Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 058


__ADS_3

Beberapa hari setelah Yoga bebas, Yoga menceritakan semua yang ia alami pada Adiknya, Elma. Yoga bercerita pada Elma, bahwa Aslan sangat mencintai Disha. Dan Yoga memprediksi, Disha pasti akan segera luluh, kemudian menjadi milik Aslan seutuhnya.


Mendengar penuturan sang Kakak, Elma menjadi emosi. "Tidak! Tidak akan aku biarkan mereka bersatu, Kak!"


"Kamu bisa apa? Aku saja dibebaskan tanpa syarat. Ya, mungkin mereka sudah bosan menawanku. Jadi, mereka memilih untuk melepaskan aku saja."


"Diam kamu, Kak! Kalau tidak bisa membantuku untuk merencanakan pembalasan, lebih baik kamu diam!"


"Ya ya, baiklah. Aku akan diam. Tapi, ingat satu hal Elma."


"Apa?"


"Kita masih ada urusan dengan," Yoga mengedipkan satu matanya dan bersiul yang mengarah ke sebuah kamar.


"Ah, aku hampir lupa. Tolong Kakak yang gantian urus mereka. Aku lelah!"


Yoga lalu menelepon pacarnya, Mely, untuk segera datang ke rumahnya dan membantu mengurus 'orang' yang dimaksud oleh Yoga dan Elma.


"Kak?"


Yoga yang tengah berjalan menuju lantai atas langsung berhenti dan menjawab tanpa menoleh ke belakang. "Apa?"


"Apa mereka akan punya anak? Jika iya, apa aku bisa minta bantuanmu untuk mencarikan obat yang bisa untuk menggugurkan kandungan?"


Yoga langsung menoleh dan tersenyum licik. "Ini baru Adikku. Tentu saja aku bisa membantumu. Kamu cari tahu saja dulu tentang hamil atau tidaknya wanita sialan itu!"


Elma mengangguk cepat. Lalu, ia pergi untuk mencari kabar tentang Disha dan Aslan.


***


"Sial! Arrgh! Ternyata benar, mereka akan punya anak. Dan apa tadi dokter bilang? Anaknya berjenis kelamin laki-laki." Elma, wanita yang tadi mengawasi Disha dan Aslan.

__ADS_1


Ia terus mengumpat kasar setelah mengetahui tentang kehamilan Disha. Elma masih tak terima dengan pernikahan Aslan dan Disha.


"Aku harus bisa menukar obat yang nanti diberikan pada Disha. Ya!" Elma lalu mengambil sebungkus obat yang sudah ia siapkan dari rumah, untuk ia tukar dengan obat Disha.


Elma kembali memakai maskernya dan berjalan menuju ruang pengambilan obat. Di sana, ia celingukan sambil terus mengawasi keadaan sekitar. Tak berselang lama, Disha dan Aslan pun keluar dan duduk di sampingnya.


(Beberapa saat kemudian)


"Atas nama Nyonya Disha!"


Elma dan Disha bangkit bersamaan menghampiri apoteker.


"Atas nama Nyonya Disha."


Disha lalu menatap Elma dan tersenyum. "Mba, ini atas nama saya."


Elma pun berkata, "Ah iya, maaf. Saya kira atas nama Tisha. Maaf maaf." Elma dengan lihainya menukar bungkusan obat yang ia genggam tadi.


Elma lalu duduk kembali untuk beberapa saat. Setelah Aslan dan Disha pergi, ia pun ikut pergi dari rumah sakit itu.


***


"Sayang, hari ini ingin makan camilan apa? Yuk, sekalian kita mampir makan camilan!" Aslan begitu antusias saat mengajak istrinya.


"Apa ya? Gimana kalau donat? Tiba-tiba saja ingin makan donat." Disha memasang wajah imut.


Aslan tertawa dan berkata, "Baiklah, Nyonya Aslan. Kita beli donat dan minum segelas milkshake. Oke?"


"Horeee!" Disha bertepuk tangan gembira.


Sesampainya di J.C*, Aslan langsung memesan empat buah donat, dan dua milkshake strawberry dan coklat. Tak perlu menunggu terlalu lama, pesanan mereka berdua pun datang.

__ADS_1


"Terima kasih, Mba." Disha menyunggingkan senyum ramahnya.


"Sama-sama. Selamat menikmati."


Aslan dan Disha, kompak menganggukkan kepalanya. Lalu, keduanya mulai menyantap donat dan meneguk minuman.


"Alhamdulillah, kenyang banget ya Dek!" Disha mengusap-usap perutnya dengan raut bahagia.


Aslan terkekeh. "Alhamdulillah. Ayo kita pulang!"


"Ayo!"


"Eh, tapi aku bayar ini dulu, Dek. Hahaha."


"Hadeuh. Belum juga lahir anaknya, sudah jadi pelupa." Disha menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa pelan.


Aslan lalu menyuruh sang istri untuk menunggunya.


"Iya iya, Mas. Aku tunggu kok."


Aslan berjalan menuju kasir dan segera menyelesaikan pembayarannya. Setelahnya, Aslan menghampiri dan membantu Disha bangkit dari tempat duduk.


"Yok, Sayang!"


Disha mengangguk tersenyum. "Oh iya, Mas. Aku lihat wanita yang duduk di pojok itu. Kok mirip dengan wanita yang tadi aku temui di rumah sakit ya?"


"Yang mana?" Aslan celingukan mencari keberadaan wanita yang dimaksud oleh Disha.


"Itu lho, Mas." Disha menunjuk dengan mengangkat wajahnya ke arah wanita itu. "Nah, yang pake masker warna hitam itu."


Aslan yang penasaran, langsung mengamati dengan seksama wanita itu. "Ya ampun!"

__ADS_1


"Kenapa, Mas?" Disha yang sudah merangkul lengan Aslan, kembali berbalik melihat ke arah wanita yang ia tunjuk tadi.


__ADS_2