Disha, ke ruangan kerjanya. Aslan ingin mendiskusikan soal pernikahan kontrak, yang ia tawarkan kemarin. "Bagaimana Disha? Apa kamu sudah memikirkan tawaran ku, soal pernikahan kontrak itu?"
Saat Disha akan menjawab, Aslan berkata, "Disha, coba sekarang panggil aku Aslan."
Wajah Disha gugup. "M-ma-mana bisa, Pak. A-aku, eh, saya ini, umurnya lebih muda dari Pak Aslan."
"Ya ampun, Disha. Kamu memang unik ya. Di saat aku ingin kita berbicara tanpa ke-formalan, kamu malah bicara sangat formal. Ya ampun, hahaha ...!" Aslan menggeleng, merasa lucu, melihat Disha yang salah tingkah.
"K-kalau begitu. Saya ... Maksudnya, aku. Aku panggil Mas Aslan saja, seperti biasanya."
"Baiklah kalau begitu, Disha. Aku juga lebih suka, kamu memanggil ku Mas Aslan. Itu terdengar sangat lembut. Terima kasih," kata Aslan, menatap dalam, sang wanita dambaannya itu.
"Sebenarnya, aku belum siap untuk menikah. Terlebih lagi, aku masih punya trauma yang aku dapatkan, dari hubungan ku dengan Iyan."
Aslan manggut-manggut, dan mendengarkan Disha, dengan seksama. Ia tak mau melewatkan satu kata pun, yang akan Disha ucapkan.
"Aku juga masih merasa, belum bisa mempercayai lelaki, selain mas Hamzah. Apalagi, kemarin Mas Aslan sempat didatangi wanita dari kota itu 'kan?" Disha menunduk lesu, teringat kejadian pengkhiatan yang dilakukan Iyan dan dan Sisca.
"Kamu cemburu, Disha? Cemburu pada Elma, yang bisa datang begitu saja ke kantor ini?" tanya Aslan, setengah menggoda. Ia ingin tau, bagaimana perasaan Disha padanya.
Disha pun menggeleng cepat. "B-bukan, Mas ... Bukan seperti itu. Aku hanya merasa tak pantas, jika harus menikah dengan Mas Aslan. Meskipun hanya pernikahan kontrak."
Lalu, Aslan pun berkata, "Bagaimana kalau kamu pikirkan ini sekali lagi?"
Disha berpikir sejenak. "Baiklah, Mas. Aku akan memikirkan lagi tawaran dari mu, dan segera aku kabarkan nanti."
Aslan tersenyum lega. "Terima kasih, Disha. Oh iya, kamu bisa ajukan syarat untuk pernikahan kontrak itu. Misalkan kamu tak ingin aku berbuat begini atau begitu, kamu bisa tulis itu sebagai syarat pernikahan kontraknya. Oke?"
Disha mengangguk. "Siap, Pak Bos!" kata Disha, sambil memberi hormat.
Keduanya lalu tertawa kompak. Hingga tak sadar, banyak karyawan di luar ruangan yang tengah berusaha menguping pembicaraan Aslan dan Disha. Hal itu mengundang salah satu body guard Aslan yang kebetulan datang ke kantor.
"Kalian semua!" teriak body guard itu, sambil berjalan mendekati kumpulan karyawan yang tengah menguping. "Kalian ini mau makan gaji buta, hah?! Tidak sopan sekali kalian ini, menguping pembicaraan pemilik perusahaan ini!"
Semua karyawan yang tengah berkumpul itu, langsung menunduk malu. Beberapa diantaranya, ada yang saling berbisik menyalahkan. Hingga sang pemilik perusahaan pun, keluar dari ruangannya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di depan ruangan saya?"
__ADS_1