Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 015


__ADS_3

"Permisi ...!" ucap seorang wanita, yang tiba-tiba saja, sudah ada di dekat tempat Aslan berdiri.


Aslan dan Clara saling tatap, dengan sorot tak percaya. Keduanya dikejutkan dengan kehadiran Sisca, yang mendadak.


"Maaf, saya datang ke sini, untuk menyampaikan sesuatu," kata Sisca, menatap Aslan dan Clara bergantian. "Ini ...," Sisca mengambil ponsel miliknya, lalu memperdengarkan sebuah percakapan.


"Tentu kalian tahu, siapa pemilik suara tadi," ucap Sisca, yang kemudian menyimpan kembali ponselnya, ke dalam tas.


"Apakah, tadi itu suara Pak Iyan?" tanya Aslan penasaran.


Clara hanya berdiri diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia takut salah bicara. Sesekali, ia Clara melirik sekilas pada Sisca.


"Iya, Pak Aslan ... itu tadi, suara calon suami saya, Iyan," jawab Clara.


"Oh, begitu. Tak masalah, Bu. Saya bisa atasi semua itu." Aslan menjawab dengan seulas senyum di akhir kalimat.


Hal itu, membuat Sisca agak kesal. Selain karena dipanggil dengan sebutan 'Bu Sisca', ia juga merasa, kalau Aslan terlalu meremehkan Iyan.


"Saya hanya bisa memperingati. Selebihnya, itu terserah pada kalian, semoga tak terjadi hal yang tidak diinginkan ...!" peringat Sisca, dengan raut dingin dan angkuh.


"Siap, Bu! terima kasih," jawab Aslan dan Clara, kompak.

__ADS_1


Sisca berbalik, dan melenggang pergi, meninggalkan dua orang yang masih terheran-heran. Langkah Sisca sedikit dihentakkan, karena hatinya sedang emosi. Kemudian, ia kembali menoleh ke belakang, dan memberi seringai yang meremehkan.


Aslan mendekat pada Clara, dan bertanya, "Dia kenapa, Clara?"


"Mana saya tahu, Pak," jawab Clara, sambil mengedikkan bahu.


Aslan ikut mengedikkan bahu, dan mencebikkan bibirnya. Lalu, ia pun meninggalkan Clara yang masih sibuk membereskan meja kerjanya.


Tak lama kemudian, Clara ikut pulang, setelah meja kerjanya rapi. Tak lupa, ia membawa buku catatan untuk acara makan malam nanti. Clara juga mengambil satu botol spray kosong, untuk membuat cairan anti mesum ala dirinya.


"Nah ... kalau aku buat cairan anti mesum, aku akan aman dari Iyan," gumam Disha, lirih, dengan wajah penuh percaya diri.


***


"Pelan-pelan, Nduk ...!" ucap Maryam, mengingatkan putrinya.


"Iya iya, Bu. Ini juga pelan-pelan, kok," sahut Clara.


Kemudian, Aslan masuk ke rumah, dudu dan berbincang di ruang tamu dengan Maryam. Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya Clara keluar dari kamarnya.


Dress lengan pendek, yang memperlihatkan bagian punggung, dan berukuran pas di tubuh, menjadi pilihan Clara malam ini. Dengan warna merah maroon, serta panjang dress sebatas lutut, membuat mata Aslan terus menatap takjub pada Clara.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang, Mas Aslan?" tanya Clara, sambil berjalan mendekati Aslan.


"Eh, tunggu sebentar! Bu, apa Clara tidak punya mantel?"


Clara dan Maryam, mengerutkan kening. "Mantel?" tanya Clara dan Maryam terheran, bersamaan.


"I-iya, mantel. Clara 'kan pakai dress seperti ini," jawab Aslan, sedikit sungkan.


Lalu, Maryam berbalik, mengambilkan mantel untuk Clara. "Ini mantelnya, Nduk. Benar kata Nak Aslan, kamu harus pakai mantel!" ucap Maryam, sambil memakaikan mantel pada putrinya itu.


"Yosh! aku berangkat dulu ya, Bu!" ucap Clara, setelah mencium punggung tangan Maryam.


Maryam mengangguk tersenyum. "Hati-hati di jalan, dan ingat ini ... Pulangnya jangan terlalu larut!"


"Baik, Ibu Ratu!" jawab Clara dan Aslan, kompak.


***


Menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya Aslan dan Clara sampai di tempat tujuan. Aslan membukakan pintu mobil untuk Clara. Hal itu membuat Clara menjadi teringat pada perlakuan manis Iyan.


Aslan mengulurkan tangannya, untuk membantu Clara turun dari mobil. Clara pun menerima uluran tangan Aslan. Setelahnya, Aslan dan Clara berjalan bersama, masuk ke restoran.

__ADS_1


"Hai ... Tante cantik dan Om ganteng, semoga selalu bahagia ya!"


__ADS_2