Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 056


__ADS_3

Memasuki bulan ke empat kehamilan, Disha dan Aslan mengadakan tasyakuran empat bulan kandungan. Acara itu diadakan sederhana dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat dan beberapa tetangga saja.


Semua yang hadir, kecuali Bima, merasa bahagia bercampur tak menyangka karena Disha berhasil menyembunyikan kehamilannya. Berlangsung selama kurang lebih dua jam lamanya, semuanya lancar tanpa suatu halangan apapun.


Bima yang tengah berdiri setelah mengantar kepulangan tamu dan melihat Rita sibuk dengan ponselnya, perlahan berjalan menghampiri sang istri. "Sibuk sekali, Ma."


"Iya, Pa. Kebetulan Mama mau ada kumpul sama teman. Biasa lah, arisan dan nongkrong."


Bima manggut-manggut. "Padahal, Papa ada kejutan untuk Mama."


Rita tercekat. Ponsel ia simpan ke tas dan mendekat pada suaminya itu. "Kejutan apa itu, Pa?"


"Tidak jadi. Mama 'kan mau pergi bertemu dan nongkrong bareng teman." Bima lalu berbalik dan masuk ke rumah.


Rita yang masih berdiri di pintu, berdecak kesal sambil melipat tangan ke depan dada. "Dasar suami aneh. Mau ngasih kejutan saja harus plin plan!" Rita pun pergi setelah mobil jemputannya siap.


Di rumah Aslan, masih ada Bima, Maryam, Hamzah dan Riyani. Mereka semua, saat ini tengah berbincang di ruang keluarga. Cuaca mendung di siang hari, membuat suasana seperti sudah sore.


"Kalau begitu, saya dan anak-menantu, pamit pulang dulu ya, Pak Bima. Mumpung belum hujan."


"Oh iya, silakan Bu Maryam, Nak Hamzah, Riyani. Hati-hati di jalan. Aslan!" Bima melambaikan tangan pada Aslan yang sedang menutup jendela. "Antarkan Ibu mertuamu, Nak!"


Aslan langsung menghampiri Bima dan mengantar keluarga sang istri. Setelahnya, ia kembali ke rumah dan melihat Disha seperti kelelahan.


"Kamu lelah sekali ya, Disha? Tumben, kamu sampai rebahan di sofa ruang keluarga. Papa mana?"


"Sedikit lelah, Mas. Papa tadi katanya mau buat minuman. Papa mungkin saat ini di dapur."


"Memang sejak kapan membuat minuman pindah ke halaman belakang rumah?"


Aslan dan Disha saling tatap, lalu tertawa bersama. Bima yang kebetulan baru selesai membuat minuman, merasa tersentuh melihat anak dan menantunya itu.


Aslan menyadari bahwa Ayahnya tengah memperhatikan dirinya dan Disha. Ia lalu berdiri dan menghampiri Bima. "Papa, kenapa tidak meminta Aslan untuk membuatkannya?"


Bima menggeleng pelan. "Ini resep dari kawan Papa. Minuman pengusir lelah."


"Memangnya, itu minuman apa, Pa? Ini untuk siapa?"


"Tentu saja," Bima menatap Disha dan kembali berkata, "untuk menantuku." Lalu, ia kembali berjalan untuk memberikan minuman itu pada Disha.


Aslan terheran dengan perlakuan Bima. "Pa, sebenarnya yang anak Papa itu siapa? Kenapa lebih perhatian pada Disha, dari pada ke anak sendiri?" Aslan lalu menghampiri Ayah dan istrinya. Ia membantu Disha untuk duduk.

__ADS_1


"Lalu, yang sedang hamil memangnya siapa? Bukan kamu 'kan?" Bima meletakkan cangkir ke meja. "Minumlah ini, Disha!"


Disha melipat bibirnya ke dalam, menahan tawanya. "Iya, Pa. Terima kasih banyak, Papa."


Aslan melihat hal itu dan menggoda Disha. "Jadi kamu tertawa, melihat aku diperlakukan begini oleh Papa?"


Ketiganya lalu tertawa bersama. Setelahnya, Disha menyesap minuman hangat buatan Ayah mertuanya. "Papa, ini minuman yang selalu aku minum saat aku kelelahan."


"Oh ya? Kebetulan sekali ya, Papa bisa membuatkannya untukmu?"


"Papa, tahu resep ini dari mana?"


Aslan mulai gugup. Ia takut, Ayahnya akan menyebut nama Adam.


"Kawan Papa, Nak. Habiskanlah minuman itu. Papa akan pulang sekarang."


Aslan bernapas lega. Lalu, ia bangkit dan berpamitan pada Disha. "Aku akan mengantar Papa pulang."


"Istrimu ditinggal sendiri?"


"Pak Toni!" Aslan menoleh ke belakang. "Pak Toni, Bi Yati, tolong jaga istri saya. Menantu kesayangan Pak Bima."


Toni mengangguk, pun dengan Yati. Bima menggeleng tersenyum dan berjalan keluar setelah Disha mencium takzim punggung tangan sang Ayah mertua.


"Ada apa, Aslan? Kau ingin mengatakan sesuatu?"


Aslan refleks mengerem mendadak, hingga membuat Bima terkejut. "Ada apa? Papa hanya bertanya apa kau ingin mengatakan sesuatu? Dan kau malah, ah sudahlah."


"Papa, sebenarnya memang ada yang ingin aku sampaikan ke Papa. Tapi, tolong tenangkan diri Papa dulu."


Bima mengerutkan keningnya. Namun, ia juga mengangguki permintaan Aslan. Bima menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Sudah, Nak. Sekarang, katakanlah!"


Aslan mengangguk. "Sebenarnya, anak dari mendiang sahabat Papa, tuan Adam, sekarang sudah jadi istriku."


Deg!


Bima tercekat dengan posisi menatap Aslan. Ia membeku, tanpa bisa mengeluarkan suara.


Aslan lalu mencoba untuk menyadarkan Ayahnya. "Papa baik-baik saja 'kan? Papa?"


Hening. Bima masih terdiam. Mencoba mencerna perkataan Aslan. Terngiang di telinganya; Anak dari mendiang sahabatnya, kini sudah menjadi istri dari Aslan.

__ADS_1


"Kau tidak bohong, Nak? Dari mana kau tahu?" Bima mengguncang tubuh Aslan penuh emosional. Perlahan, bulir bening keluar dari kedua sudut pasang matanya.


Aslan menarik napas dalam, sebelum bercerita. "Sebenarnya, dulu saat Papa dan Mama bertengkar ...."


"Halo, Tuan. Saya sudah mendapat informasi tentang tuan Adam. Beliau tinggal di desa xxx bersama istri dan dua anaknya. Anaknya sepasang, alias laki-laki dan perempuan."


"Lalu? Apa semua anaknya masih sekolah?"


"Tidak, Tuan. Yang masih sekolah adalah anak perempuannya. Dia bernama Disha Maharani, berusia 15 tahun."


"Ada informasi lain?"


"Sedang saya selidiki lebih lanjut, tuan."


"Baiklah. Terima kasih, Pak Toni."


"Siap, tuan!"


Aslan sudah mengantongi sebagian informasi tentang keluarga Adam. Ia penasaran dengan anak perempuan yang dimaksud oleh Toni. Hingga saat Aslan ingin meminta foto Disha pada Toni, ternyata bodyguardnya itu sudah lebih dulu mengirimnya.


"Pak Toni memang the best!" Aslan tersenyum, lalu membuka foto yang dikirim oleh Toni. "Cantik! Cantik sekali. Namanya Disha Maharani, serasi dengan wajahnya yang cantik."


Aslan mengirim pesan pada Toni.


Aslan : Pak Toni, tugas khusus dari saya adalah; tolong awasi Disha! Saya ingin dia selalu baik-baik saja!


Tanpa menunggu lama, Aslan pun mendapat balasan.


Toni : Siap, Tuan!


"Begitulah ceritanya, Pa. Aku dan pak Toni mulai menggali informasi lebih dalam tentang keluarga mendiang sahabat Papa. Bahkan, aku sempat mengirimi mereka kartu ATM bebas akses."


"Apakah mereka menerimanya?"


"Menerimanya, Pa. Tapi entah dengan memakainya. Aslan tak tahu."


Bima memejamkan matanya. Ada raut kelegaan di wajahnya. "Papa lega, Nak. Ternyata memang takdir itu unik. Kau bisa menikah dengan Disha. Bahkan, Papa tak salah memberikan wewenang pada Hamzah untuk mengelola anak perusahaan yang dulu dikelola olehmu."


"Maka dari itu, aku tidak menolak saat diminta Papa untuk menggantikan Papa di kantor. Hehehe."


"Hah ...! Setidaknya, sekarang Papa lega. Apa Disha sudah tahu semuanya?"

__ADS_1


Deg!


Kali ini, Aslan yang kebingungan harus menjawab apa. Aslan mengusap tengkuknya. "S-se-sebebarnya ...."


__ADS_2