Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 020


__ADS_3

Terlihat oleh Clara dan Toni, wanita dengan setelan kantor, berjalan anggun, sambil menenteng tas mewah. Makin dekat, makin terlihat jelas, bagaimana mimik wajah wanita itu.


Saat sudah sampai di hadapan Clara dan Toni, wanita itu kembali menanyakan hal yang sama. "Dia siapa, Pak Toni? apa dia, yang semalam diceritakan oleh Aslan?"


"Benar, Non. Perkenalkan, ini Non Clara, sekretaris Tuan Aslan. Non Clara, ini Non Serly, kakak dari Tuan Aslan," ungkap Toni.


Clara pun mengulurkan tangan kanannya, "Saya Clara, salam kenal, Bu Serly."


"Saya Serly. Salam kenal kembali," jawab Serly, seraya membalas uluran tangan Clara.


Usai berjabat tangan, Serly menjelaskan pada Clara, kalau ia adalah kakak dari Aslan. Namun, ia lebih memilih tinggal di luar negeri, bersama suaminya. Hari ini, kebetulan ada agenda penting di kantor Aslan, jadi ia memutuskan untuk pulang.


"Apa selama kamu bekerja di sini, Aslan pernah merepotkanmu?" tanya Serly, penasaran.


"Tidak, Bu. Justru, pak Aslan sering membantu saya."


"Syukurlah kalau begitu. Dia termasuk lelaki yang, yah ... Dia sedikit dingin. Tapi, sebenarnya dia selalu peduli pada siapapun. Kamu paham maksudku 'kan, Clara?"


Clara mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja paham, Bu Serly."


"Ngomong-ngomong, panggil saja kak Serly. Saya kurang nyaman, kamu panggil Bu Serly, hahaha."


"B-baik, kak Serly," jawab Clara, sedikit canggung.


Setelah perbincangan singkat itu, keduanya melanjutkan aktivitas masing-masing. Toni sudah lebih dulu pergi, saat Serly dan Clara berbincang.

__ADS_1


***


Saat jam makan siang, Clara celingukan mencari keberadaan Aslan. Ia belum melihat kehadiran Asaln, sedari pagi.


"Clara ...!"


Clara yang tengah menatap ke pintu ruangan Aslan pun terjingkat. Lalu, ia berdiri. "Pak Aslan, baru datang kah? kok, saya baru lihat Bapak?"


"Saya baru selesai bertemu dengan klien penting. Kamu lupa dengan jadwal saya hari ini, Clara?" tanya Aslan, dengan raut datar dan melipat wajah.


"M-ma-maafkan saya, Pak Aslan," ucap Clara, menunduk.


"Jadi, kamu benar-benar lupa, Clara?"


"I-iya, Pak Aslan. Maaf sekali lagi, saya benar-benar tidak ingat, Pak."


"Saya hanya berniat untuk bergurau saja, Clara. Saya tidak akan marah, karena saya pun tahu, bagaimana kejadian semalam," ungkap Aslan.


Clara yang tadinya menunduk, langsung menatap tak percaya pada Aslan. "Pak Aslan serius, tadi hanya bergurau? Bapak tidak marah dengan saya?"


Aslan menggeleng. "Untuk apa saya marah, Clara? Sudah lah, tak perlu dibahas lagi. Kamu sudah makan siang?"


"Belum, Pak."


"Kalau begitu, ayo makan siang bersama saya dan kakak saya!" ucap Aslan, semangat.

__ADS_1


"Tapi, Pak ...."


"Tidak apa-apa, Clara. Jangan sungkan pada saya, kakak saya, apalagi pada karyawan lain."


"Baiklah kalau begitu, Pak," jawab Clara, yang akhirnya menerima ajakan makan siang Aslan.


"Tunggu sebentar di sini, Clara! Saya akan memanggil kak Serly. Dia masih ada di ruang pertemuan," titah Aslan.


"Siap, Pak!"


Aslan berjalan meninggalkan meja kerja Clara, dan menemui kakaknya yang masih sibuk di ruang pertemuan. Serly tengah memeriksa hasil dari pertemuan tadi.


"Kakak ... Ayo makan siang!" kata Aslan, sembari merangkul pundak Serly.


"kamu duluan saja, Aslan. Kakak masih memeriksa ini," jawab Serly, seraya menunjukkan beberapa dokumen.


"Kakak ... ayolah! Kakak 'kan tidak lama tinggal di sini. Lusa, kakak akan kembali ke luar negeri. Masa kakak tidak mau makan siang bersama adik sendiri," bujuk Aslan.


"Hmm ... bagaimana ya?" Serly menimbang-nimbang ajakan Aslan. Ia mengetuk-ngetuk dagu, dengan telunjuknya.


Aslan membisikkan sesuatu pada Serly. "Kak, aku juga mengajak Clara untuk makan siang. Kakak bisa sambil menilai, bagaimana sifat Clara. Iya 'kan?" rayu Aslan, sambil menaik-turunkan alisnya.


"Oke oke, Aslan. Baiklah ...! Kamu memang sudah tergila-gila pada Clara, ya!"


"Hahahahahaha ...!" keduanya tertawa kompak.

__ADS_1


Serly menyimpan kembali, dokumen yang ia periksa tadi. Lalu, saat ia dan Aslan sudah berbalik badan, terlihat seorang wanita yang sudah berdiri di pintu ruang tersebut.


Aslan dan Serly saling tatap, dengan raut tak percaya. Keduanya saling memikirkan jawaban, dalam pikiran masing-masing. Lalu, wanita itu pun berjalan mendekat ....


__ADS_2