Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 17 - Bertemu Alandra Fatih


__ADS_3

...༻〇༺...


Acha menghela nafas panjang. Dia mencoba menenangkan diri dengan duduk ke tepi ranjang.


"Mungkin sebelum bertindak, gue harus melihat bagaimana Kak Bimo. Kalau dia semakin parah, gue nggak akan tinggal diam," gumam Acha. Dia juga merasa harus bicara dengan Rizal.


Acha tiba-tiba haus. Dia lantas pergi ke dapur untuk minum. Ketika keluar, Acha tak lupa memperhatikan ke arah kamar Bimo. Kamar itu tampak sangat sepi.


"Apa mereka lanjut lagi?" Acha penasaran. Perlahan dia melangkah mendekati kamar Bimo. Berusaha memasang telinganya baik-baik.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara motor dari luar. Acha sontak bergegas berlari ke balkon. Ia melihat Bimo pergi bersama Arlin dengan motornya.


"Dia pergi lagi. Apa Kak Bimo akan balapan liar lagi?" gumam Acha. Ia berpikir sejenak sambil mengarahkan bola mata ke kanan atas.


Acha lekas menggeleng. Dia mencoba membuang segala rasa penasarannya. Acha memilih pergi ke dapur untuk minum.


Meski berusaha keras melupakan tentang kepergian Bimo, entah kenapa rasa penasaran Acha masih kuat. Dia terus kepikiran dengan apa yang dilakukan cowok itu.


Acha awalnya berupaya mengalihkan pikirannya dengan menggambar bahkan bermain media sosial. Namun dia masih belum berhenti memikirkan Bimo.


"Gue nggak tahan lagi," keluh Acha. Ia segera berganti pakaian dan pergi menggunakan ojek online. Tujuan Acha tentu adalah tempat terakhir kali dirinya melihat Bimo balapan liar.


Sesampainya di tempat tujuan, Acha melihat ada banyak orang di jalanan. Dia jadi kesulitan mencari Bimo.


Acha pun nekat mendekat. Ia tak lupa menggunakan topi dan masker agar tidak dikenali.


Saat sudah dekat dengan sekumpulan anak-anak geng motor, kening Acha mengernyit. Ia tidak melihat Bimo ada di sana. Satu-satunya sosok tidak asing bagi Acha adalah cowok yang pernah bersaing balapan dengan Bimo tempo hari. Yaitu Alan.


'Perlukah gue bertanya? Tapi dia orang yang bertengkar dengan Kak Bimo kemarin,' batin Acha. Dia terdiam cukup lama. Sampai seorang cewek menegur.


"Hei, lo anak baru ya? Gue nggak pernah lihat sebelumnya?" tanya cewek dengan rambut ikal itu.

__ADS_1


"Em... Iya. Bisa dibilang begitu," sahut Acha berbohong. "Oh iya. Kak Bimo kok nggak ada?" tanyanya.


"Oh, Si Barakuda? Hari ini dia kayaknya nggak ke sini," jawab cewek tersebut sembari menyilangkan tangan di dada. Ia menilik Acha dari ujung kaki hingga kepala.


"Barakuda?" Acha tak mengerti.


"Semua orang memanggilnya begitu. Btw, lo siapanya? Ngapain cari dia?"


"Gu-gue--"


"Ria! Ngapain lo di sana?" ujar Alan yang tampak duduk santai di motornya. Memotong perkataan Acha.


"Ini gue ngomong sama anak baru. Kok lo belum kenalin sama yang lain?" tanya Ria.


"Hah? Anak baru?" Alan bingung.


"Iya. Ini! Tapi dia cari Barakuda!" kata Ria mengadukan.


"Gue sebaiknya pergi!" Acha sontak panik. Dia bergegas pergi dari hadapan semua orang. Namun Alan tampak masih mengikuti dari belakang.


Acha melajukan langkahnya. Hal serupa lantas dilakukan Alan.


"Hei, tunggu!" seru Alan. Dia ikut berlari saat melihat Acha lari.


Alan berhasil mengejar Acha karena lari cewek itu tidak begitu cepat. Kini Alan memegangi tangan Acha. Ia membalikkan badan gadis itu menghadap ke arahnya.


Dengan cepat Alan membuka topi Acha. Tak lupa juga masker yang digunakan cewek tersebut. Sekarang Alan bisa melihat wajah Acha sepenuhnya.


"Lo siapa? Ngapain tanya-tanya tentang Bimo sama kami? Apa Bimo sengaja mengirim lo buat jadi mata-mata?" tukas Alan berbicara serius. Ia menguatkan cengkeraman tangannya.


"Mata-mata? Enak saja! Gue adiknya Bimo!" ungkap Acha seraya melepas paksa tangan Alan.

__ADS_1


"Adik? Lo adik tirinya?" Alan sepertinya cukup tahu kehidupan pribadi Bimo.


"Iya. Gue cuman mau mastiin apakan Kak Bimo balapan liar lagi hari ini," kata Acha.


"Dia hampir setiap hari balapan. Tapi nggak selalu di sini! Karena ini wilayah geng motor Ababil. Geng motor gue!" ucap Alan dengan gaya angkuh. Seolah apa yang diucapkannya adalah sesuatu yang patut dibanggakan.


Acha tersenyum remeh. Dia menyahut, "Wilayah lo? Setahu gue jalanan ini punya pemerintah. Hal itu mengartikan kalau apa yang lo sama geng motor lo lakukan adalah ilegal." Acha mengarahkan jari telunjuknya ke dada Alan.


"Begitukah? Lo sepertinya benar-benar anak baru. Lo nggak tahu siapa gue," balas Alan.


"Itu benar. Dan gue nggak peduli!" Acha segera meninggalkan Alan.


"Apa lo nggak mau tahu dimana Bimo sekarang?" seru Alan. Membuat langkah Acha sontak terhenti.


"Gue bisa bawa lo ke tempat yang mungkin sekarang Bimo datangi," imbuh Alan.


Acha tergoda. Perlahan dia menoleh ke belakang. Alan tampak tersenyum puas.


"Gimana?" tanya Alan.


"Gue nggak akan tinggal diam kalau lo macam-macam ke gue!" ancam Acha.


Alan melambaikan tangan ke depan wajah. "Lo tenang aja. Gue bukan cowok kurang ajar seperti kakak tiri lo itu!" ujarnya.


"Tunggu di sini! Gue mau ambil motor dulu," sambung Alan sambil beranjak pergi.


..._____...


Catatan Author :


Alan ini bakalan jadi saingannya Bimo guys. Dia badboy yang suka ngebuli, tapi bukan playboy kayak Bimo.

__ADS_1


__ADS_2