
"Papa tidak perlu ke rumah sakit lagi!"
"Tapi, Ma. Dia Adam, sahabatku. Dia menemaniku dari awal aku tak punya apa-apa, dan selalu membantuku. Aku tidak mungkin meninggalkannya di rumah sakit setelah menyebabkan dia kecelakaan!"
Rita tak mau kalah. Ia tak mau suaminya pergi ke rumah sakit, lantaran tak suka dengan Adam. Karena menurutnya, Adam hanya akan meminjam uang dalam jumlah banyak pada Bima.
Bima yang merasa frustrasi, menyugar rambutnya dengan kasar. "Kalau sampai Adam semakin parah keadaannya, Papa tidak akan bisa memaafkan kesalahan Papa kali ini, Ma. Dan juga, kelakuan Mama yang melarang Papa untuk kembali ke rumah sakit, akan selalu teringat!"
Rita tercekat. Tapi, ia tak lagi peduli dengan ancaman dari suaminya itu. "Silakan saja, Pa. Mama yakin, sahabat Papa akan cepat pulih. Lagi pula, Mama merasa kalau dia hanya akan memeras uang Papa."
Brak!
Bima menggebrak pintu lemari. Ya, Bima dan Rita tengah bertengkar di kamar.
Rita langsung menutup telinganya dengan mata terpejam. Tubuhnya sedikit gemetaran.
"Jaga ucapanmu, Ma! Aku mengenal Adam sejak dulu. Bahkan, dia sama sekali belum mau kuberikan imbalan berupa uang!" Bima berjalan ke ranjang dan duduk. "Argh! Sial sekali aku!"
Rita yang masih ketakutan, mencoba untuk menenangkan suaminya itu. "K-kalau begitu, kita pergi ke rumah sakit sekarang, Pa. Tapi, aku ingin ikut dengan Papa."
Bima lalu menatap tajam Rita. "Kau ingin ikut, Ma? Baiklah. Ayo, kita pergi sekarang!"
Bima meraih tangan Rita dengan kasar dan menariknya paksa. Rita mencoba untuk melawan dengan memukul tangan Bima. Akan tetapi, Bima seperti tengah diselimuti amarah.
"Papa, tolong lepaskan ini. Papa, tolong ...."
Bima sama sekali tak menjawab. Hingga saat keduanya sudah pergi meninggalkan rumah, seorang anak lelaki ikut keluar dari rumah, menatap mobil yang baru saja pergi itu. Lelaki itu adalah Aslan.
Aslan lalu menelepon seseorang.
"Halo, pak Toni. Tolong selidiki pasien rumah sakit xxx atas nama Adam. Cari tahu semua tentang keluarga Adam, istri dan anak-anaknya."
Aslan lalu memutus sambungan telepon dan kembali ke kamarnya.
Bima dan Rita yang baru saja sampai di rumah sakit, langsung dibuat terkejut dengan kabar bahwa Adam, nyawanya sudah tak tertolong dan sudah dipulangkan ke rumahnya.
"Apa?!" Napas Bima memburu seraya tatapannya yang tajam, yang ia tujukan pada Rita. Bima lalu kembali menarik paksa tangan Rita.
Keduanya kini sudah ada di mobil.
Bima yang masih syok dan marah, menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun oada Rita. "Kau dengar sendiri, Ma? Bahkan aku tak bisa melihat sahabatku saat menghadapi saat-saat terakhirnya. Kau puas sekarang, Ma? Puas?!"
Bima memukul setir berkali-kali sambil menangis. Ia menyesalkan perlakuan istrinya dan juga kebodohannya karena terlalu menurut pada Rita.
__ADS_1
"Aku sangat bodoh, sangat bodoh! Seharusnya aku tak menuruti perkataanmu, Ma!"
Rita terdiam. Baru kali ini, ia melihat suaminya sangat frustrasi. 'Seberapa berharganya persahabatan antara suamiku dan Adam itu? Kenapa Mas Bima sangat terpukul dengan kepergian Adam?'
"Papa ... Papa baik-baik saja?" Aslan menyodorkan sapu tangannya pada sang Ayah.
"Iya, Papa baik-baik saja. Hanya teringat pada Adam. Dia adalah sahabat Papa yang terbaik. Dia selalu berusaha membantu Papa saat Papa membutuhkannya."
Bima menyapu air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Aslan. "Kau tahu, Nak? Bahkan sebelum Papa bisa mendirikan perusahaan sendiri, Adam selalu membantu Papa memberikan bantuan dalam bentuk materi dan non materi."
"Aslan, sudah tahu semuanya, Pa. Termasuk, siapa istri dan anak-anak dari mendiang Tuan Adam."
Bima tercekat. Ia menatap dalam, putranya yang kini juga tengah menatapnya. Matanya begitu sendu kala ia mengingat Adam.
"Siapa mereka, Nak? Pertemukanlah Papa dengan mereka. Papa ingin minta maaf dan menanggung hukuman jika mereka memberikannya."
Aslan memeluk sang Ayah. Keduanya menangis haru. Tak peduli dengan keadaan sekitar yang beberapa di antaranya, menatap heran pada Bima dan Aslan.
"Nanti akan aku ceritakan, Pa. Sekarang Aslan tahu, kenapa Papa bisa sampai tak datang kembali ke rumah sakit. Ternyata karena Mama."
***
Disha saat ini tengah duduk di taman sebelah rumahnya. Ditemani satu gelas jus alpukat dan semangkuk biskuit coklat favoritnya. Ia tengah melanjutkan buku bacaan tentang kehamilan yang belum selesai terbaca.
Disha meletakkan bukunya dan menoleh pada Toni. "Iya, Pak Toni. Ada apa? Terlihat buru-buru sekali."
Toni mengatur napasnya. "Nyonya, tuan Aslan baru saja datang. Tadi 'kan, Nyonya berpesan pada saya kalau tuan sudah pulang, segera beri tahu Nyonya."
"Ya ampun, Pak Toni." Disha menepuk jidatnya. Lalu, keduanya tertawa kompak.
"Maafkan saya, Pak Toni. Aih, Pak Toni benar-benar totalitas. Kalau begitu, tolong sampaikan pada suami saya kalau saya ada di taman."
"Baik, Nyonya. Siap!"
"Terima kasih, Pak Toni."
"Siap, sama-sama Nyonya."
Toni berbalik dan pergi meninggalkan Disha. Sedangkan Disha, ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Sayang, kamu sudah minum vitamin pagi ini?"
"Lho? Tadi kata pak Toni, Mas Aslan baru sampai. Ini kok tiba-tiba sudah muncul di sini?"
__ADS_1
Aslan lalu duduk merapat di sebelah Disha. Tangannya melingkar di pinggang Disha. Aslan sedikit mengangkat tubuh Disha, hingga wanita kesayangannya saat ini sudah ada di pangkuannya.
Wajah keduanya begitu dekat. "Kamu masih tak paham dengan keahlianku yang bisa secepat The Flash untuk sampai di samping wanita kesayangannya, hm?"
Disha membelai wajah Aslan. "Tentu saja aku tahu, Sayang. Aku hanya ingin menggodamu."
Aslan lalu mencium pipi Disha. "Pertanyaanku belum dijawab."
"Ah, iya. Vitamin? Tentu sudah aku minum."
Aslan mengusap perut Disha. "Sehat selalu ya, calon anak Ayah. Jangan menyusahkan Ibu-mu, sulitkan Ayah-mu saja."
Disha dengab cepat menutup mulut Aslan dengan satu tangannya. "Mas, jangan berkata seperti itu! Ingat, perkataan kalau ada malaikat yang lewat lalu di aminkan, bagaimana?"
"Astaghfirullah ... Maaf Sayang, maaf. Kalau begitu, aku ganti deh."
Aslan kembali mengusap perut Disha sambil berkata, "Nak, sehat selalu bersama Ibu-mu ya! Apapun yang kamu ingin makan, berdiskusilah dengan Ibu-mu." Aslan mengdipkan sebelag matanya setelah berkata.
Disha lalu mencubit pelan lengan suaminya itu. "Mas ini nyindir aku ya? Iya 'kan?"
"Kamu merasa tersindir? Sini sini." Aslan langsung menggendong tubuh Disha dan membawanya masuk ke rumah.
Disha sangat senang ketika Aslan menggendongnya. Ia merasa sangat diperlakukan dengan istimewa. Disha meletakkan kepalanya di pundak Aslan.
"Mas ...."
"Hmm?"
"Terima kasih, sudah menjadi suami yang 'wah' untukku. I love you, my Iron man."
Deg!
Ucapan dari Disha, sedikit menyayat hati Aslan. Pasalnya, Disha masih belum tahu, siapa yang membuat mendiang Ayah Disha, Adam, kecelakaan.
Aslan tetap melanjutkan langkahnya sambil terus menggendong Disha. Dalam hatinya berkecamuk antara bahagia dan takut.
Bahagia, karena Disha telah menyambut perasaannya. Takut, jika Disha tahu kebenaran tentang Adam dan pergi meninggalkannya.
Disha yang mendapati sang suami diam, kembali memanggil Aslan. "Mas ...."
"I love you too, my lovely wife!"
Aslan berucap dengan suara bergetar. Hal itu membuat Disha menjadi penasaran.
__ADS_1