
Di perjalanan menuju kedai kopi, Aslan dan Disha saling diam. Hanya suara musik mengalun yang terdengar. Keduanya sama-sama sedang memikirkan sesuatu. Sesampainya di kedai kopi, keduanya langsung memesan kopi pilihan masing-masing.
"Terima kasih ...," ucap Aslan, pada wanita yang membawakan pesanannya, yang langsung dijawab dengan anggukan.
Kemudian, Aslan mempersilakan Disha untuk meminum kopi pesanannya.
"Jadi, ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu, Tuan," kata Disha setelah menyesap sedikit kopinya.
Aslan yang masih menikmati kopi, hanya menatap penasaran pada Disha. Lalu, ia kembali meletakkan cangkir ke meja. "Apa itu, Nona?"
"Emm ... Begini, Tuan. Apa benar, kalau kita menikah nanti, Tuan akan membantu aku mencari pelaku dari kasus kecelakaan mendiang Ayahku?"
Aslan terdiam sejenak. "Tentu saja itu benar, Nona. Apa kamu meragukan aku? Aku bisa meminta bantuan pada pak Toni juga, untuk menyelidikinya. Jadi ...?"
"Mari kita menikah bulan depan!" kata Disha dengan mantap.
Aslan tercekat, bahkan untuk menelan air ludahnya pun terasa sulit. Matanya menyiratkan betapa terkejutnya ia, dengan ucapan Disha barusan. "A-apa kamu bilang, Nona? K-k-kamu mau kita menikah bulan depan, begitu kah?"
Disha mengangguk, meyakinkan Aslan. "Ayo, Tuan! Aku bersedia menikah bulan depan. Tapi, jika Tuan tak bersedia —"
"Aku bersedia! Ayo, kita bahas beberapa persiapannya!" Aslan memotong ucapan Disha yang membuat wanita kesayangannya itu, terdiam sejenak.
Suasana menjadi hening seketika. Namun, Aslan berusaha mencairkan suasana kembali. "Disha, mulai sekarang jangan panggil aku Tuan."
Disha langsung menggeleng. "M-mana bisa? Aku mulai terbiasa memanggil-mu Tuan. Kecuali, kalau kita sudah menikah nanti, mungkin aku bisa merubahnya, Tuan."
Aslan merasa gemas dengan kata-kata Disha. Rasanya, ia ingin memeluk Disha saat itu juga. Untungnya, Aslan masih bisa menahan keinginannya itu.
Keduanya pun mulai membahas rencana pernikahan mereka. Mulai dari masjid, gedung, wedding organizer, catering dan souvenir. Cukup lama keduanya membahas hal itu. Hingga tak terasa, hari sudah beranjak sore. Aslan pun mengajak Disha untuk pulang dan melanjutkan pembahasan di rumah.
***
Sesampainya di rumah, hanya ada Riyani di rumah. Sedangkan Maryam tengah pergi bersama Hamzah. Lalu, Aslan meminta ijin untuk sholat terlebih dulu, sembari menunggu kedatangan Maryam dan Hamzah.
Riyani yang tengah ke dapur, disusul oleh Disha. Disha meminta tolong pada kakak iparnya, untuk menyajikan air putih saja. Karena, ia sudah minum kopi bersama Aslan. Riyani pun terheran dan bertanya, "Kamu minum kopi sama Aslan jam berapa, Dek?"
"Sekitar jam satu siang tadi, Mba. Gimana?"
"Ckckck. Sekarang sudah jam setengah lima, Dek. Tak apa kalau aku buatkan minuman lagi. Aku akan buatkan teh saja kalau begitu. Sudah, kamu juga sholat dulu sana!"
Disha terkekeh, mengusap tengkuk lehernya. "Eh, iya. Aku belum sholat, untung saja diingatkan. Ya sudah, aku sholat sekarang." Disha pun meninggalkan dapur, menuju kamar.
__ADS_1
Saat Riyani akan menuang air panas ke cangkir, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ia tahu, pasti yang datang adalah suami dan Ibu mertuanya. Lalu, ia mengambil cangkir lagi, untuk Maryam dan Hamzah.
Selesai membuat minuman, Riyani membawa nampan ke ruang tamu. Diletakannya satu per satu, cangkir yang berisi teh dengan uap yang masih mengepul. Tak lupa, ia menyajikan satu piring bolu pandan potong dan satu piring lagi risol mayo.
"Disha mana, Nduk?" tanya Maryam, saat sudah duduk di sofa.
Riyani yang baru selesai menyajikan camilan pun menjawab, "Disha sedang sholat, Bu. Mungkin sekalian mandi."
Maryam mengangguk dan menanyakan Aslan juga. Lalu, Riyani memberitahu Ibu mertuanya itu, kalau Aslan sedang sholat. Tak berselang lama, Aslan pun muncul dan langsung diminta untuk duduk oleh Maryam.
Sedangkan Riyani, ia kembali ke kamarnya untuk mengecek suaminya yang mungkin membutuhkan bantuannya. Dan benar saja, Hamzah ternyata tengah kesulitan mencari kaos berkerah warna maroon dengan logo kuda di saku, miliknya. Lekas, Riyani membuka lemari dan langsung menemukan apa yang dicari oleh suaminya.
"Owalah, Sayang. Kamu ini memang amazing!" kata Hamzah dengan mata berbinar.
Riyani mengerucutkan bibirnya. "Pasti ada maunya nih. Iya 'kan?"
Hamzah salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yany tak gatal. "Jangan berpikir negatif gitu, Sayang. Hehehe."
"Sudah sudah, Mas. Ayo kita ke ruang tamu!"
"Kirain mau ajak Mas ke ranjang, Dek," kata Hamzah dengan wajah ditekuk.
"Ish! Nanti malam aku kasih, Mas. Bantal dan guling, aku kasih ke Mas Hamzah biar bisa tidur di ruang tamu!"
Riyani menggeleng, heran melihat tingkah suaminya itu. "Ya sudah, ayo kita ke depan dulu. Ada yang mau dibahas sama Disha dan Aslan."
Lalu, Hamzah menggandeng Riyani dan berjalan keluar kamar. Ternyata, Maryam bersama Disha dan Aslan sudah duduk di ruang tamu. Setelah semuanya duduk bersama, Disha dan Aslan memulai pembahasan.
Aslan mengutarakan niatnya yang ingin membantu Disha. Sedangkan Disha, mengungkapan keinginannya yang ingin menikah dengan Aslan bulan depan. Bagaimana dengan reaksi Maryam, Hamzah dan Riyani? Tekejut? Tentu saja. Tapi, ketiganya langsung menyetujui keinginan Disha.
Bukan tanpa sebab, Maryam memberikan persetujuan pada Disha. Maryam ingin, Disha bisa mengabdi pada lelaki yang ia harapkan bisa menjadi teman, suami dan sosok Ayah bagi putrinya itu. Sedangkan Hamzah dan Riyani, menyetujui keinginan Disha karena ingin melihat Disha bahagia.
Selesai membahas keinginan Disha, berlanjut ke pembahasan pernikahan yang sudah direncanakan oleh Aslan dan Disha, saat bertemu di kedai kopi. Lalu Maryam, Hamzah dan Riyani pun, mendengarkan dengan seksama sambil sesekali memberikan pendapat.
"Begitu saja dulu ya, Bu, Mas Hamzah. Sekarang, saya pamit dulu. Saya akan mengabarkan hal ini pada Papa dan Mama," kata Aslan yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
Disha mengantar Aslan ke pintu, hingga mobilnya melaju meninggalkan rumah.
***
Di rumah Aslan, Toni sudah menunggu kedatangannya. "Bagaimana Pak Toni? Apa sudah ada hasilnya?"
__ADS_1
Toni mengangguk. "Mari kita bicarakan ini di ruangan Tuan saja," kata Toni.
Aslan pun langsung setuju dan berjalan menuju ruang kerjanya bersama Toni. Untung saja tak ada kedua orang tuanya saat ini. Karena jika ada mereka berdua, sudah pasti Aslan akan dicecar dengan banyak pertanyaan. Bima dan Rita sangat paham, saat Toni menunggu kedatangan Aslan, berarti ada sesuatu hal yang penting.
Setelah Aslan dan Toni sudah duduk berhadapan, Toni segera mengungkapkan semua yang ingin ia sampaikan pada Aslan. Lalu, Toni pamit pulang karena ada sesuatu yang penting.
Aslan pun tak mencegahnya, karena ia sangat mengenal Toni. Toni adalah tangan kanannya, sekaligus orang yang ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
Malam hari, disaat Aslan tengah fokus menyelesaikan tugasnya, ia mendapat pesan dari Elma.
Elma : Aslan, apa kamu sudah mantap akan menikah dengan Disha? Dia pernah meninggalkan tunangannya, lalu mengenal kamu yang ternyata jauh lebih kaya dari mantan tunangannya itu.
"Ck! Apa pula wanita satu ini selalu mengganggu-ku!" kesal Aslan. Ia langsung memblokir nomor Elma. Lalu, ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
***
Pagi hari, di kediaman Bima ....
"Morning Papa, morning Mama!" seru Aslan sembari berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang tengah duduk di gazebo samping rumah.
"Hei, Nak! Ke marilah!" sahut Bima.
Aslan segera menghampiri kedua orang tuanya dan mencium takzim punggung tangan keduanya. "Pa, Ma ... Aku ada kabar baik untuk kalian."
"Apa itu?" tanya Bima dan Rita bersamaan.
"Duduklah dulu, Pa, Ma!"
Ketiganya pun duduk bersama. Aslan langsung memberitahukan kabar yang ingin ia sampaikan, yaitu; menikahi Disha bulan depan. Bima begitu bahagia mendengar hal itu. Berbeda dengan Rita yang hanya menampilkan ekspresi datar. Namun, ia juga tak bisa berbuat apa-apa jika suaminya sendiri sudah menyetujui hubungan Disha dan Aslan.
"Kapan tanggal pernikahannya?" tanya Bima penuh antusias.
"Papa ini semangat sekali. Papa mau dapat menantu lho, bukan selir!" cetus Rita.
Bima langsung menatap tajam Rita. "Bicara apa Mama ini? Apa Mama tidak senang akan dapat menantu? Papa sangat bersyukur, karena akhirnya Aslan mau menikah meskipun bukan dengan pilihan kita!"
Rita merasa tak enak hati, karena telah salah berucap. Ia langsung meminta maaf pada suaminya dan menjelaskan kalau ucapannya hanya gurauan saja.
"Makanya, Mama lain kali itu harus bisa membedakan mana situasi yang pas untuk bergurau dan mana situasi yang pas untuk serius. Eh, tapi tidak apa-apa. Mama 'kan tak sengaja. Maafkan Mama ya, Pa. Ya?" bujuk Aslan sembari merangkul Rita dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya, memegang lengan Bima.
Bima menarik napas dalam. "Baiklah. Papa akan memaafkan Mam —"
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Bima!" ucapan dari seseorang, membuat kalimat Bima terpotong. Lalu, mereka bertiga langsung menengok ke arah sumber suara.