Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 10 - Garasi


__ADS_3

...༻〇༺...


Sekujur badan Acha seketika meremang. Apalagi saat nafas Bimo berdesis begitu dekat dengan telinganya.


'Ini gila! Apa ini artinya kami berpacaran?' batin Acha. Dia sedikit tegang.


Acha menenggak salivanya. Lalu berkata, "Jadi?"


"Aku rasa semuanya sudah jelas," tanggap Bimo sembari mendekatkan wajahnya. Ia tersenyum dan menyentuh wajah Acha dengan satu tangan.


Acha ikut tersenyum. Dia dan Bimo perlahan bergerak untuk berciuman.


"Bimo! Acha!" suara panggilan Rizal terdengar. Membuat Bimo dan Acha urung berciuman.


Bimo buru-buru berdiri. "Aku hampir lupa. Ayo kita makan malam! Nanti mamahmu khawatir," katanya.


Acha lekas mengangguk. Dia dan Bimo segera pergi untuk makan malam. Sejak itu, hubungan mereka berubah.


Setelah makan malam, Acha membantu Mira beres-beres. Sementara Bimo tampak sibuk bicara di telepon.


Sepertinya pembicaraan Bimo sangat pribadi. Cowok itu sampai bicara menjauh dari Acha dan yang lain. Bahkan dari ayahnya sendiri.


Acha terpaku menatap Bimo yang masih bicara dengan ponsel. Dia bisa melihat cowok tersebut karena Bimo berdiri di depan dinding kaca.


"Dia memang sering begitu. Sok sibuk! Entah dengan siapa dia bicara," celetuk Rizal. Ternyata sejak tadi dia juga memperhatikan Bimo.


"Aku yakin dengan temannya," sahut Acha. Dia tersenyum malu karena sudah ketahuan memperhatikan kakak tirinya sendiri.


"Aku harap begitu." Rizal menatap Acha. Ia meneruskan, "Cha, Bimo akhir-akhir ini melakukan hal yang menurutku berusaha disembunyikannya dariku. Kau dan dia cukup dekat. Bisakah kau cari tahu apa yang sedang dilakukannya?"


"Benarkah? Menurutku tidak ada yang salah kok." Acha yang merasa sudah dekat dengan Bimo, melakukan pembelaan.


"Itu karena kau masih baru beberapa hari tinggal dengannya. Tapi kita lihat saja nanti. Aku harap kau benar." Rizal menyentuh pundak Acha. Kemudian beranjak ke kamar.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Mira yang baru saja datang dari dapur.

__ADS_1


"Bukan apa-apa," jawab Acha.


"Ada apa ini? Apa kau sudah dekat dengan Papah barumu?" goda Mira. "Aku harap kau dan Bimo mulai memanggil kami dengan sebutan Papah Mamah. Karena sampai sekarang, kami belum mendengarnya," tukasnya.


"Mamah... Aku butuh waktu agar terbiasa," sahut Acha seraya mendengus kasar.


"Kau cuci piringnya. Mamah mau menyelesaikan kerjaan dulu." Mira pergi meninggalkan Acha. Menyuruh sang putri menyelesaikan pekerjaannya.


Acha terpaksa menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Setelah itu, dia akan menemui Bimo. Karena ada motivasi, Acha menyelesaikan pekerjaannya dengan antusias.


Ketika sudah selesai, Acha mencari Bimo. Dia melihat cowok itu sudah tidak ada di tempat sebelumnya. Alhasil Acha memberanikan diri pergi ke kamar Bimo. Akan tetapi Bimo tetap tidak ada.


"Dia kemana?" gumam Acha. Saat itulah dia mendengar suara sepeda motor dari luar.


Acha bergegas berlari ke balkon. Dari sana dia bisa melihat Bimo pergi dengan menggunakan motor.


"Mau kemana dia malam-malam begini?" ucap Acha sambil memanyunkan mulut. Baru berpisah beberapa menit, dia sudah rindu.


Acha lantas memutuskan pergi ke kamar. Dia telentang di ranjang dan tak sengaja tertidur.


Waktu menunjukkan jam 2 dini hari. Ponsel Acha tiba-tiba berdering. Acha yang tidur, segera terbangun karena hal itu. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di bawah bantal.


Dengan malas, Acha membuka mata. Lalu memeriksa nama yang menelepon. Matanya langsung terbuka lebar saat melihat nama Bimo di sana.


"Kak Bimo!" Acha seketika duduk dan mengangkat panggilan telepon dari Bimo. Bersamaan dengan itu, dia melihat ke arah jam dinding. Betapa terkejutnya Acha saat melihat waktu masih malam.


"Cha, sorry ya telepon malam-malam begini. Tapi aku butuh bantuanmu," ujar Bimo dari seberang telepon.


"Iya. Kenapa, Kak? Kak Bimo baik-baik saja kan?" tanya Acha yang langsung cemas.


"Iya. Aku baik-baik saja. Aku ada di depan pagar rumah. Tapi pagarnya dikunci. Aku butuh bantuanmu untuk membukakannya."


"Baiklah, Kak." Acha menurut saja. Dia segera beranjak dari kamar. Lalu membukakan pintu pagar untuk Bimo.


"Thanks ya, Cha." Bimo berucap begitu sembari menyentuh lembut pipi Acha. Kemudian membawa motornya masuk ke garasi.

__ADS_1


Acha tersenyum senang. Dia bergegas menyusul Bimo setelah mengunci pagar. Kini mereka sedang berada di garasi. Bimo terlihat baru saja menutup pintu gerbang garasi.


"Kak Bimo habis dari mana?" tanya Acha.


"Biasa cowok, Cha. Nongkrong bareng teman. Kadang sampai lupa waktu," jawab Bimo seraya menghampiri Acha.


"Sampai lupain aku?" sahut Acha. Merasa perasaannya sudah mendapat lampu hijau dari Bimo, dia jadi berani berucap begitu.


Bimo terkekeh. Dia memojokkan Acha ke dinding. Bimo menopang satu tangannya ke sana. Ia dan Acha saling bertukar tatapan lekat.


Acha terpaku pada mata Bimo yan tampak merah. Namun dia tak mencurigai apapun. Dirinya hanya berpikir, mungkin saja Bimo sedang mengantuk.


"Kak Bimo kayaknya sudah ngantuk. Matanya merah begitu. Ayo kita--"


"Bagaimana mungkin aku lupain kamu? Semenjak pergi tadi kau selalu dipikiranku," potong Bimo. Menjawab pertanyaan Acha sebelumnya. Rayuannya itu sukses membuat jantung Acha berdebar-debar.


"Benarkah? La-lalu kenapa pulang malam sekali?" tukas Acha tergagap.


Bimo tak menjawab. Dia justru mencium bibir Acha. Kali ini Bimo tidak mengawalinya dengan lembut. Tetapi dengan ciuman yang menggebu-gebu.


Acha reflek memejamkan mata. Dia tak kuasa menolak ciuman Bimo. Acha terbuai. Apalagi saat tangan nakal Bimo juga sibuk menyentuh setiap jengkal lekuk tubuh Acha.


Sentuhan Bimo berhasil merangsang gadis polos seperti Acha. Cewek itu jadi ikut bermain intens. Kedua tangan Acha berpegangan tak karuan ke baju dan rambut Bimo.


Sambil terus berciuman panas, Bimo mengangkat Acha. Kedua kaki Acha otomatis mengunci erat ke pinggulnya. Suara decapan lidah mereka begitu menggebu.


Bimo berniat mendudukkan Acha ke sebuah meja. Saat dia mendudukkan gadis itu, sebuah kunci inggris terjatuh. Mengingat meja tersebut dipenuhi dengan peralatan tukang.


Acha dan Bimo berhenti berciuman sejenak. Keduanya hanya tergelak kecil. Bukannya berhenti, mereka malah kembali lanjut berciuman.


Tanpa diduga, terdengar suara derap langkah yang kian mendekat. Barulah Bimo dan Acha berhenti bercumbu. Keduanya tentu takut kalau orang yang datang adalah orang tua mereka.


Dengan cepat Bimo membawa Acha bersembunyi ke bawah meja. Kebetulan meja itu menggunakan taplak panjang sampai menyentuh lantai.


Tak lama kemudian sosok Rizal muncul dari balik pintu. Dia mengerutkan dahi ketika melihat lampu di garasi menyala. Karena biasanya lampu itu dimatikan saat tidak ada orang.

__ADS_1


__ADS_2