
"Hai ... Tante cantik dan Om ganteng, semoga selalu bahagia ya!" ucap seorang anak kecil, yang tiba-tiba menghampiri Aslan dan Clara.
Aslan dan Clara saling tatap, dengan raut bingung, tetapi ingin tertawa juga. Lalu, Clara mengambil satu tangkai bunga mawar, yang dibawa oleh anak kecil itu.
"Adek, mawarnya dibeli sama kakak semua, boleh?" tanya Clara, membungkuk pada anak kecil itu.
Mata anak kecil itu berbinar, tak percaya dengan baru saja di dengarnya. "Kakak, benar mau borong semua mawar yang aku bawa?" anak kecil itu meminta kepastian.
Aslan ikut membungkuk, dan berkata, "Tentu saja, Adek kecil. Sini, biar Om yang bayar semuanya. Bunga-bunga ini, biar Tante cantik ini yang pegang." Aslan berkata, sambil melirik sekilas pada Clara.
"Ehm ...! ya, baiklah," sahut Clara.
"Kalau begitu, biar aku jadikan satu saja, menjadi buket bunga ya, Om ... Tante?"
"Boleh, dong ...!" jawab Aslan dan Clara kompak.
Setelah buket bunga jadi, Aslan membayarnya. Lalu, Aslan dan Clara berjalan kembali, untuk masuk ke restoran. Betapa takjubnya Clara, melihat restoran yang begitu mewah, dan pengunjungnya lumayan banyak.
"Mas, apa nggak apa-apa kalau kita memenuhi undangan makan malam ini?" tanya Clara, dengan ekspresi tanpa senyum. Bahkan, untuk berjalan pun, mendadak rasanya sangat berat.
__ADS_1
"Kok, mendadak perasaanku jadi gelisah begini ya, Mas?" keluh Clara, dengan tatapan sendu.
"Kenapa? kamu tiba-tiba merasa tak enak badan 'kah?" tanya Aslan, panik.
Clara menggeleng pelan. "Bukan, Mas. Hanya saja ... Perasaanku tak enak," ucap Clara, yang kemudian menunduk lesu.
"Tenanglah ... Ada dua bodyguard-ku yang berjaga di dalam, dan mengawasi gerak-gerik Iyan. Oke?" ucap Aslan, sembari menangkup wajah Clara.
Clara sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Aslan, tetapi hal itu juga secara tak sadar, membuat hati Clara menjadi lebih tenang. Untuk sesaat, tatapan keduanya saling bertaut. Clara dan Aslan, hanyut dalam tatapan itu.
"Khem ...! kalian sudah datang ternyata," Iyan yang baru saja keluar dari restoran untuk mengecek kedatangan tamu undangannya, merasa cemburu melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Hmm ... baiklah. Mari, silakan masuk ...!" ajak Iyan, dengan raut ramah dan tersenyum.
Bunga mawar yang tadi dibawa oleh Clara, diberikan kepada Iyan, sebagai tanda terima kasih atas undangan makan malam yang diberikan. Tangan Iyan sengaja menyentuh kulit Clara. Sontak, Clara terkejut dan refleks, langsung menarik cepat tangannya.
"Ada apa, Clara?" tanya Aslan, terheran.
Clara menggeleng cepat. "Tidak ada apa-apa, Pak Aslan."
__ADS_1
Aslan menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. "Baiklah, mari kita masuk sekarang. Suapaya kita tidak pulang terlalu larut," kata Aslan, berbisik di telinga Clara.
"Khem ...!" Iyan berdehem lebih keras.
Aslan dan Clara pun langsung berjalan masuk ke restoran. Ternyata, di meja makan yang sudah dipesan, ada Sisca, yang tengah melipat wajahnya, kesal.
"Sisca, kenapa wajahmu seperti itu, hah?" tegur Iyan, berbisik pada Sisca.
Sisca memutar bola matanya malas. "Ish! apaan sih!" kesalnya, dengan nada sinis.
Iyan merasa kesal dengan sikap Sisca, yang dinilainya seperti anak kecil. "Sisca, kamu kalau tidak bisa menghormati tamu ku, pulang saja sana!" hardik Iyan, masih dengan berbisik, tetapi penuh penekanan.
Sisca langsung menciut dan terpaksa tersenyum. Lalu, ia menyapa Aslan dan Clara. "Selamat malam, selamat datang di acara makan malam ini, Pak Aslan, dan Bu Disha," ucap Sisca, sembari berdiri.
"Terima kasih, Bu Sisca ...!" jawab Aslan dan Clara kompak, dengan mengangguk satu kali, dan tersenyum. Kemudian, Aslan dan Clara pun duduk.
Keempatnya duduk berhadapan, dengan saling tatap bergantian. Saat mata Iyan dan Ckara bertemu, ponsel Aslan berdering.
"Halo, Tuan Muda ...!" sapa seseorang dari seberang.
__ADS_1