
"Elma pernah mencoba untuk menggugurkan kandungan menantu kalian," kata Mira dengan raut menyesal.
"Apa?!" Bima dan Rita memekik bersamaan. Lalu, keduanya menatap Aslan dan Disha bergantian.
"Benarkah begitu, Aslan?" Rita mendekat pada putranya.
Bima kembali menatap tamunya. "Kenapa kalian datang ke sini dan ungkapkan semuanya?"
"Karena Aslan yang membantu kami bebas, bersama salah satu bodyguardnya," jawab Indra.
Rita yang masih berdiri di hadapan Aslan dan Disha, kembali dibuat terkejut dengan penuturan Indra.
"Kami berdua, ingin mengucapkan terima kasih pada Aslan. Tapi, kami juga tak tega jika harus membawa kedua anak kami ke kantor polisi." Kali ini, Mira yang berbicara.
Aslan memasukkan satu tangannya ke saku celana. Satu tangannya lagi merangkul Disha. "Kalian akan lebih menyesal jika tak memberi kedua anak kalian pelajaran."
"Tapi, Nak Aslan. Ibu mana yang tega melihat anaknya menderita? Tolong lah, beri mereka berdua kesempatan untuk memperbaiki diri." Mira menangkupkan kedua tangannya.
Disha langsung berjalan cepat menghampiri Mira dan memegang tangan wanita paruh baya tersebut. "Jangan seperti ini, Tante!" Disha lalu menatap Aslan.
"Mas, bebaskan saja kedua anak Ibu Mira. Beri Elma dan Yoga kesempatan. Ya?"
Aslan menimbang-nimbang sebelum memutuskan. Rita memegang tangan Aslan dan menatap lekat, mata putranya itu. "Turutilah kata-kata istrimu. Dia juga seorang wanita yang akan menjadi Ibu. Apa kamu mau, suatu saat istrimu dipisahkan dari anaknya sendiri?"
Aslan menggeleng cepat. "Baiklah, Om, Tante! Aku akan bebaskan mereka hari ini."
Raut lega bercampur bahagia, terpancar dari wajah kedua orang tua Elma dan Yoga. Mira memeluk Disha sambil menangis terharu. "Terima kasih, Nak Disha. Kamu benar-benar wanita yang baik. Pantas saja, Aslan memilihmu menjadi istrinya."
"Sama-sama, Tante."
***
Di kantor polisi, Aslan mencabut laporan terhadap Elma, Yoga, dan Alya. Setelahnya, Aslan langsung pergi dari sana menuju kantornya.
Sesampainya di kantor, ada seorang karyawan baru. Karyawan baru itu mendatangi ruangan Aslan untuk menyerahkan beberapa berkas.
"Kamu di bagian mana?"
__ADS_1
"Saya di bagian keuangan, Pak."
Aslan menganggguk-anggukkan kepalanya. Lalu, ia menandatangani berkas yang dibawakan oleh karyawan baru itu.
"Ini sudah saya tandatangani semua," kata Aslan sambil menyerahkan berkas.
Karyawan baru itu mengangguk dan menerima berkas sambil terus menatap Aslan. "Baik, Pak Aslan. Terima kasih, saya permisi dulu."
Aslan hanya mengangguk dan kembali fokus pada layar laptopnya. Foto Disha yang ia pajang di meja kerjanya, tak sengaja terjatuh. Aslan lekas mengambil figura yang jatuh itu, dan kembali meletakkannya ke atas meja.
Karyawan baru itu berjalan kembali ke ruang kerjanya sambil tersipu. Beberapa karyawan lain yang melihat ia tersenyum, menjadi bertanya-tanya.
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Aldi, teman seruangan karyawan baru itu.
"Tidak kenapa-kenapa sih, cuma ...."
"Cuma apa, San?"
Karyawan baru itu bernama Sandra Larasati. "Pak Aslan ganteng banget ya? Aku jadi deg-deg-an tadi, pas minta tanda tangannya."
"Astaga, Sandra! Dia sudah beristri. Jangan macam-macam kamu, San!"
"Aku pun hanya memperingati kamu, San. Dia sudah beristri dan istrinya juga bukan wanita sembarangan."
Sandra mendaratkan pantatnya ke kursi. "Memangnya, istri pak Aslan anak sultan? Atau anak artis?"
Aldi yang sudah menatap ke layar komputer, menjawab singkat. "Istri pak Aslan, mantan assistennya sendiri."
"Oh, begitu rupanya."
"Ayo, San. Lanjut kerja lagi."
"Siap!"
Sandra dan Aldi kembali berkutat dengan pekerjaan. Sandra teringat dengan wajah tampan Aslan dan tersenyum penuh misteri.
***
__ADS_1
Aslan baru saja masuk ke kamar dan disambut dengan pelukan hangat oleh Disha. Aslan mencium kepala Disha. "Kali ini, kamu mau minta apa, Sayang?"
Disha lalu mengangkat kepalanya. "Kok tahu sih, kalau aku sedang ingin sesuatu?"
Aslan terkekeh. "Tentu saja aku tahu. Aku ini suami-mu, Sayang. Katakan saja, kamu ingin dibelikan apa?"
Disha menggeleng pelan. "Bukan minta dibelikan. Tapi, ingin jalan dan makan di luar, Mas."
"Oh, jadi begitu? Baiklah. Mas akan turuti keinginanmu, tapi ada syaratnya."
Disha mengernyitkan keningnya. "Syaratnya apa, Mas?"
Aslan lalu mengangkat tubuh Disha dan menggendong sang istri ala bridal style. "Temani suami-mu mandi." Aslan mencium pipi Disha dengan lembut.
Disha mengalungkan kedua tangannya di leher Aslan. Wajahnya tersipu malu, terlihat dari warna kedua pipinya yang bersemu kemerahan. Meski ini bukan yang pertama, tetapi Disha selalu merasa malu.
Selesai mandi berdua, keduanya bersiap untuk pergi keluar. Namun, Disha meminta pada Aslan untuk pergi setelah menunaikan ibadah sholat maghrib saja. Aslan pun menuruti perkataan Disha.
***
Restoran ala sunda, menjadi pilihan Disha dan Aslan untuk makan malam. Keduanya memilih tempat duduk lesehan, yang ada di dekat kolam ikan bagian belakang. Suasana malam yang terang karena bulan, menambah keromantisan makan malam pasangan suami istri itu.
"Disha?"
"Iya, Mas?"
"Bagaimana harimu tadi?" Aslan lalu memegang tangan Disha dan mengusap punggung tangan wanita yang sangat ia sayangi itu.
"Lumayan menyenangkan, Mas. Aku seperti biasa, membaca buku fantasi, ditemani segelas jus dan juga camilan."
Aslan hendak bertanya lagi, tapi langsung didahului oleh Disha. "Aku juga tidak lupa minum vitamin kok, Mas."
Keduanya lalu tertawa kompak. Setelahnya, pesanan mereka berdua pun datang. Aslan sempat melihat sekilas, si pelayan yang mengantarkan makanannya.
Disha mengetahui suaminya tengah mengamati pelayan itu, lalu menyikut lengan Aslan. "Mas, kenapa?"
Aslan langsung menoleh cepat ke arah istrinya. "Tidak apa-apa, Sayang. Rasanya aku pernah lihat dia," bisik Aslan.
__ADS_1
"Silakan dinikmati makanan dan minumannya, Pak Aslan."
Aslan dan Disha saling menatap heran.