Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 048


__ADS_3

Pagi hari, sinar matahari menyapa sepasang suami istri yang sudah siap dengan setelan kantor.


"Disha, kamu yakin akan menjadi sekretaris-ku lagi?" Hari ini, hari pertama Aslan bekerja di perusahaan milik Bima. Dan hari ini pula, ia menjadi pemimpin di perusahaan tersebut, menggantikan Bima.


"Tentu saja, Mas. Aku bosan jika di rumah terus. Tidak apa-apa 'kan, kalau aku jadi sekretaris Mas Aslan lagi?"


"Tentu saja tidak apa-apa. Tapi kalau kamu lelah dan tidak betah, kamu langsung pulang saja."


Disha mengangguk dan tersenyum. Lalu, keduanya pun berangkat menuju kantor.


***


"Jeng, kamu ini sudah punya menantu perempuan 'kan? Kok belum ada kabar kalau menantu kamu hamil?"


Rita saat ini sedang berkumpul bersama teman-teman sosialitanya. Ada enam orang termasuk Rita.


"Yah, Jeng. Aku sih tidak terlalu memikirkan cucu lagi. Toh, sudah ada cucu dari Serly."


Teman Rita yang lain hanya diam menyimak. Lalu, ada satu lagi yang berbicara.


"Tapi, Jeng ... Kalau kamu punya cucu lagi, pasti akan makin ramai rumahnya."


Rita menarik napas, kesal dengan yang dikatakan temannya. Lalu, ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Jeng, kemarin siapa yang beli berlian? Aku mau beli juga dong."


Rita berhasil! Semuanya tak lagi membahas soal menantu Rita, kehamilan dan cucu.


***


Disha, Aslan dan Bima sudah sampai di kantor. Semua karyawan memberi sambutan pada Aslan dan Disha. Lalu, semuanya berkumpul di ruang pertemuan.


Bima mengumumkan pemimpin baru perusahaan pada semua karyawan. Suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan itu. Termasuk Disha yang juga ikut memberi tepuk tangan karena bangga pada sang suami.


Setelah pertemuan selesai, semuanya kembali bekerja. Disha dan Aslan satu ruangan, hanya beda meja.


***


Hari begitu cepat berlalu. Minggu ke minggu, bulan ke bulan, sudah dilalui Disha dan Aslan. Hingga tak terasa, keduanya sudah bersama selama enam bulan lamanya.


Keduanya bahkan sudah melewati puasa ramadhan dan idul fitri untuk pertama kalinya, dengan status sebagai suami-istri. Dan sekarang orang tua Aslan juga Disha, selalu bertanya tentang kehamilan Disha.


Aslan sudah selalu berusaha meluluhkan Disha, tapi hasilnya belum terlihat. Namun, bukan Aslan namanya jika menyerah di tengah jalan.


"Disha, kamu sudah baikan? Apa hari ini kamu akan ikut ke kantor?" Aslan tengah memantaskan diri di depan cermin.


Disha yang masih duduk di atas ranjang, berpikir sejenak. "Aku tidak ikut lagi, Mas. Masih agak sedikit pusing dan lemas."

__ADS_1


Aslan lalu menghampiri Disha dan mengecek kening sang istri. "Syukurlah kamu tidak demam, Disha. Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu."


Disha mengulurkan tangannya untuk menyalami sang suami. Diciumnya punggung dan telapak tangan Aslan dengan takzim.


"Disha ...."


Disha mendongak. "Iya, Mas. Ada apa? Mas Aslan butuh sesuatu?"


Aslan menjadi gugup dan bingung untuk menjawabnya. Karena sebenarnya, dia ingin mencium kening Disha.


Lalu, dengan menarik napas dalam Aslan pun berkata, "Disha, aku ingin mencium keningmu!"


Darah Disha berdesir hebat manakala mendengar ucapan tersebut dari suaminya. Untuk sejenak, Disha terdiam membisu.


"Emm ... I-itu, tentu saja boleh Mas." Disha menunduk malu.


Dan untuk pertama kalinya, Aslan bisa mencium kening Disha.


Cup!


"Aku pergi sekarang, istriku ...!" Aslan lalu berbalik dan keluar dari kamar dengan wajah yang sangat berbinar karena bahagia.


Sedangkan Disha, ia terlihat tersenyum sendiri setelah kepergian Aslan. Ia teringat mimpi saat bertemu mendiang ayahnya, bahwa Aslan adalah lelaki yang tepat untuknya.


Disha merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar dengan wajah berpikir.


Ya Allah ... Apakah aku salah, jika masih saja menutup hati dan diri darinya? Sebenarnya, aku tersentuh dengan semua perjuangan mas Aslan untuk selalu bisa membuatku senang. Tapi, kenapa seperti ada sesuatu yang menghalangi?


***


Sesampainya di kantor, Aslan langsung berkutat dengan pekerjaannya. Di sana, Aslan tidak menemukan karyawan seperti yang ada di perusahannya dulu. Semua karyawan di sana, tak ada yang berani bergosip tentang dirinya dan sang istri.


Di jam makan siang, Aslan yang masih duduk di kursi kebesarannya mendadak teringat dengan Disha. Lalu, ia mengusap foto yang terpajang di meja kerjanya. Itu adalah foto pernikahannya.


Disha ... Semoga kamu bisa segera membuka hati untukku. Aku bukan lelah, hanya saja aku tak tahu haru berbuat apa lagi untuk bisa meyakinkamu bahwa perasaanku tulus padamu.


Kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang menyadarkan Aslan dari lamunannya. "Masuk!"


Seseorang masuk ke dalam ruang kerja Aslan. Betapa terkejutnya Aslan saat melihat siapa yang datang.


"Di-Disha?!"


Ya. Yang datang adalah Disha. Disha menemui Aslan sambil membawa makan siang.


"Mas Aslan sudah makan siang? Ini aku bawakan makanan kesukaan Mas Aslan,lho!"


Aslan lalu bangkit dan tersenyum lebar menampilkan deretan giginya. "Kamu tahu dari mana makanan kesukaanku?"

__ADS_1


Disha pun segera duduk di sofa dan menyajikan makanan yang ia bawa. "Dari istrinya pak Toni, Mas. Ayo sini, makan!"


Tanpa berlama lagi, Aslan dan Disha pun makan bersama di ruangan tersebut.


Usai menyantap makan siang, Disha membereskan kembali tempat makanannya. Aslan yang melihat hal itu, langsung membantu sang istri merapikan meja.


"Eh, Mas Aslan tidak perlu membantu. Biar aku saja, Mas!"


Aslan tersenyum mendengar ucapan Disha. "Tentu saja aku harus membantu. Aku sudah dibuatkan makanan selezat dan senikmat ini. Jadi, biar aku saja yang merapikan!"


Disha tak membantah ucapan sang suami. Ia kembali ke posisi duduk semula dan memperhatikan Aslan yang sibuk merapikan meja. Sesekali, ia tersenyum melihat suaminya itu.


Selesai dengan merapikan meja, Aslan kembali berkutat dengan laptopnya. Sementara Disha, ia sudah pamit pulang.


***


Di suatu taman, seorang wanita yang mengenakan pakaian casual berjalan mendekati dua pria bertato dengan badan tinggi besar. Sang wanita menjelaskan perintahnya pada dua pria tersebut.


"Kalian paham dengan rencana yang aku jelaskan ini?"


Kedua pria bertato itu mengangguk cepat dengan wajah percaya diri. Lalu, keduanya berdiri meninggalkan taman.


Sedangkan wanita tadi, tersenyum jahat setelah kepergian dua orang pria bertato itu. Ia memakai kaca mata hitam bermerk dan mahal. wanita itu juga memakai masker.


"Semoga kali ini rencanaku berhasil. Aku sudah sangat muak melihat dia bahagia!" Wanita itu pun berbalik dan pergi dari taman.


Tangannya mengepal dengan napas memburu saat berjalan. "Aku tidak akan menggunakan tanganku sendiri untuk membalas wanita itu. Biarkan nanti dia menebak-nebak, siapa pelakunya!" Wanita itu pun tertawa setelah bermonolog lirih.


***


Disha yang masih ada di jalan menuju rumah, tiba-tiba saja mobilnya dihadang oleh sepeda motor yang dinaiki oleh dua orang. Kebetulan, hari ini ia tidak diantar oleh Toni.


Tanpa bisa melawan, sang supir langsung keluar dan berniat untuk kabur dari dua pria bertato itu. Namun sayang, sang supir sudah lebih dulu dipukuli oleh salah satu pria beratato itu.


Sementara Disha, ia ketakutan di dalam mobil. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membuka ponselnya dan mencari kontak Aslan, lalu meneleponnya.


Panggilan tersambung dan langsung dijawab oleh Aslan. Disha yang celingukan, mencoba menjelaskan situasinya pada Aslan.


"Mas, a-aku takut!"


Aslan langsung membulatkan mata. Ia sempat menjauhkan ponsel untuk melihat dan memastikan nama yang tertera di layarnya. Terlihat nama 'Wanita Kesayangan' dan Aslan langsung panik.


"Disha, kamu di mana? Cepat kirim lokasi kamu sekarang!"


"Aaaaaaa! Mas Aslan ...!"


Aslan semakin panik mendengar teriakan Disha. Ia juga mendengar suara tembakan dan ponselnya langsung jatuh seketika.

__ADS_1


__ADS_2