Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 066


__ADS_3

Aslan menaikkan satu alisnya dengan dahi mengernyit penasaran. "Apa itu, Mas Hamzah?"


"Kemarin, ada yang datang ke rumah menawarkan jasa mengasuh anak. Tapi, karena aku masih bisa mengurus sendiri dan Riyani juga menolak untuk diberi asisten, jadilah aku menyuruhnya untuk datang ke rumahmu."


"Kapan?"


"Aku bilang, sekitar dua lagi saja. Disha 'kan baru hamil tujuh bulan."


Aslan manggut-manggut. "Baiklah, Mas Hamzah. Nanti kalau dia datang ke rumahku, aku akan beri kabar pada Mas Hamzah."


Hamzah lalu menepuk-nepuk bahu Aslan seraya tersenyum.


***


Disha saat ini tengah pergi bersama Toni, menuju rumah Ibunya, Maryam. Disha membeli beberapa macam buah untuk Maryam.


"Oh iya, Pak Toni. Tolong mampir ke minimarket dan belikan saya camilan yang enak ya!"


Toni mengangguk dan tersenyum. "Siap, Nyonya!"


Disha lalu masuk ke mobil dan kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di minimarket, Disha menunggu di mobil sambil bermain game di ponselnya.


Saat tengah asyik bermain, Disha mendapatkan satu pesan gambar. Disha tak langsung membuka pesan itu, karena tak ada nama pengirimnya.


"Paling cuma orang iseng!" Disha kembali bermain game.


Beberapa saat kemudian, Toni pun kembali masuk ke mobil dan menyerahkan yang ia beli tadi, pada sang majikan.


"Terima kasih, Pak Toni," ucap Disha sembari menerima kantong belanjaan.


"Sama-sama, Nyonya. Kita jalan sekarang?"


"Tunggu sebentar, Pak!" Disha membuka kantong belanjaan dan mengambil satu botol minuman ringan dingin. "Ini untuk Pak Toni," kata Disha seraya tersenyum ramah.


Toni balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya satu kali. "Terima kasih banyak, Nyonya. Alhamdulillah."


"Iya, Pak Toni. Sama-sama. Diminum dulu, Pak. Setelah itu, baru kita jalan lagi."


Toni lekas membuka botol dan meminumnya. Setelahnya, Toni kembali melajukan mobil. Sedangkan Disha kembali bermain game sambil memakan camilan. Tak lupa, Disha juga menawarkan camilan pada Toni.


Sesampainya di rumah Maryam, yang pertama dilihat oleh Disha adalah kakak iparnya, Riyani. Riyani sedang menggendong putrinya, Kemala, di depan rumah.

__ADS_1


Mobil Disha yang berhenti di halaman rumah Maryam, mengalihkan perhatian Riyani.


"Disha?" Riyani tersenyum bahagia menyambut kedatangan Disha.


"Mba Riyani ...!" seru Disha sambil berjalan menghampiri Riyani.


Riyani dan Disha saling rangkul. Diciumnya kedua pipi Riyani dan juga Kemala. "Ibu mana, Mba?"


"Oh, Ibu ada di dalam. Yuk, masuk!"


"Oke. Sebentar." Disha berbalik dan berkata, "Pak Toni, tolong bawakan bar —" Disha dibuat kagum oleh Toni.


"Wah, terima kasih Pak Toni. Baru saja saya mau minta tolong bawakan barang-barang yang di bagasi. Hehehe."


"Sudah seharusnya saya bawakan tanpa diminta, Nonya." Pak Toni lalu meletakkan barang bawaan Disha ke dalam.


Riyani mengampiri sang Ibu mertua yang sedang ber-eksperimen. Ya, Maryam tengah mencoba membuat kue baru, tepatnya salah satu jajanan pasar.


"Bu?"


Maryam yang sedang menggoreng onde-onde, langsung menoleh pada Riyani. "Kenapa, Nduk?"


"Mana?" Maryak celingukan mencari keberadaan Disha.


"Ibu!" Disha muncul dari belakang punggung Riyani. Lalu berjalan mendekati Maryam dan memeluknya dengan erat.


Maryam menciumi kepala Disha. "Ya Allah, pas banget Ibu kemaren belum puas ketemu kamu. Eh, kamu datang. Lihat!" Maryam menunjuk wajan penggorengan dengan senyum merekah.


"Ibu mencoba membuat onde-onde kacang hijau. Semoga rasanya enak."


Disha dan Riyani saling tatap dan mengangkat kedua alis. "Pasti enak dong, Bu!" kata Disha dan Riyani kompak.


Kemala tampak tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. Hal itu membuat Disha menjadi gemas dan mencubit pelan pipi Kemala.


"Uluh-uluh. Keponakan Tante ini lucu banget sih, masya Allah."


Riyani lalu mengusap perut Disha. "Besok temannya Kemala pasti gantengnya kayak Aliando, nih!"


Disha, Riyani, dan Maryam tertawa bersama.


***

__ADS_1


Aslan pulang ke rumah dengan raut kesal. Ada sesuatu yang Aslan ketahui, dan itu membuatnya murka. Namun, saat Aslan hendak memasuki kamarnya, Aslan segera menerbitkan senyum manisnya.


"Sayang ...." Aslan lalu masuk dan langsung menutup pintu.


Disha yang tengah bersantai di depan televisi, perlahan berdiri untuk menyambut sang suami. "Hai, Sayang." Disha mencium punggung tangan Aslan dan memeluk sang suami.


"Bagaimana hari ini, Mas?" tanya Disha sembari melepas tas dan jas yang melekat di tubuh Aslan.


"Eum ... Lumayan lelah. Aku mandi dulu ya, Sayang."


"Oke, Mas. Aku siapkan pakaiannya dulu."


Aslan menarik tangan Disha sebelum mandi. Posisi wajah keduanya saat ini sudah sangat dekat. Aslan lalu mengecup bibir Disha sekilas.


"Setelah selesai mandi, aku akan temani dan pijitin kamu. Oke?"


Disha mengangguk cepat dengan tersenyum riang layaknya anak kecil yang dibelikan mainan. Disha mengangkat kedua jempolnya. "Oke, Mas! Aku juga ada sesuatu yang mau aku tanyakan."


Aslan mengangkat sebelah alisnya. "Soal apa?"


"Nanti, Mas! Sudah sana, mandi dulu! Bau acem, ih." Disha menutup hidungnya.


Aslan semakin mendekat pada Disha, menggoda sang istri yang baru saja meledeknya. "Awas ya nanti!" Aslan memberikan tatapan dan senyum jahil pada Disha.


Disha hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.


Aslan keluar dari kamar mandi dan segera berpakain. Setelahnya, ia menghampiri Disha yang sudah merebahkan diri di tempat tidur.


"Sayang? Jadi nggak?"


Disha tengah fokus melihat layar ponselnya. Hal itu membuat Aslan ingin menjahilinya. Aslan mencium pipi Disha.


Hening. Disha masih tetap diam.


"Sayang, kamu kenapa?" Aslan mengusap pipi Disha. Barulah Disha menoleh pada Aslan.


"Iya, Mas. Kenapa?"


"Kok tanya aku kenapa? Padahal dari tadi, aku tanya kamu kenapa?"


Disha tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya. "Hehehe. I-ini, Mas. Aku mau tanya soal ini." Disha memperlihatkan ponselnya pada Aslan.

__ADS_1


__ADS_2