Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 044


__ADS_3

Aslan : Disha, kenapa pesan-ku hanya dibaca saja? Ya ampun, sudah tak bisa bertemu sampai minggu depan, pesan tak dibalas. Lengkap sudah derita-ku.


"Oiy! Orang tuh kalau ngirim pesan ya dibalas dong! Masa' cuma dibaca doang," kata Riyani, menggoda Disha.


Disha pun menyembunyikan ponselnya. "Ish, Mba Riyani ini lho! Sudah ah, aku mau ke kamar dulu."


"Ciyeee ... Pasti mau telepon calon suami nih. Ciyee ...!"


Disha menepuk jidatnya dan terkekeh. "Bumilda satu ini memang agak lain ya? Hadeuh."


Riyani pun tertawa mendengar ucapan Disha. Lalu, Disha keluar dari kamar Kakak ipar-nya itu. Sesampainya di kamar, Disha langsung membalas pesan Aslan.


Disha : Tuan, kata Ibu-ku, kita juga tidak boleh berkomunikasi. Tunggu saja sampai minggu depan.


***


05 Januari, 2020


"SAH!" ucap para saksi pernikahan yang disusul dengan doa-doa. Ya, Disha dan Aslan sudah resmi menikah. Rona bahagia terpancar dari wajah Aslan dan Disha. Meski sesungguhnya dalam hati Disha, ia masih belum siap dengan pernikahan yang sudah mengikatnya.


Ratusan tamu undangan yang hadir, membuat suasana acara menjadi semakin meriah. Aslan mengundang penyanyi yang terkenal di Indonesia. Sesekali, Aslan mengajak Disha untuk ikut bernyanyi bersama.


Di tengah-tengah acara, ada yang meminta Aslan untuk mengajak Disha berdansa. Dengan sedikit canggung, Aslan pun melakukannya. Sementara Disha, ia tak menolak sama sekali ajakan Aslan. Ia tidak ingin mempermalukan pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.


"Maafkan kawan-kawan-ku, Disha. Mereka memang kadang terlalu jahil," kata Aslan di sela-sela dansa.


Disha tersenyum manis. "Tidak apa-apa, Tuan. Eh, Mas Aslan."


Aslan sedikit menunduk dan tersenyum melihat tingkah Disha. "Kamu manis sekali, istriku."


Sontak, wajah Disha merona malu. Sementara Aslan, terus saja berusaha menggoda wanita yang sudah resmi menjadi Nyonya Aslan.


Acara pernikahan yang digelar di gedung hotel bintang lima itu semakin meriah, manakala kedua pengantin masuk kembali dengan setelan berbeda. Disha terlihat begitu anggun dengan gaun berwarna lavender. Wajahnya dipoles tipis namun terlihat sangat cantik.


Banyak orang yang kagum dan terpesona dengan kecantikan Disha. Hal itu membuat Disha sedikit grogi. Untung saja, Aslan bisa membantunya sedikit rileks. Beberapa teman sekolah Disha juga terlihat datang menghadiri acara.

__ADS_1


Sementara keluarga dari kedua mempelai, semuanya terlihat bahagia kecuali Rita. Rita terpaksa memasang senyum bahagia demi Putra kesayangannya.


Acara digelar hingga menuju tengah malam. Kini, Aslan dan Disha sudah berada di kamar hotel. Kamar yang sudah dihias dengan sedemikian rupa, sesuai permintaan dari kedua orang tua mempelai pengantin. Awalnya, saat acara sedang berlangsung, kamar masih dalam keadaan tanpa hiasan. Namun, setelah acara selesai dan kedua mempelai memasuki kamar, suasana sudah berubah.


Lampu sedikit dibuat gelap, disinari dengan lilin aroma. Banyak bunga bertaburan, ada handuk yang dibuat menjadi bentuk angsa. Bahkan, kamar mandi pun tak luput dari hiasan.


"Disha, jangan terlalu dipikirkan soal hiasan kamar ini ya!" kata Aslan.


Keduanya terlihat canggung, meski sudah resmi menyandang status sebagai suami-istri.


"I-iya, Mas. Aku mau ganti baju dulu sebentar."


Aslan mengangguk, lalu duduk di tepi ranjang. "Sebenarnya, ini adalah hal yang paling aku tunggu. Tapi ... Sabar Aslan, sabar," gumam Aslan lirih.


Sudah setengah jam berlalu, tetapi Disha masih belum keluar dari kamar mandi. Hal itu membuat Aslan khawatir. Tanpa menunggu lama lagi, Aslan pun menyusul Disha ke kamar mandi. Diketuknya pintu dan berseru, "Disha, kamu masih di dalam? Kamu baik-baik saja 'kan?"


"Iya, Mas. A-a-ak ... Aww!"


"Disha? Kenapa? Buka pintunya Disha!"


"Emm ... A-aku kesulitan membuka gaun ini, Mas," kata Disha, seraya menoleh ke arah belakang gaun.


Aslan tanpa diminta bantuan oleh Disha, dengan cepat langsung menurunkan sedikit zipper gaunnya. "Sudah, Disha. Silakan kamu lanjutkan di dalam." Aslan langsung berbalik setelah menurunkan zipper.


"Terima kasih, Mas," ucap Disha yang dijawab dengan anggukan oleh Aslan.


Disha kembali masuk ke kamar mandi dan melanjutkan aktivitasnya. Beberapa menit kemudian, ia melihat Aslan yang sudah tertidur di sofa kamar hotel. Disha ingin membangunkan Aslan dan memintanya untuk tidur di kasur saja. Tapi, ia juga merasa sungkan.


Saat akan menyelimuti Aslan, Disha terkejut karena ternyata Aslan tiba-tiba terbangun. "M-Mas ... Mas, tidak ganti baju dulu?"


Aslan mengangguk, lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Aslan sudah berganti pakaian. Ia kembali merebahkan dirinya di atas sofa kamar.


Disha yang masih terjaga dengan posisi sudah merebahkan diri di atas kasur pun berkata, "Mas, tidur di sini saja tak apa. Perjanjian kita hanya tidak berhubungan, bukan tidak tidur satu ranjang."


Aslan terkejut, tapi juga girang. "B-be-nar kah begitu, Disha?"

__ADS_1


"Tentu saja, Mas."


Aslan segera pindah dari sofa menuju kasur. Kali ini, ia memberi batas di tengah-tengah antara dirinya dan Disha. Ia tak ingin membuat Disha merasa tak nyaman dengannya. "Baiklah, Disha. Ini sebagai pembatas agar kamu yakin, aku tidak akan macam-macam. Hehehe."


Disha terkekeh dan menjawab, "Siap, Mas. Sudah, tidur lah sekarang. Besok, kita masih ada acara seharian lagi."


"Oke, Istriku!"


Pipi Disha merona setiap mendengar Aslan memanggilnya dengan sebutan 'istriku'. Namun, ia selalu berusaha untuk bersikap biasa saja.


Sebelum tidur, keduanya sempat membahas sesuatu. Yaitu tentang acara yang berlangsung lancar, ternyata tak lancar sepenuhnya. Kata Aslan, tadi sempat ada kendala sedikit dari Elma. Tapi, berkat Toni dan para anak buah lainnya, semuanya bisa kembali aman.


"Elma itu sepertinya sangat mencintai kamu, Mas."


"Mencintai harta-ku lebih tepatnya. Karena sedari awal, aku sudah tahu niatnya mendekati-ku hanya untuk harta. Dia salah satu anak pengusaha kaya dan Ayah-nya tidak mau jika Elma menikah dengan lelaki biasa.


Begitu pula dengan Elma. Ia terobsesi untuk menjadi Nyonya sosialita yang selalu bermandikan barang-barang branded berharga puluhan atau ratusan juta. Bahkan, bisa lebih dari ratusan juta," ungkap Aslan.


"Mas Aslan, tahu dari mana?" Disha menjadi penasaran dan ikut duduk menyandar di kepala ranjang seperti Aslan.


"Kamu lupa, Disha? Aku punya pak Toni dan anak buah lainnya, yang bisa aku minta bantuannya untuk mencari tahu tentang Elma."


"Ya ampun, aku melupakan itu. Hehehe," Disha menepuk jidatnya. "Lalu, sekarang Elma ada di mana, Mas?"


"Sudah aman, Disha. Dia sudah pulang ke rumah-nya."


"Baguslah kalau begitu, Mas. Ngomong-ngomong, kita tidur sekarang yuk! Malam sudah makin larut, kamu juga pasti lelah 'kan, Mas?"


"Lelah sedikit, lebih banyak bahagianya. Ya sudah, ayo kita tidur! Selamat malam, Istriku ...," ucap Aslan dengan tatapan mautnya.


"Selamat malam, Mas Aslan," jawab Disha malu-malu.


Keduanya pun bersiap untuk tidur. Lalu, terdengar suara gemuruh yang sangat keras dan membuat Disha langsung memeluk Aslan. Untuk sejenak, tatapan keduanya bertemu dan saling menyelami. Aslan mengusap pipi Disha dan tersenyum. Begitu pula dengan Disha. Perlahan, Aslan membelai wajah Disha. Mulai dari kening, turun ke hidung dan berhenti di bibir.


Aslan mengusap lembut bibir Disha. Ia mendekatkan bibirnya ke wajah Disha. Lalu, cup!

__ADS_1


__ADS_2