
"Owalah ... astaghfirullah ...!" ucap Maryam setelah melihat, siapa yang ada di sampingnya dan bertanya tadi.
"Hehehe. Kenapa, Bu? Ibu bilang apa barusan?" tanya Riyani, calon istri Hamzah.
"Kamu tau 'kan, Ibu selalu ingin melihat anak-anak Ibu bahagia?"
Riyani mengangguk, tersenyum.
"Ibu ingin, Clara alias Disha, bisa mendapatkan jodoh seperti Aslan," ungkap Maryam dengan raut penuh harap.
Riyani dan Maryam saling tatap, lalu tersenyum. "Aamiin, Bu. Semoga saja, berjodoh dengan Aslan ...!" doa Riyani.
"Aamiin ...!" ucap Riyani dan Maryam, bersamaan.
***
Pagi hari, disapa dengan sinar matahari yang cerah. Suara kicau burung, ikut menyertai indahnya pagi. Denting sendok dan garpu, terdengar dari meja makan, di kediaman Maryam.
"Bu ... Mas Hamzah, aku berangkat sekarang, ya! hari ini ada jadwal bertemu dengan klien penting. Assalamualaikum ...!"
Clara bangkit berdiri setelah berpamitan, mencium punggung tangan Ibu dan kakaknya dengan takzim.
"Hati-hati di jalan, Nduk!" kata Maryam.
"Iya, Dek. Semoga hari ini, pertemuannya berjalan dengan lancar," timpal Hamzah.
"Aamiin ...!" ucap ketiganya, kompak.
Lalu, Clara pun keluar, dan menghampiri Joko, supir pribadi Clara, orang pilihan Aslan.
"Pak Joko, yuk berangkat sekarang!"
Joko yang tengah menyeruput kopi itu, langsung bangkit. "Siap, Non!" Joko langsung menuju mobil, dan menyalakan mesinnya.
"Makasih, Pak Joko ...!" ucap Clara, yang kemudian masuk ke mobil.
"Siap, Non Clara!" jawab Joko, dengan mengacungkan jempolnya.
Mobil pun melaju membelah padat-nya jalan raya. Untung saja, kemacetan yang ada, tak membuat Clara datang terlambat. Ia sudah lebih dulu mengantisipasinya, dengan berangkat lebih awal dari biasanya.
Sampai di kantor, Clara hanya baru menemui satu karyawan, itu pun baru OB kantor yang datang. Lalu, ia menuju meja kerjanya, yang ada di depan ruangan Aslan.
"Pagi ... Bu Clara! mau ngeteh dulu?" tawar Rani, OB yang sudah datang ke kantor.
"Pagi, Mbak Rani! emm ... sepertinya tidak dulu, Mbak. Saya harus siapkan beberapa berkas dan keperluan untuk pertemuan nanti," tolak Clara halus, sambil tangannya menyusun beberapa berkas.
__ADS_1
"Tolong cek ruang pertemuannya ya, Mbak!" titah Clara, pada Rani.
"Baik, Bu Clara. Akan saya cek dulu, ruangannya. Permisi ...!" Rani mengangguk sekilas. Pun dengan Clara. Raut wajah keduanya tersenyum, saat mengangguk.
***
"Baiklah ... jadi, hasil dari pertemuan kali ini, saya akan memulai strategi promo yang Anda jabarkan. Terima kasih, Pak Iyan," ucap Aslan yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
Iyan pun tersenyum dan mengulurkan tangannya, untuk berjabat tangan dengan Aslan. "Terima kasih banyak, Pak Aslan ... Bu Clara," ucap Iyan, menatap Aslan, dengan sedikit memiringkan kepala, dan menatap Clara, yang ada dibelakang Aslan.
Aslan menoleh sekilas dengan sudut matanya pada Clara, yang masih berdiri menunduk, tepat di belakang punggungnya. Lalu, ia kembali menatap lawan bicara yang ada di hadapannya.
"Ah, sama-sama, Pak Iyan. Maafkan sekretaris saya, dia masih karyawan baru di sini," ujar Aslan, yang merasakan ada ketidaknyamanan pada Clara.
"Iya, tidak apa-apa, Pak Aslan. Kalau begitu, bolehkah kita makan malam, sebagai bentuk perayaan kerja sama kita?"
"Nanti, saya akan kabari Pak Iyan, soal makan malamnya. Saya juga harus menyesuaikan jadwal, Pak."
"Oh, begitu ... baiklah, Pak Aslan. Ya sudah, saya pamit dulu, Pak. Selamat siang!"
"Mari saya antar sampai ke lobi, Pak Iyan."
Clara tak ikut mengantar Iyan, karena sudah diberi kode oleh Aslan, untuk tetap ada di ruang pertemuan. Sepanjang perjalanan mengantar Iyan ke lobi, Aslan berusaha untuk tetap ramah, meskipun hatinya sangat tak suka.
"Baik ... terima kasih, Pak Iyan," ucap Aslan, setelah sampai di lobi, dan Iyan langsung pamit keluar.
Setelah sampai di ruang pertemuan, Aslan menyapa Clara, yang masih sibuk membereskan beberapa berkas. "Terima kasih, Clara, sudah mau menemani saya bertemu klien penting itu," kata Aslan, setelah mendaratkan pantatnya ke alah satu kursi pertemuan.
"Ah, Mas Aslan, eh ... Pak Aslan berlebihan. Hahaha."
Keduanya tertawa bersama. Lalu, terdengar deringan telepon di meja pertemuan.
Clara menatap bingung pada Aslan. "Ini ponsel siapa, Pak Aslan?" tanya Clara, sambil mengangkat ponsel yang masih berdering.
Aslan mengedikkan bahu dan menjawab, "Saya tidak tahu, Clara. Mungkin, ponsel itu milik pak Iyan."
"Hmm ... mungkin saja," duga Clara, dengan wajah berpikir.
Tak lama setelahnya, terdengar suara pintu ruangan berdecit. Ternyata, Iyan kembali lagi ke ruang pertemuan. Ia langsung mendekati Clara, dan mengambil ponsel yang dipegang oleh sekretaris Aslan itu.
"Maaf, ini ponsel saya, Nona," kata Iyan, sambil mengedipkan satu matanya.
"Iya, silakan diambil dan bawa pulang ...!" ucap Clara, yang kemudian berlalu meninggalkan ruang pertemuan.
"Pak Aslan, maafkan kecerobohan saya. Permisi ...!"
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa, Pak Iy—"
Belum sempat Aslan menyelesaikan kalimatnya, Iyan sudah lebih dulu pergi. Ia ingin mengejar Clara. Untungnya, Aslan langsung paham dan segera menelepon Clara.
Setelah memberitahu Clara, kalau mungkin saja Iyan mengejarnya, Clara pun langsung masuk ke dapur kantor. Di sana, ia bertemu dengan Rani.
"Bu, kok ngos-ngosan begitu? Bu Clara dikejar rentenir?" tanya Rani terheran-heran.
Clara menepuk jidatnya, tak habis pikir dengan pertanyaan Rani. "Astaga, Mbak Rani ...! kalau saya dikejar rentenir, untuk apa saya sembunyi di sini? hadeuh."
Wajah Rani merona malu, sambil mengusap tengkuknya. "Hehehe. Ya ... maaf, Bu Clara. Saya 'kan, nggak tahu," ungkap Rani.
"Iya ... iya, Mbak Rani. Tidak apa-apa, kok!" Clara merapikan kembali kemejanya. "Ya sudah, Mbak Rani, saya kembali ke ruangan dulu. Tolong buatkan teh hangat dua cangkir, untuk saya dan Pak Aslan, ya!"
Rani mengangguk cepat, dan tangannya memberi hormat. "Siap, Bu Clara ...!"
***
Saat jam pulang kantor, Aslan menghampiri Clara, yang tengah bersiap-siap untuk pulang. Sebelum sampai di meja Clara, ia memperhatikan wanita cantik itu dengan seksama. Tatapannya benar-benar seperti terkunci, hanya pada Clara.
"Pak Aslan mau pulang?"
Aslan masih tersenyum sendiri, saat sudah sampai di hadapan Clara. Tapi, pikirannya tengah pergi untuk menyimpan setiap ukiran indah, yang terpahat di wajah wanita cantik itu.
"Pak ... Pak Aslan ...!" ucap Disha, sembari melambai-lambaikan tangan ke depan wajah Aslan.
Aslan tersentak kaget, hingga mundur dua langkah, dari tempatnya berdiri. "Eh, kenapa Clara?"
"Ish ish ish ...! segitunya lihat wanita karier, yang jadi sekretaris pribadi, hahaha," jawab Disha sambil menggeleng beberapa kali, dan diakhiri dengan tawa.
"Lupakan itu, Clara, hahaha. Saya ingin memberitahu sesuatu. Iyan mengundang makan malam di resto seafood dekat Join Cafe. Bisa temani saya, nanti?
Emm ... kira-kira, jam tujuh malam sudah siap semuanya, Clara!" Aslan menunggu jawaban Clara, dengan debaran jantung yang tak beraturan.
Aslan berhitung dalam hati 'Satu, dua, tiga, empat, lim— ....'
"Baiklah, Pak Aslan. Akan saya usahakan, pukul tujuh malam, saya sudah siap."
"Syukulah kalau begitu," raut lega, terbit di wajah Aslan. "Saya pulang dulu, Clara ...!"
Clara yang merasa bingung dan heran, memilih untuk tetap diam, tak berkomentar apapun. Lalu, ia berkata, "Iya, Pak Aslan. Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan."
"Amin ...!" keduanya, kompak meng-amini.
Saat Aslan hendak pergi ...,
__ADS_1
"Permisi ...!" ucap seorang wanita, yang tiba-tiba saja, sudah ada di dekat tempat Aslan berdiri.