Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 27


__ADS_3

"Disha ... Nduk ... bangun, Nduk!" ucap Maryam, seraya menepuk-nepuk bahu Disha, pelan. Ia duduk di dekat putrinya.


Disha melenguh, dan berbalik dari posisi tengkurapnya. "Hoaaam ...! ada apa, Bu? mas Aslan sudah pulang ya?" Disha celingukan, mencari keberadaan Aslan.


"Tadi, aku ngobrol sama mas Aslan sebentar, Bu," sambung Disha.


Maryam mengernyitkan kening. "Ngobrol sama siapa kamu, Nduk?"


"Ya sama mas Aslan, Bu. Tadi, dia datang ke kamar ini dan bertanya, kenapa tidak diajak masuk setelah pulang dari toko? oh, iya ... dia juga mengingatkan soal pekerjaan," jawab Disha, dengan wajah terheran.


Maryam menepuk jidatnya. "Owalah, Nduk ... kamu ini mimpi atau bagaimana? jelas-jelas, tadi nak Aslan langsung pamit pulang setelah mengantar kita."


Disha berpikir sejenak, mengingat kejadian saat ia diantar pulang oleh Aslan. Lalu, matanya membulat. "Ya Allah ... Astaghfirullah ...! Ini berarti, aku yang ketiduran dong, Bu?!" pekik Disha, yang langsung bangkit berdiri, setelah sebelumnya ia tertidur di dekat laptopnya, di atas ranjang.


"Eh, pelan-pelan, Nduk kalau mau berdiri. Habis tiduran itu duduk dulu, supaya tidak pusing," titah Maryam.


Disha lalu duduk di dekat Maryam. "Kamu mimpi apa, Nduk? mimpiin nak Aslan, hmm?"


"Emm ... anu, Bu. I-itu ...." Disha mengusap tengkuknya.


"Itu, apa?"


"Kan, tadi aku sudah cerita, Bu. Hehehe."


"Ya, barangkali ada tambahan ceritanya," goda Maryam.


Disha salah tingkah. Dipilinnya ujung baju tidur yang ia pakai, sambil merutuki kebodohannya, karena tertidur. "Tidak ada tambahannya, Bu. Aku mau lanjutkan tugas kantor dulu ya, Bu!"


Maryam mengangguk, mengiyakan ucapan Disha. Disha langsung pergi menuju kamar mandi terlebih dulu. Setelahnya, ia ke dapur untuk membuat secangkir kopi, bersama ibunya.


Di dapur, Riyani juga tengah mengambil air minum. Disha dan Rani, sempat mengobrol sebentar, sampai akhirnya mereka berdua kembali ke kamar masing-masing.


"Nah, kalau begini kayaknya tidak akan ngantuk lagi deh!" Disha bermonolog. Lalu ia meletakkan kopi ke atas nakas. Matanya kembali mengoreksi file yang akan ia berikan pada Aslan.


***


Di tempat Aslan ...

__ADS_1


"Bagaimana, Pak Toni? apa ada sesuatu yang penting tentang orang itu?" tanya Aslan, sambil meletakkan ke sofa empuk di ruang kerjanya.


Toni yang berjalan di belakang Aslan pun menjawab, "Belum ada untuk saat ini, Tuan. Kami saat ini tengah melakukan cara lain, agar kebungkamannya bisa digoyahkan."


Aslan duduk, dan mengajak Toni juga. "Jadi, apa menurut Pak Toni, cara lain itu akan berhasil?"


Toni berpikir sejenak, sebelum menjawab. Raut wajah Aslan terlihat penasaran, menanti jawaban dari Toni.


"Tentu saja, Tuan. Kami yakin, ini akan berhasil ...!"


"Baiklah, Pak Toni. Saya percaya pada Pak Toni dan bodyguard lainnya. Semoga kita berhasil membongkar semuanya, Pak!"


Keduanya manggut-manggut. Lalu, Toni pamit pergi dari ruang kerja Aslan. Aslan mengecek sebentar, bukti-bukti yang ia simpan untuk persidangan nanti. Setelahnya, ia masuk ke kamar, membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.


Sebelum tidur, Aslan selalu menambah volume notifikasi pada ponselnya. Hal itu ia lakukan, agar bisa bangun tepat waktu. Saat akan meletakkan ponsel ke atas nakas, Aslan mendapat satu pesan baru.


Aslan mengernyitkan kening dan tersenyum licik, membaca pesan yang baru saja ia terima. "Apa peduliku? hmm ...!" gumam Aslan, lirih. Alih-alih membalas, ia justru sengaja membiarkan pesan itu dan memilih untuk tidur.


***


Paginya, Disha dijemput oleh Aslan. Disha yang merasa tak enak karena dijemput atasannya sendiri, awalnya menolak. Tapi, Aslan berhasil meyakinkan Disha kalau tidak akan terjadi apa-apa, jika karyawan kantor yang lain melihat mereka berdua berangkat bersama.


Berkali-kali Disha mengucapkan terima kasih, dan Aslan selalu menjawab, "Tidak apa-apa, Disha. Aku sudah menganggap ibumu, seperti ibuku juga."


"Pokoknya, terima kasih sebanyak-banyaknya, Mas Aslan ...!"


Disha dan Aslan saling tatap sejenak, lalu kembali menatap ke depan. Disha mendunduk, sedangkan Aslan menyembunyikan senyum bahagianya.


Sesampainya di kantor, banyak pasang mata yang mengarah pada Aslan dan Disha. Namun, Aslan bisa bersikap biasa saja, pun dengan Disha. Meskipun realitanya, Aslan sedang merasa sangat bahagia saat ini, begitu pula dengan Disha.


***


Di lain tempat, Toni sedang mengawasi proses renovasi toko kue milik Maryam. Lalu, datanglah Hamzah menemui Toni.


"Pak Toni ...!"


"Eh, Mas Hamzah sudah sampai sini saja."

__ADS_1


"Terima kasih sudah banyak membantu keluarga kami, Pak Toni!" ucap Hamzah, yang langsung memeluk Toni.


Toni membalasa pelukan Hamzah. "Sama-sama, Mas. Lebih tepatnya, saya ini cuma perantara, Mas Hamzah. Selebihnya, tuam Aslan yang ada dibalik ini semua."


Hamzah melepas pelukan, menatap haru pada Toni. "Pak Toni benar. Aslan lah, yang sudah banyak membantu."


Kemudian, Toni mengajak Hamzah untuk masuk ke toko, melihat jalannya renovasi. Sesekali, Toni dan Hamzah saling bertukar candaan. Hingga keduanya tak sadar, ada orang misterius yang mengawasi mereka berdua.


***


"Baiklah ... untuk pertemuan kali ini, kita akhiri sekarang. Disha, tolong nanti antarkan hasilnya ke ruangan saya!" titah Aslan, kepada para karyawannya.


"Baik, Pak Aslan ...!"


Karyawan wanita lainnya, saling berbisik, membahas kedekatan Disha dan Aslan. Disha yang tadinya terlihat dingin dan tidak peduli, menjadi emosi.


"Kalian, apa tidak ada pekerjaan selain bergosip? apa kalian makan gaji buta?" sindir Disha, dengan tersenyum sinis.


"Dih, mentang-mentang dekat sama pak Bos. Sok iye lu, Disha!" kesal Fara.


"Udah, Far. Palingan juga pak Bos cuma mau mainin dia doang, kayak yang sudah-sudah. Hahaha," timpal Winda.


Disha memutar bola mata malas. Ia yakin, keduanya sengaja mengadu domba dirinya dengan Aslan. Tanpa membalas ucapan dari Fara dan Winda, Disha langsung melenggang pergi meninggalkan ruang pertemuan.


Fara dan Winda, kembali asyik bergosip di ruang pertemuan. Hingga akhirnya, terdengar pengumuman, "Untuk Fara dan Winda, silakan jika kerjaan kalian hanya bergosip, kalian bisa cari pekerjaan di kantor lain."


"Win, itu suara bos kita bukan sih? Oh my God! seksi banget suaranya ...!" seru Fara, girang.


"Sssst ...! bego lu, Far. Itu kita yang kena tegur woy!" Winda menoyor kepala Fara, lalu bangkit dari tempat duduknya.


Fara pun menyusul Winda, karena tak ingin ditinggal sendirian. Keduanya hendak kembali ke meja kerja masing-masing.


Tiba-tiba saja, ada yang memanggil keduanya. Winda dan Fara pun mengikuti orang itu, yang mengajak keduanya ke lobi kantor.


"Far, lu ngerasa ada yang nggak beres nggak sih? kok gue jadi tegang gini, ya ampun ...!" Winda berbisik pelan, tepat di telinga Fara.


Fara menggeleng dengan wajah bingung. "Mana gue tahu, Win. Gue aja baru liat dia hari ini."

__ADS_1


"Ekhem ...!"


Fara dan Winda terjingkat kaget. Keduanya ditatap dengan nyalang oleh orang itu, yang berjalan di depan Fara dan Winda.


__ADS_2