
"Kalian berdua, dengarkan ini baik-baik," ucap Iyan, menatap Disha dan Hamzah bergantian. "Aku tidak akan melepaskan kamu dengan mudah, wanita si*lan!" sambung Iyan, seraya menunjuk Disha. Matanya melotot, marah pada Disha dan Hamzah, yang kemudian diakhiri dengan meludah ke lantai.
"Aku pun sudah tak sudi lagi menjadi calon istrimu, Mas! silakan kamu nikahi saja pacar gelapmu itu!" Disha mendongak, menantang, membalas perkataan Iyan.
"Kamu juga, Sisca! Kamu sudah aku percayai sebagai sahabat baik, ternyata mengincar dan merampas milikku juga!" geram Disha, menatap nyalang pada Sisca.
"Disha ...!" teriak Iyan, murka.
"Apa!" Disha tak mau kalah, ikut bersuara tinggi.
Hamzah masih diam, karena ingin adiknya bisa merasa lega, setelah meluapkan emosinya pada dua penghianat bermuka dua. Ya, bermuka dua! karena Iyan dan Sisca, sama-sama tak malu, saat sudah tertangkap basah oleh ia dan Disha.
Disha dan Iyan masih beradu pandang, dengan tatapan sengit. Dalam mata Disha, muncul kenangan manis saat bersama Iyan. Hal itu sedikit membuatnya goyah. Namun, disaat itu juga, ia tersadar dengan apa yang ada di hadapannya kini.
"Sudah berapa lama, kalian menjalin hubungan di belakangku, hah?!" tanya Disha, emosi. Matanya merah, suaranya sedikit bergetar.
Iyan dan Sisca masih saling diam, tak mau menjawab pertanyaan dari Disha. Iyan masih merasa sedikit bersalah pada Disha, tetapi juga tak tega melihat Sisca ketakutan.
"Oh ... Jadi, kalian tak mau menjawabnya, begitu? Baiklah. Biar aku yang akan mencari tahu sendiri!" ancam Disha.
Bulir bening menetes dari sudut matanya. Sakit dan kecewa yang teramat sangat, sedang ia rasakan. Ingin sekali ia meneriaki Iyan dan Sisca. Tapi, ia masih punya sedikit simpati untuk Sisca.
Disha menyapu kasar air matanya, lalu ia mengajak pergi Hamzah keluar dari kamar, dan meminta untuk segera pulang. Hamzah pun menuruti permintaan adiknya.
Sisca hanya menatap sekilas kepergian Disha, lalu menunduk lagi. Ia masihlah belum memakai pakaian. 'Awas kamu, Disha! mentang-mentang kamu bersama Hamzah, kamu kira aku akan diam saja? huh!' umpat Sisca dalam hati, dengan seringai licik.
Karena Disha dan Hamzah sudah pergi, Iyan langsung memakai kembali pakaiannya yang tadi sudah tertanggal, dan berlari keluar, untuk mengejar dua kakak beradik itu. Iyan berjalan terburu dengan langkah lebar. Tatapannya terlihat seperti harimau yang akan menerkam mangsanya, beringas.
__ADS_1
***
Disha yang tengah dalam perjalanan pulang, terus melamun sepanjang jalan. Hamzah yang menyadari hal itu, hanya bisa menatap sendu sang Adik dari spion motor. Lalu, tiba-tiba saja ....
"Brakk ...!"
Sebuah mobil menabrak motor yang dikendarai oleh Hamzah dari arah belakang. Hamzah terlempar agak jauh dari motornya. Sedangkan Disha, ia terseret beberapa meter dan wajahnya tergores aspal, hingga begitu banyak darah yang keluar.
Tertancap beberapa serpihan kaca juga, pada wajah Disha. Hal itu membuatnya syok dan pingsan di tempat. Beberapa orang mulai berkerumun di sekitar lokasi kejadian, tetapi tak ada yang berani menolong. Tak lama kemudian, ambulance pun datang, dan langsung membawa dua korban kecelakaan itu ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di UGD, ada seseorang misterius yang terus memberi laporan pada tuannya. "Baik, Tuan Muda. Saya akan selalu berjaga di sini," ucapnya sembari mengangguk beberapa kali, meskipun itu tak akan terlihat oleh lawan bicaranya di ponsel.
Setelah selesai bertelepon, orang misterius itu langsung kembali masuk ke rumah sakit dengan sedikit penyamaran. Itu dilakukan olehnya, karena perintah dari sang majikan.
***
Tepat pukul tiga sore, dokter mengunjungi ruang Hamzah dan Disha dirawat. Hamzah tak begitu banyak mendapat luka serius. Hanya tangannya yang terkilir. Sedangkan Disha, dokter sudah memberitahu pada Hamzah tentang kondisi adiknya.
Hamzah menatap iba adiknya. "Dek ... Kenapa kamu harus mengalami cobaan seperti ini?" lirih Hamzah. Ia merasa bersalah pada adiknya.
"Untuk saudara Hamzah, saya tunggu persetujuan dari Anda untuk melakukan operasi wajah pada saudari Disha," ucap dokter dengan nametag Arif.
"Baik, Dokter. Nanti, akan saya pertimbangkan dulu."
Dokter Arif mengangguk dan tersenyum. "Baik. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Hamzah hanya mengangguk. Lalu, ia yang sudah duduk bersandar pada ranjang, menatap sang adik dengan pikiran yang melanglang buana. Ia tak punya biaya yang cukup, untuk operasi Disha, dan juga belum memberitahu tentang kecelakaan ini pada ibunya.
__ADS_1
"Permisi ...!" ucap seorang pria dengan badan tinggi, tegap dan berpakaian rapi. "Apa benar, anda yang bernama Hamzah?" tanya-nya, setelah duduk di kursi dekat ranjang Hamzah.
Hamzah menelan ludah cepat, karena sedikit takut. "B-benar, Pak. S-sa-saya Hamzah," jawab Hamzah terbata.
"Baik, Mas Hamzah. Saya diminta untuk menemui anda, oleh majikan saya. Kebetulan, saya juga sudah mendengar semua yang dokter tadi katakan. Begini, Mas Ham—"
"Tunggu ...! Kita belum saling mengenal, Pak. Siapa nama Bapak?" sela Hamzah.
"Nama saya.. panggil saja Toni," jawab Toni, sembari mengulurkan tangan.
"Baik, Pak Toni," kata Hamzah, yang kemudian menerima uluran tangan Toni.
Setelah keduanya saling berjabat tangan, Toni menjelaskan perintah apa saja yang diberikan oleh majikannya. Hamzah pun mendengarkan dengan seksama. Setelah itu, barulah Hamzah mulai berani bertanya. "Apakah majikan Pak Toni tidak keberatan dengan hal ini?"
"Tentu tidak, Mas Hamzah. Ini 'kan, majikan saya yang menawarkan. Jadi, mana mungkin dia keberatan," jelas Toni, sambil membenarkan posisi duduknya. "Silakan beri jawaban secepatnya, Mas! kasihan juga adik Mas Hamzah yang masih terbaring belum sadarkan diri itu," ucap Toni, sambil menunjuk Disha, dengan menolehkan kepalanya ke ranjang sebelah kanan.
"Emm ... Baiklah, saya akan setuju untuk dibantu. Tapi, saya anggap bahwa saya berhutang pada majikan Pak Toni. Bagaimana?" Hamzah mencoba menawar, karena tak mau dibantu dengan cuma-cuma.
"Baiklah, Mas Hamzah. Tunggu di sini! akan saya panggilkan suster jaga, untuk memberikan berkas persetujuan operasi yang harus ditanda tangani."
Toni bangkit dari duduknya dan pergi ke luar ruangan. Ia mencari suster jaga, dan memberitahu sang suster, untuk segera memberikan berkas persetujuan operasi Disha, pada Hamzah.
Usai menanda tangani surat persetujuan, dokter langsung melakukan beberapa pengecekan, sebelum akhirnya membawa Disha ke ruang operasi.
***
Di ruang tunggu operasi, Toni menunggu kedatangan majikannya sembari menyeruput kopi yang baru saja ia beli. Sesekali, ia celingukan, untuk memastikan kedatangan sang majikan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Disha, Pak Toni?"
Toni seketika terjingkat, hingga kopi yang diseruputnya tersembur. "T-Tuan Muda ...!"