
Setengah bulan kemudian, pernikahan Hamzah dan Riyani, dilangsungkan. Acara ijab kabul sudah terlaksana dengan lancar, tanpa suatu halangan apapun. Resepsi yang diadakan saat itu, juga berjalan lancar.
Ramainya acara, membuat Disha sedikit bisa merileks-kan pikiran. Itu karena ia menjadi penyambut tamu dalam acara pernikahan Hamzah, setelah tadi berfoto ria dengan kedu mempelai.
Aslan juga turut hadir dalam acara tersebut. Bahkan, banyak yang mengira kalau Aslan adalah calon suami Disha. Hal itu membuat Maryam, meng-amin-kan ucapan para tamu undangan dalam hati.
Acara berlanjut hingga pukul sembilan malam. Aslan sempat pulang terlebih dahulu, selepas ashar. Sebelum maghrib tiba, ia kembali ke rumah mempelai wanita, tempat di mana acara pernikahan dilangsungkan.
Saat para tamu undangan mulai berhenti berdatangan, Aslan mengajak Disha untuk bicara empat mata. Kebetulan, rumah Riyani dekat dengan taman kota. Jadi, Aslan mengajak Disha ke sana.
"Mas Aslan, ada perlu apa, sampai mengajak-ku ke sini?" tanya Disha penasaran, setelah keduanya duduk di bangku taman.
Suasana malam yang disertai taburan bintang, membuat pemandangan semakin indah. Aslan yang sedikit grogi untuk mengatakan niatnya mengajak Disha, terus menatap ke atas, merangkai kata demi kata dalam hati dan pikiran. Ingin ia ucapkan, tetapi rasanya begitu sulit.
Disha mencoba untuk bertanya ulang pada Aslan. "Mas Asl—"
"Awww!" pekik Disha. Ia mendapat lemparan batu kecil, yang entah dari mana datangnya.
Aslan dengan sigap, langsung mengusap-usap lengan Disha, yang terkena lemparan batu. Meskipun batu yang dilemparkan kecil, tetapi tetap sakit jika dilempar dalam jarak dekat dan cepat.
Aslan merasa tak enak pada Disha, dan mengajaknya pulang. Tapi, Disha menolak, karena ingin tahu niat Aslan mengajak dirinya ke taman kota. Setelah saling ber-adu keinginan, akhirnya Aslan memilih untuk mengalah pada Disha.
"Baiklah, kalau begitu. Sebenarnya ... malam ini, aku ingin traktir kamu makan jagung bakar. Bagaimana?"
Disha langsung memasang wajah gembira. "Nah, harusnya bilang dari tadi dong, Mas ...!"
Aslan menggeleng dan tersenyum. Ia merasa gemas dengan kelakuan Disha. Untuk niat aslinya, sementara akan Aslan pendam dulu. Jika waktunya sudah tepat, ia akan langsung memberitahu Disha.
Aslan memesan dua buah jagung bakar. Sambil menunggu pesanan matang, Aslan kembali mengobrol dengan Disha. "Bagaimana hari ini? lelah sekali ya?"
"Begitulah, Mas Aslan. Tapi, aku senang. Karena, mas Hamzah akhirnya sudah resmi menikah, sekarang ...!" ucap Disha, dengan wajah bahagia.
__ADS_1
Tak berselang lama, pesanan pun datang. Segera, Aslan menerima dan membayarnya. Lalu, Aslan menyerahkan satu jagung yang sudah dingin, pada Disha. Sebelumnya, Aslan sudah meminta tolong pada penjualnya, untuk mendinginkan jagung bakar milik Disha dulu.
Disha tidak tahu, bahwa Aslan-lah yang sudah membuat jagung itu tidak panas, saat dimakan. Tapi, Aslan tidak mempermasalahkannya. Bagi Aslan, bisa melihat dan duduk makan berdua dengan Disha, itu sudah lebih dari cukup.
***
Esoknya, Disha mengundang Aslan, atas permintaan ibunya. Acara setelah pernikahan, ada unduh mantu. Yang mana nanti pengantin wanita dibawa pulang ke rumah pengantin pria. Aslan dengan senang hati, datang memenuhi undangan tersebut.
Sekitar pukul delapan pagi, acara tersebut dimulai. Ada empat rombongan mobil yang mengantar. Dua mobil, milik Hamzah dan Aslan. Dua mobil lagi, milik keluarga pengantin wanita. Rombongan itu menempuh perjalanan selama satu setengah jam lamanya.
Setelah sampai, Maryam menyambut kedatangan menantu dan besannya itu, bersama Disha. Reni bersama suami dan anaknya, juga turut hadir dalam acara unduh mantu. Karena sebelumnya, ia tak bisa menghadiri acara di rumah besan Maryam.
Semua orang ber-suka cita, dalam acara tersebut. Meryam dan Disha, tengah duduk di kursi tamu undangan bagian depan. Sementara Hamzah dan Riyani, duduk di kursi pengantin, sembari menerima ucapan selamat dari para tamu.
Sesekali, Maryam menggoda Disha, dengan menanyakan 'kapan Disha akan menikah?'. Hal itu membuat Disha merona malu, karena ada Aslan di sebelah-nya.
"Mmm, do'akan saja dulu, Bu. Supaya putri Ibu ini, bisa mendapatkan lelaki yang tidak berbeda jauh sifatnya, dengan mas Hamzah," ucap Disha.
Maryam hanya menggeleng dan tersenyum. Lalu, ia mencubit pelan pipi Disha. Hal itu membuat putrinya, meringis sakit.
"Kenapa, Disha?" tanya Aslan, dengan raut khawatir.
"Tidak apa-apa, Mas Aslan. Tadi, Ibu sedang gemas. Hehehe," jawab Disha, malu.
***
Malam harinya, Maryam minta ditemani Disha, pergi mengecek toko kue miliknya. Kebetulan, toko tersebut libur dua hari, karena ada acara penting. Aslan yang mengetahui hal itu, segera menawarkan diri untuk mengantar Maryam dan Disha.
Maryam awalnya menolak, karena merasa tak enak. "Tapi, apa Nak Aslan tidak lelah, seharian ini membantu Ibu," ujar Maryam, sambil berjalan menuju mobil Aslan.
Aslan tersenyum. "Tentu tidak, Bu. Malah, saya merasa senang. Kita berangkat sekarang?"
__ADS_1
Maryam mengangguk. Lalu, ia masuk ke mobil bersama Disha. Perjalanan menuju toko, membutuhkan waktu yang tak cukup lama.
Sesampainya di toko, ketiganya dibuat terkejut. Bagaimana tidak? toko kue milik Maryam, terlihat berantakan dari luar. Semua kaca dipecah, bahkan di dalamnya, semua kursi dan mejanya, sudah dalam keadaan terbalik dan berserakan.
Etalasenya pun, ikut dihancurkan. Bahan-bahan untuk membuat kue, terbuang ke lantai semuanya. Wajah Maryam sedih, mendapati tempat usahanya porak-poranda.
Disha merangkul sang Ibu, menenangkannya. Sesekali, Disha memutar pandangan ke setiap sudut, untuk mencari beberapa petunjuk. Hingga tatapannya tertuju pada sebuah kertas yang menempel di meja kasir.
"Mas Aslan ...!" seru Disha, yang kemudian berjalan mendekati meja kasir.
Aslan langsung menoleh pada Disha, dan mendekat. Kini, keduanya sudah berdiri bersisian, di depan meja kasir.
Maryam pun menyusul Disha dan Aslan. "Disha ... Ada apa, Nduk?" tanya Maryam, penasaran.
"Mmm ... Ti—dak apa-apa, Bu. Aku hanya salah lihat. Aku kira, ini surat peringatan dari orang yang sudah mengacau di toko Ibu."
"Terus, ternyata itu surat apa, Nduk?"
Saat Disha akan menjawab, Aslan berkata, "Bukan apa-apa, Bu. Ini hanya catatan tentang bahan-bahan kue," Aslan menjawab, mendahului Disha.
Disha menatap Aslan, dengan sorot mata yang memancarkan kelegaan. Lega, karena ia merasa terbantu oleh Aslan.
Lalu, Aslan menyimpan kertas tadi, ke saku jasnya. Disha pun kembali berjalan, memeriksa setiap kerusakan di toko.
"Bagaimana ini, Nduk? padahal, usaha Ibu 'kan sedang mulai ramai," ucap Maryam, sedih.
Hati Disha pilu, mendengar ucapan Ibunya. Disha ingin menangis, tetapi ia tahan. Karena, ia ingin memberikan semangat dan kekuatan pada sang Ibu.
"Bu ... Nanti, Disha bantu perbaiki ini sama mas Hamzah ya ...." bujuk Disha.
"Tapi, Nduk ...."
__ADS_1
Praaang ...!